Pasar di Perbatasan RI-Timor Leste Mubazir
Pengungsi Eks Timor Timur yang menggunakannya.
Motaain, Kompas - Enam pasar bersama diperbatasan Republik Indonesia – Timor
Leste yang dibangun Pemerintah Indonesia dengan nilai miliaran rupiah kini
mubazir. Bahkan salah satunya menjadi tempat tinggal warga dan kandang kambing.
Pengamatan Kompas di Motaain-Kabupaten Belu, perbatasan RI-Timor Leste, Jumat
(13/3), pasar itu tidak dimanfaatkan sebagai pasar. Sekitar 21 los pasar
digunakan warga sekitar untuk tinggal sementara dan 13 los pasar menjadi
kandang kambing. Pasar itu dibangun dengan dana sekitar 5 miliar. Dikabupaten
Belu terdapat pasar Motaain, Motamasin, dan Turiskai. Ketiga 3 pasar ini
berbatasan dengan Bobonaro, Timor Leste.
Adapun pasar Wini, Haumeniana, dan Napan berada dikabupaten Timor Tengah Utara,
berbatasan dengan distrik Oecussi, Timor Leste.
Matias Sakiik (42) warga desa SiIawan, kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten
Belu, menuturkan, pasar Motaain dibangun sejak tahun 2003. Dari 5 gedung, salah
satunya bertingkat, dengan 35 los yang hendak disewakan. Namun gedung berlantai
2 itu ditempati warga eks pengungsi Timor Timur yang belum memiliki rumah.
Alfonso Diaz Ximenes (55) penghuni pasar, mengatakan, mereka menempati gedung
pasar itu setelah gubug yang dibangun tahun 2000, hancur diterjang banjir pada,
2009. “Kami tinggal sementara saja. Kalau pasar ini beroperasi kami pindah”.
Di Wini, ibukota kecamatan Insana, Timor Tengah Utara, yang berbatasan
langsung dengan distrik Oecussi terdapat bangunan pasar diareal 5000 ha, dengan
nilai 2 milyar rupiah.
H. Bono Usman (55) asal Bone, Sulawesi Selatan, pengusaha pertokoan dan warung
makan di Wini menyesalkan pasar itu mubazir.
Komandan Pos Pengamanan Perbatasan Motaain–Batugade Letda (Inf) Butar-Butar
mengatakan, rencananya, pasar itu dioperasikan bersamaan dengan pasar Timor
Leste yang letaknya berdampingan dengan pasar perbatasan RI dibangun. (KOR)
- - - - - - - - - - - - - - - -
Kalau disebutkan bhw pasar Motaain misalnya dibangun pada 2003, itu berarti ia
tlh hampir 6 (enam) thn lamanya nganggur tak dioperasikan….. suatu tenggang
waktu yg tak dpt dikatakan sebagai “sebentar”…..
Lagipula dari 2 tahun lalu alasannya kok itu2 terus…. Mau buka ‘barengan’
dengan pihak TimorLeste…. Sebenarnya pasar itu utk fungsi ‘pelayanan’ atau utk
fungsi 'janjian' atau fungsi apa?.......
Mengapa banyak pasar yg dibangun didaerah tertinggal dan terpencil tak dapat
dipergunakan secara optimal?...... itu sebabnya karena pemerintah (dan para
‘konsultan profesionalnya’) hanya lebih mengenal bentuk-bentuk desain ‘pasar’
sebagaimana yang ada dikota-kota besar… yang terdiri dari kios-kios kecil serta
los-los terbuka…… dan pemerintah (serta para “konsultan profesional”nya) tak
mengenal atau tak akrab dengan bentuk2 “ruko” atau “rumah toko”
(shophouse)……dimana kalau bagi orang Cina itu adalah bentuk spasial dari
kewirausahaan yang fundamental dan melegenda.....
Dengan bentuk2 "ruko" demikian para pengusaha kecil sebenarnya dapat amat
sangat tertolong dengan masalah “rumah tinggal” maupun masalah “ruang usaha”
mereka….. yg bila “terpisah” menjadi sangat repot… sedangkan bila “disatukan”
maka akan sangat memberikan keleluasaan kemudahan yg luar biasa utk mereka
dapat “tinggal” sekaligus “berusaha dikawasan yg sepi pembeli” itu dengan
dengan “cara mengoperasikan ruang usaha” yg menjadi mudah dan santai (bisa
sambil lalu dan oleh siapa saja) namun dapat dilakukan “setiap hari” (bukan
hanya 2 kali seminggu)… dan dapat dilakukan dari pagi bahkan hingga malam (dan
bukan hanya “bbrp jam” saja dipagi hari spt pd umumnya pasar dikawasan
tertinggal dan didesa2…... dan yg terpenting pembeli dapat berbelanja “kapan
saja” setiap hari dari pagi hingga malam…. tanpa harus menunggu “hari pasaran”
tiba………
Tapi after all benarkah pasar tsb mubazir?..... kenyataannya khan bisa
dimanfaatkan untuk rumah tinggal oleh eks pengungsi TimTim dan untuk kandang
kambing khan…… jadi sebenarnya ya tidak mubazir dong?......
Salam, aby