--- On Fri, 3/13/09, permana yudiarso <[email protected]> wrote:

From: permana yudiarso <[email protected]>
Subject: [plbpm] Fw: [DDBelanda08] ITB Berjaya, ITB Prihatin
To: [email protected]
Date: Friday, March 13, 2009, 6:44 PM












----- Forwarded Message ----
From: Krisna Satria Gunawan <ksg_...@yahoo. co.id>
To: DDBelanda08@ yahoogroups. com
Sent: Wednesday, 11 March, 2009 11:19:46
Subject: [DDBelanda08] ITB Berjaya, ITB Prihatin


















--- Pada Sen, 2/3/09, Cardiyan HIS <cardiyan_his@ yahoo.com> menulis: 





    




ITB Berjaya, ITB Prihatin 





Oleh Cardiyan HIS 






ITB berusia tepat 50 tahun pada 2 Maret 2009. Maka peringatan kali ini bertajuk 
“Dies Emas ITB”. Pada saat meresmikan nama Institut Teknologi Bandung pada 2 
Maret 1959, Presiden RI Ir. Soekarno, menegaskan bahwa kita tidak perlu 
mendirikan institut ini kecuali untuk membangun Bangsa yang Bermartabat dan 
Berdaulat . 




“ ITB ” yang secara fisik sebenarnya berdiri sejak tahun 1920 dengan nama 
Technische Hoogeschool Bandung dan mengkhususkan diri di bidang sains, 
teknologi dan seni, sudah dengan sendirinya kontras di antara ratusan perguruan 
tinggi (PT) di Indonesia. Usia I TB yang demikian panjang sudah lebih dari 
cukup memberinya pengalaman dan harga diri yang tinggi bagi alumni dan civitas 
academica yang telah mencapai lebih dari 70.000 orang. Dua orang alumninya 
bahkan telah menjadi Presiden Republik Indonesia Pertama yakni Ir. Soekarno dan 
Presiden Republik Indonesia Ketiga yakni Prof .DR (Ing)., BJ Habibie. Dan Ir. 
Djuanda telah menjadi Perdana Menteri pula. Bahkan dari “sisi jelek” sejarah 
kenegaraan RI, dua presiden separatis Republik Maluku Selatan (RMS) dan Negara 
Pasundan juga adalah alumni ITB! 


Tak terhitung sudah berapa alumni ITB yang menduduki jabatan Menteri atau 
setingkat Menteri dalam sejarah Kabinet Republik Indonesia. “Kalau dari 
universitas lain itu dosennya jadi Menteri, kalau dari ITB cukup diwakili oleh 
‘ mahasiswanya ’ saja ! S ayang kalau dosennya harus meninggalkan kampus 
tercinta”, canda Prof .Ir. Saswinadi Sasmojo, PhD. Dalam lembaga legislatif 
ternyata banyak juga politikus alumni ITB yang cukup menonjol dalam membawakan 
aspirasi rakyat pemilihnya. Sementara di kalangan dunia usaha, para alumni ITB 
begitu impresif mendominasi pimpinan puncak perusahaan raksasa nasional maupun 
internasional, baik sebagai entrepreneur (pemilik), profesional mandiri maupun 
sebagai manajer profesional. 




ITB sebagai PT sangat diakui di dunia internasional pada berbagai fora 
pemeringkatan PT duni a. Ini karena ITB memiliki tradisi akademik tinggi, yang 
relatif terukur baik , secara terus menerus dari tahun ke tahun . D imulai 
sejak sangat kompetitifnya Selektivitas Mahasiswa ITB, yang dalam sejarah 
seleksi nasional Ujian Masuk PerguruanTinggi Negeri/Ujian Saringan Masuk PTN 
dari tahun ke tahun, para calon mahasiswa yang memilih ITB adalah 80% berada 
pada peringkat 1-2.500 dan 20% berada pada peringkat 2.501-12.500 dari 
rata-rata 450.000 peserta seleksi masuk mahasiswa. Tak mengherankan bila m 
ajalah ”AsiaWeek”, Hong Kong, pada edisi 30 Juni 2000 menempatkan ITB pada 
posisi nomor 1 (satu) di Asia Pasifik untuk kriteria Selektivitas Mahasiswa. 
Dan buahnya memang sudah mulai terpetik dengan berhasilnya para mahasiswa ITB 
memenangkan berbagai lomba karya ilmiah pada kejuaraan tingkat dunia yang 
diselenggarakan/ dibiayai oleh perusahaan kelas dunia seperti
 Microsoft Inc., ‘L ‘Oreal, Sony Ericsson, Fuji Xerox, Bayer, Samsung, Hitachi. 





