Dialog Stlh Sebuah Renungan
Si anak berbalik menunduk, berjalan lunglai, berderai air mata. Ini kah warisan 
orang tuaku?......
Tapi tak lama kemudian  sianak sedikit berubah pikiran…… ia berbalik lagi 
kearah Monas lagi , menengadah dan lalu berkata : 
“Hai Nas..Nas.. Monas… tadi barusan kamu berpanjang lebar ttg dirimu sbg simbol 
ibukota negara dan ketak berdayaan kamu memberikan apa-apa lagi buat generasi 
mendatang….. Ya iyaaalah… orang namanya kamu juga hanya patung saja”…. 
“Hehe… emang ya iyya siih… hehe”…..
“Hai Nas..… tadi barusan kamu juga bilang ‘…Pemimpin kitapun yg punya ibukota 
ini, yang satu berkantor disisi Utara dan yang satu lagi berkantor di sisi 
Selatan, kini sedang berseteru ingin berebut kantor yg sebelah Utara. Terus apa 
yang bisa disiapkan?’…... emangnya semua hal harus bergantung  pada 2 orang itu 
gitu?..... “
“Hehe… Ya enggak amat-amat juga siih”……
“Nha trus kamu tadi juga bilang Nas ….‘ Sejak Bang Ali (alm), Bang Samiun, Bang 
Dul, Bang Yoso dan Bang Fauzi sepertinya semua membangun, tetapi semuanya tidak 
menunjukan perbaikan’…... Masak  iya bener gitu siih, coba situ pikir-pikir 
lagi deeh Naas…”…. 
“Hehehe…. Emang ya enggak amat-amat juga siih”…. 
“Nha terus tadi kamu bilang juga…. ‘…Para perencanapun hanya berdebat hal hal 
normatif, teori hierarki kota, RTRWN, kawasan2 strategis Nasional dan 
lainnya’……. Emangnya  apa menurut kamu mereka sebaiknya samasekali tidak usah 
berdebat saja gitu?.... alias sebaiknya mereka biar pada anteng2 saja 
gitu?....”. 
“Hehe…. Ya emang enggak amat-amat juga siih”..... 
“Ngng… trus….ngngng….”…
“Hehe .. ya nggak amat-amat juga siih”……
“Heei!..... Belum!....”
“Hehehehehe…..”… 
(Lagian ngomong2an  kok  ama patung ya?)…..
 
 
Renungan Sebelumnya :
Seorang anak menengadah menatap Monumen Nasional (Monas). Ia bertanya inikah 
simbol ibukota negara?, tinggi sekali,  apa yang kau bisa berikan kelak setelah 
aku besar nanti. Jawabnya: Tidak ada lagi nak  yang diharapkan dariku, saat ini 
diriku terdehidrasi berat, lemas badanku, terlalu banyak manusia rakus mengisap 
air dari tubuhku. Berkeringat akupun tak sempat,  dari  tahun ke tahun aku 
mengamati dari atas sini, banjir bukannya berkurang dan mereda, namun terus 
semakin meluas, bahkan yg biasa tdk banjir dan tidak mungkin banjir, sekarang 
banjir. Bangunan bersaing dengan tempat air nak. Upaya yang selama ini 
dilakukan  sepertinya hanya pelipur lara saja. Berbagai ahli telah dikerahkan 
dan seperti tahu yang perlu dikerjakan, tapi tdk bisa dikerjakan.  Saat inipun 
asmaku kumat, tidak ada lagi oksigen  yg bersih bernafas, ruang udara sudah 
terlalu jenuh terkontaminasi, tak ada sudutpun yg bersih, usaha usaha 
penghijauan itu hanya menyenang
 nyenangkan saja, sedikit artinya dibandingkan dengan penyebabnya, 1 pohon 1 
orang itu bohong nak, karena yg terjadi 1 motor 1 orang, itu yg dibutuhkan nak 
ketimbang pohon, karena tempat tinggal dgn tempat kerja jaraknya berpuluh puluh 
km.` Itulah kenapa udara tidak bisa bersih. Angkutan umum tak sanggup aku  
siapkan nak. 
Pemimpin kitapun yg punya ibukota ini, yang satu berkantor disisi Utara dan 
yang satu lagi berkantor di sisi Selatan, kini sedang berseteru ingin berebut 
kantor yg sebelah Utara. Terus apa yang bisa disiapkan?  
Sejak dari awal saya katakan, tidak ada lagi bisa saya siapkan nak, sedih 
rasanya melihat masa depanmu nak. Sejak Bang Ali (alm), Bang Samiun, Bang Dul, 
Bang Yoso dan Bang Fauzi sepertinya semua membangun, tetapi semuanya tidak 
menunjukan perbaikan. 
Para perencanapun hanya berdebat hal hal normatif, teori hierarki kota, RTRWN, 
kawasan2 strategis Nasional dan lainnya. 
Si anak berbalik menunduk, berjalan lunglai, berderai air mata. Ini kah warisan 
orang tuaku?  
Jakarta, 10 Maret 2009. Iman Soedradjat.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
 


      

Kirim email ke