Para dosen ITB dengan segala keterbatasan gaji yang diterima dan dana riset ITB 
yang sangat terbatas yakni cuma Rp. 41,9 miliar (<US$ 4 juta) per tahun 2008 , 
-----bandingkan dengan National University of Singapore belanja riset tahun 
fiskal 2007 adalah US$470,8 juta----- harus diacungi jempol pula . K arena 
hasil penelitian mereka berbasis paten telah mampu mencetak lebih dari 100 
paten nasional dan internasional dimana 4 0 paten telah siap lisensi dan 1 5 
paten telah laku dikomersialisasi. Tulisan-tulisan hasil riset para dosen ITB 
banyak dimuat di jurnal ilmiah bergengsi kelas dunia seperti “Nature”, 
“Science”, “Lancet”, “Proceedings of the National Academy of Sciences of the 
United States of America”, “Physical Review”, “American Journal of Cardiology”, 
“British Journal of Haematology”, “Advanced Materials”, “Human Genetics”, 
“Molecular Biology”, “World Development”, “Habitat”, “Urban Studies”.
 Karena berhasil dimuat di jurnal-jurnal kelas dunia, maka tulisan-tulisan 
dosen ITB dijadikan artikel rujukan (Cited Article) oleh para peneliti kelas 
dunia dengan frekwensi ribuan kali (Times Cited) . 



Reputasi Akademik Dosen ITB itulah yang dinilai oleh 6.354 Academic Peer 
Reviewer di berbagai belahan dunia, telah membawa ITB ke tangga terhormat 
pemeringkatan PT dunia versi “The Time Higher Education QS” (Inggris) 200 8 
(www.topuniversitie s.com) . ITB satu-satunya PT dari Indonesia yang masuk ”100 
Terbaik Dunia ” yakni pada posisi 90 pada area Teknologi (Engineering and 
Information Technology) . Dan peringkat 143 untuk area Natural Sciences dan 210 
untuk area Life Sciences and Biomedicine . Padahal seperti kata-kata mantan 
Rektor Imperial College London (UK), Sir Richard Sykes : “Peer Review is an 
effective way to evaluate universities. It takes smart people to recognize 
smart people” (Ibid). Academic Peer Review memang memiliki bobot kriteria 
penilaian tertinggi yakni 40% dibanding kriteria Employer Review, Faculty 
Student Ratio, Citations per Faculty, International Faculty, International 
Students . 

Sejauh Mata Memandang, Sedalam Batin Mengendap 

Dengan reputasi ITB sed emikian gemerlap ibarat sejauh mata memandang. Ternyata 
peranan ITB bagi sejarah Republik Indonesia hanya “biasa-biasa saja” . Ah , 
ibarat sedalam batin mengendap. B ahkan diduga kuat , ITB ikut pula berperan 
besar dalam keterpurukan n egara Indonesia tercinta ini menjadi n egara penuh 
skandal memalukan . S ehingga Krisis Moneter yang mengawalinya telah meningkat 
menjadi Krisis Multi Dimensi hingga sekarang ini? (Cukuplah Kampus Mencetak 
Garong, HU “Pikiran Rakyat”, 5 Maret 2007). 


Barangkali penilaian itu memang terlalu ekstrim. Sehingga akibat berita yang 
diplintir wartawan “Pikiran Rakyat” atas paper saya di acara seminar di Aula 
Timur ITB itu, saya sempat “dikeroyok” dosen-dosen ITB sebagai penilaian yang 
sangat kejam. Mungkin yang lebih “halus” atau “fair” adalah guyonan Wakil 
Presiden RI, Jusuf Kalla ketika memberikan sambutan pada Dies Emas ITB, 2 Maret 
2009 ybl; “Mengapa sejarah semua menteri pertambangan dan energi selalu 
dipegang oleh alumni ITB tetapi produksi migas terus menurun hingga sekarang 
ini? Mengapa menteri-menteri perhubungan alumni ITB tak mampu mencegah 
kemacetan lalu-lintas luar biasa di kota-kota besar dan kecelakaan terus 
meningkat? Mengapa direksi PLN yang selalu didominasi alumni ITB tak berdaya 
mencegah pemadaman listrik?”. 


Tentu, hal ini harus dijadikan bahan renungan oleh ITB dan Manusia ITB dan 
perlu dicarikan jalan keluarnya. Apalagi karena sudah semakin banyak 
suara-suara sumbang yang bernada antipati yang ditujukan kepada ITB. Baik 
terhadap ITB sebagai lembaga Pendidikan Tinggi maupun Manusia ITB. Terhadap ITB 
sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi dikeluhkan seolah-olah di Indonesia hanya 
ITB-lah yang paling baik. 


Dan tidak kurang pimpinan PT (lain) yang menjadi tambah sulit tugasnya dalam 
mengatur mahasiswa di kampusnya masing-masing karena perilaku mahasiswa ITB. 
Memang, sikap para mahasiswa ITB adalah kompak dan solid sekali. Kalau dalam 
bahasa sosiologi istilahnya: memiliki ”ingroup feeling” kuat sekali. Kekompakan 
dan ”ingroup feeling” yang kuat tentu saja positip . T etapi kalau hal itu 
membuat suatu kelompok terisolasi dari kelompok lain dalam masyarakat, apalagi 
kalau menimbulkan fanatisme dan chauvinisme sempit . M aka hal ini justru akan 
membahayakan kelompok itu sendiri. 


Terhadap Manusia ITB (baca: alumni ITB), keluhan umum yang acap terdengar 
adalah sikap yang mau mendominasi orang lain. Manusia ITB memiliki kepercayaan 
diri yang terlalu tinggi . S ehingga seringkali ”under estimate” terhadap 
lulusan kampus lain. Itulah “ke hebat an” alumni ITB yang sungguh sangat 
memalukan. “B isa merasa lebih hebat dari seorang Presiden RI, Susilo Bambang 
Yudhoyono, hanya karena lulus dari ITB ”, tulis Irsal Imran di mailist Ikatan 
Alumni ITB. S ehingga orang yang sebetulnya punya kemampuan lebih banyak “ 
tidak dibolehkan ” oleh para alumni ITB menerima gelar Doktor Honoris Causa 
dari ITB. Padahal Senat Guru Besar ITB yang memiliki kompetensi dan wewenang 
untuk itu, melalui voting telah memberikan rekomendasi kepada Rektor ITB untuk 
menindak-lanjuti pemberian gelar DHC tersebut dengan segala risikonya. 


Menurut guru besar psikologi UI, Sarlito Wirawan Sarwono ( yang sering kali 
mewawancarai psikologi dalam rangka rekrutmen calon-calon staf 
perusahaan-perusaha an kliennya ) bahkan dibandingkan dengan lulusan kampus 
luar negeri pun ---- yang seperti Manusia ITB juga memiliki kepercayaan diri 
tinggi . T etapi yang lulusan PT luar negeri sering masih menunjukkan sikap 
ragu-ragu, yang hampir-hampir tidak terdapat pada Manusia ITB (Cardiyan HIS, 
ITB dan Manusia ITB untuk Indonesia Inc., Penerbit PT . Sulaksana Watinsa 
Indonesia, Jakarta, 1991). 


Tak sedikit yang menyarankan agar ITB dan Manusia ITB dapat menjadi pendengar 
yang lebih baik. Apalagi ada menggejala timbulnya anakronisme pribadi mahasiswa 
dan atau alumni ITB yang berbau metafisika. Banyak di antara mereka yang 
menemukan diri terlempar ke medan kekaguman serta penghargaan masyarakat . T 
etapi ternyata mereka tak mampu berbuat sesuatu sesuai dengan harapan 
masyarakat. Nah lho! 



Mencetak Entrepreneur Berbasis Kampus 

Salah satu jawaban atas pertanyaan; mengapa perkembangan PT di Singapura 
demikian pesat padahal pada awal tahun 1970-an NUS, Singapura dan NTU, 
Singapura boleh dikatakan masih sejajar dengan ITB -----karena ITB yang 
memiliki jumlah dosen bergelar PhD terbanyak di Asia Tenggara ketika itu juga 
mendidik sedikitnya 600 mahasiswa asing asal Malaysia dan puluhan asal Thailand 
dan Papua New Guinea? Karena p emerintah Singapura kredibel dan sangat peduli 
pendidikan. Mereka mampu dan berani membelanjakan biaya pendidikan dengan 
melimpah ketika negaranya mulai memiliki dana cukup . D an terbukti mereka 
menikmati buahnya sekarang. Sementara pemerintah rezim Soeharto dan 
presiden-presiden berikutnya berpikir sebaliknya. 


NUS misalnya, untuk pertama kalinya pada tahun fiskal 200 7 memecahkan rekor 
belanja riset yakni sebesar US$ 470,8 juta dibanding US$ 181,0 juta pada tahun 
2001 . Belanja riset NUS ini menempatkan NUS pada posisi nomor 6 di dunia 
setelah California Institute of Technology (US$ 1.780,6 juta)), MIT (US$ 598,3 
juta), Harvard University (US$ 569,9 juta), Oxford University (527,7 juta) dan 
Kyoto University (US$ 527,5 juta) . Dengan demikian NUS mampu membayar 
dosen-dosen peneliti terbaik dari berbagai penjuru dunia untuk mau mengajar dan 
meneliti di NUS . Secara otomatis kualitas pengajaran, kualitas riset dan 
Citation Index dosen-dosen NUS terangkat dengan sendirinya. Sehingga tak 
mengherankan berbagai mahasiswa asing mengincar Singapura sebagai salah satu 
tujuan pendidikan tinggi terbaik di dunia. Disinilah, Singapura memiliki 
kemampuan manajemen yang unggul sebagai ”Entrepreneur Pendidikan” . S ehingga 
mampu menjual kualitas institusi pendidikannya
 karena mereka didukung dosen-dosen terbaik di dunia yang direkrut Singapura 
dengan imbalan remunerasi yang sangat menggiurkan. 



Inkubator bisnis mahasiswa yang dikembangkan NUS sebagai cikal bakal pencetakan 
entrepreneur berbasis kampus bahkan sudah punya ”outlet” di Silicon Valley, USA 
. D ana pertamanya US$ 100.000 merupakan sumbangan para alumni NUS. Mereka 
merancang dunia pendidikan selalu berkaitan dengan dunia industri. Singapura 
dengan dana yang melimpah mendidik dan memotivasi agar para mahasiswanya kelak 
menjadi pemimpin dunia usaha . Mereka menjadi “bos” bagi para ”tukang insinyur” 
atau ”kuli-kuli tingkat tinggi” ----- kebanyakan berasal dari Indonesia, India, 
Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Filipina, Myanmar, Kamboja dsb yang memang 
memiliki talenta bagus tetapi negaranya miskin ----- yang berasal dari para p 
enerima beasiswa NUS dan NTU yang terijon untuk bekerja pada 
perusahaan-perusaha an Singapura bila lulus kelak . 


Oleh karena itu, bagi ITB yang telah mendapatkan bibit-bibit unggul mahasiswa 
memiliki kewajiban untuk memberikan nilai tambah tinggi terhadap para 
mahasiswanya , baik yang sifatnya kurikuler maupun dalam hal pengembangan soft 
skills . Tak cukup itu, ITB hendaknya bekerja sama intensif dengan para alumni 
ITB untuk mengarahkan lebih banyak mahasiswanya memahami dunia industri dengan 
menyuntikkan virus-virus entrepreneurship sedini mungkin, sejak mereka masuk 
ITB. Mereka hendaknya diberikan sebanyak mungkin proses latihan , untuk berani 
mencoba melakukan dan merealisasikan ide menjadi sesuatu karya semasa mereka di 
kampus. 


ITB jangan traumatis dengan kejadian “Orientasi Studi Mahasiswa” yang telah 
memakan dua korban dalam sejarah ITB. Ini masalah perlunya keseriusan manajemen 
ITB dalam menghadapi dinamika kemahasiswaan saja. Kasus ini tak adil bila 
dibandingkan dengan kejadian di sebuah kampus yang secara brutal telah 
melakukan kegiatan tidak beradab berupa penyiksaan secara fisik. Tak boleh 
terjadi pula “pengadilan” terhadap para aktivis kampus ITB dengan “cara 
pendekatan kekuasaan”. “Penegakan keadilan” atas mahasiswa di kampus hanya bisa 
didekati dengan pendekatan pendidikan. Biarkan proses ”trial and error” 
mahasiswa ITB pada berbagai unit aktivitas kampus ini berjalan sebagai tradisi 
menuju filosofi kerja sebuah perusahaan modern atau filosofi masyarakat modern. 
B ahwa ”usaha keras adalah bagian sangat penting dari proses penghargaan suatu 
penampilan dan kegagalan dari usaha keras yang telah dilakukan akan tetap dapat 
simpati dari organisasi”.
 Kampus dijadikan basis bagi pencetakan “Entrepreneur Baru” dan juga bagi 
sebagian alumni yang bercita-cita menjadi “Birokrat Entrepreneur”. 


Di kemudian hari, penulis sangat yakin bahwa filosofi ini akan membawa Manusia 
ITB sebagai lulusan yang di samping memiliki kecerdasan di atas rata-rata juga 
memiliki karakter kuat, bersikap berani mengambil risiko dalam mengambil 
keputusan yang inovatif atau keputusan terobosan bukan keputusan yang 
biasa-biasa saja. Dengan demikian kita akan terdidik menjadi Bangsa Pemberani 
bukan Bangsa Pengecut . Semangat inilah yang sebenarnya yang diinginkan oleh 
Bung Karno, ketika meresmikan nama ITB, agar ITB menjadi kampus pencetak 
manusia berkarakter . 


Sejarah membuktikan tentang k emampuan mengembangkan diri negara-negara 
Skandinavia (seperti Denmark, Finlandia, Norwegia, Swedia) sejak tahun 1870 dan 
begitu pula Jepang dan Korea Selatan. Keberhasilan mereka, secara garis besar 
dapat dijelaskan oleh kemajuan pendidikan dan kualitas institusi-institusi nya; 
oleh kebijakan yang berorientasi ke depan dan semangat mengangkat kompetisi. 
Orientasi ke depan akan mendorong pertumbuhan dan produktivitas. Sebab 
perbedaan produktivitas pada suatu investasi dapat membuat perbedaan 1 sampai 2 
persen terhadap tingkat pertumbuhan GNP per kapita. Hal ini dapat membantu me 
ngu bah stagnasi ekonomi ke dalam semangat untuk meningkatkan kemampuan 
entrepreneur domestik. Tak mengherankan mengapa Nokia yang dibuat oleh negara 
kecil Finlandia telah menjadi merek dengan nilai jual nomor 2 tertinggi di 
dunia setelah General Electric, AS . Begitu pula Volvo dan Ericksson yang 
buatan Swedia merupakan merek dagang yang telah
 sangat akrab di telinga kita karena memang telah lama mendunia. Dan tentu saja 
berbagai produk buatan Jepang dan Korea Selatan yang telah lama membanjiri 
pasar dan merasuki otak konsumen Indonesia. 


Saya yakin Manusia ITB akan mampu melakukan hal serupa yang telah dilakukan 
manusia-manusia Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Skandinavia, kalau 
melihat kepada potensi bakat unggul yang dimilikinya. Asalkan dalam proses 
pendidikan di ITB mereka telah diisi kompetensi keilmuannya dengan baik dari 
dosen-dosen yang baik pula. Kemudia n diperkaya oleh proses latihan di kampus 
dan di berbagai industri yang peduli dalam membentuk dan memperkuat jaringan 
Indonesia Incorporated. 




Saya berangan-angan ITB dapat menjadi lokomotif penarik di masa-masa mendatang 
untuk memperkuat jaringan canggih ”Kampus-Industri- Pemerintah” . Bagaimana 
mensinergikan segitiga emas ini secara efektif akan meningkatkan kemampuan daya 
saing Indonesia Incorporated di peta negara-negara di dunia. Bukan tidak 
mungkin ITB akan mampu menjadi kampus pencetak banyak “Entrepreneur Masa Depan” 
dan juga sebagian “Birokrat Entrepreneur”. Dalam perjalanan panjangnya 
kemudian, mereka akan semakin menyadari . B ahwa untuk membentuk Indonesia 
Incorporated yang tangguh ternyata harus didukung oleh 3 pilar utama ; y akni 
Pemanfaatan Sains dan Teknologi; Penegakan Hukum yang Adil Berwibawa dan, 
Membangun Entrepreneur Tangguh. 


Bahkan bukan tidak mungkin pula ITB bisa meniru keberhasilan MIT, yang pada 
tahun 1994 saja menurut penelitian Boston Bank yang bertajuk “MIT: The Impact 
of Innovation” , para alumni MIT telah mampu membangun 4.000 perusahaan dengan 
”sales turnover” US$232 milyar . S ehingga mereka mampu membuka kesempatan 
kerja bagi 1.100.000 orang di berbagai dunia. Pencapaian ini telah menempatkan 
MIT sama dengan kekuatan ekonomi dunia pada urutan ke 24 karena sales turnover 
- nya setara 2 kali GDP Afrika Selatan yang besarnya US$ 116 milyar ( MIT 
Graduates Have Started 4,000 Companies With 1,100,000 Jobs, $232 Billion in 
Sales in ’94 , http://web.mit. edu/newsoffice/ 1997/jobs. html ). 



Kalau MIT yang sudah demikian hebat performanya saja masih dikucuri dana 
investasi Pemerintah AS yakni 70% perolehan dana risetnya berasal dari 
Pemerintah Federal yang memberikan proyek-proyek riset dasar skala besar, 
sedangkan proyek riset lainnya berasal dari perusahaan-perusaha an industri 
multinasional dan organisasi nirlaba milik para filantropis kaya raya. Begitu 
pula Seoul National University (SNU) , Korea Selatan, kendatipun telah 
menghasilkan riset-riset kelas dunia dan berhasil dikomersialisasi , ternyata 
secara reguler masih tetap menerima kucuran dana US$ 50 juta per tahun untuk 
keperluan risetnya dari Pemerintah Korea Selatan. 



Maka sudah sepatutnya Pemerintah Indonesia juga harus memberikan perhatian yang 
lebih besar tentang masalah dana riset ini kepada ITB dan PT lainnya agar kita 
mampu berkiprah lebih jauh bagi kemajuan Bangsa Indonesia. Jangan dengan 
diberlakukannya Badan Hukum Pendidikan (BHP) bagi PT-PT di Indonesia sebagai 
cara pemerintah cuci tangan dari kewajiban mencerdaskan bangsa dan mengalihkan 
bebannya kepada masyarakat! Sebab, ujung-ujungnya yang jadi korban adalah 
anak-anak berbakat tetapi orang-tuanya miskin. Jangankan bisa diterima di PTN 
sedangkan untuk mencoba ikut seleksinya pun mereka sudah ketakutan lebih dulu 
karena berat di ongkos! 





Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger 
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 

Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!



Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!

















      

Kirim email ke