Mungkin berguna buat referensi .
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Marthin LT Sent: 16 March 2009 14:51 Subject: [Academia NTT] Barang2 Mahal di KUPANG Ini mungkin sedikit masukan/kritik, Ada beberapa hal mungkin mempengaruhi sepi nya arus bonkar muat di pelabuhan, pengaruhnya juga dengan tingkat perkembangan ekonomin secara luas di NTT, Tapi ini mungkin salah satunya, yaitu TINGGI BIAYA PENGIRIMAN, buat kawan2 yg jago dalam hal masalah ekonomi minta maaf kalo pendapat ini salah. Kebetulan Beta dari Kupang, bekerja di marketing barang jadi di Bandung, dan selama ini kita hanya mengirmkan Produk kita untuk KTI sampe di Bali,jadi Kupang belum sampe. Untuk menjangkau daerah lebih Timur lagi ( NTT, MALUKU DAN PAPUA), kayak susah dengan alasan karena BIAYA PENGIRIMAN YANG SANGAT MAHAL. Ini hasil dari pembicaraandengan Pengusaha yg beta temui, mengalami kesulitan utk menjual produk2 ke daerah Indonesia Timur. dengan pertimbangan biaya pengiriman yg terlalu tinggi. Tapi bukan berarti tidah ada pengusaha yg bermain di KTI. Tapi bagi para pengusaha baru atau " PEMAIN BARU" jumlahnya sedikit sekali. Sebalik Bagi " PEMAIN LAMA" ini bukan hal yg menjadi masalah. Tapi kerana sedikitnya " PEMAIN LAMA" lama akibatnya MONOPOLI harga, fasilitas dan kemudahan lainnya - akibat langsung dirasakan adalah masyakat kita sendiri. Orang bilang Barang2 di kupang mahal2 Dalam forum ini, sebagai contoh Beta pake ongkos kirim dari Bandung Ke Kefamenanu, Dengan mengunakan jasa PT POS Indonesia. Harga Paket RP 47.500 /3 KG pertama., rata2 RP 15.000/kg Jadi kalo harga bawang putih di Jawa RP 1.500/ kg kalo di jual Kefa = 2.00 +15.000.+ 3.000 (keuntungan)= RP. 20.000.000,- Jadi Bawang Putih harganya di Kefa= 20.000/ kg . Bagi Pemerintah, dalam hal ini PT.POS mohon di kaji ulang mengenai Biaya Kirim ke KTI . Bagi Pemda NTT, mohon bantuan solusi bagi pengusaha2 baru yang berniat mengembangkan usaha NTT . Dari Pemda NTT, perbanyak kegiatan promosi potensi NTT di JAWA Pada tanggal 16/03/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> menulis: Dear Rekan Berikut Ini ada tulisan kompas,. cerita yang hampir sama dengan Pasar Internasional di perbatasan TL-RI yang ada di Kompas juga Pelabuhan ini di kabupaten yang sama, Belu,NTT. Relatif tidak begitu jauh dari pasar Internasional TL-RI itu.. Kalau menurut cerita beberapa orang Belu,.. sebenarnya kegiatan ekonomi di Belu lumayan menggairahkan,. Dan mereka bisa langsung membangun hubungan dengan surabaya langsung,.. thanks to this port,.. (munkin ini artinya juga Belu telah membangun hirarki baru dengan Surabaya dan dengan Kupang barangkali ya) Jadi barang2 kebutuhan kabupaten ini bis alangsung didapat dari surabaya,. karena ada beberapa pengusaha mempunyai kapal yan gmelayani khusus angkutan barngdari dan kesurabaya,.. Dan mereka ini yangmengumpulkan hasil produksi Belu dan sekitarnya (kab.TTU dan TTS juga mungkin) Dan sering juga pelabuhan ini melayani perdagaangan ke TL,.. Kapal-kapal yang tidak begitu besar dan membawa barang yang akan diperdagangakn di TL, , bisa bongkar muat di pelabuhan ini, untuk kemudian dibawa dengantruk2 ke TL... Daripada harus bongkar muat di pelabuhan timor leste,mungkin jadi lebih mahal,.. Tapi kalau kapal2 besar, seringnya bongkar muat langsung ke Timor Leste,.. Mungkin pelabuhan ini belum mampu melayani kapal2 besar,.. Sayang rupanya diberitakan sepi ya oleh Kompas,. Tapi memang seperti itu barangkali,..atau karena angin musim yang tidakbegitu bersahabat, sehingga agak slowed down,. Berikut saya attached fotonya deh,. -------------------------------------- Aktivitas di Pelabuhan Internasional Atapupu Sepi / JUMAT, 13 MARET 2009 | 09:00 WIB Laporan wartawan KOMPAS Kornelis Kewa Ama Khayam ATAPUPU, KOMPAS.com - Aktivitas kegiatan bongkar muat di pelabuhan internasional Atapupu, Belu, Nusa Tenggara Timur, sangat sepi. Hanya ada satu unit kontainer parkir di depan pelabuhan. Pengamatan Kompas di Atapupu, Jumat (13/3), hanya ada beberapa nelayan setempat yang sedang membuang jala mencari ikan di pelabuhan itu. Maksi Bria, seorang nelayan yang tinggal di depan pelabuhan itu, mengatakan, dirinya seorang tenaga kerja bongkar muat. Namun, kegiatan itu tidak dikerjakan secara rutin setiap hari. "Kalau ada kapal yang sandar baru kami kerja. Jumlah tenaga kerja bongkar muat di pelabuhan ini pun hanya sekitar 25 orang. Itu pun kami kerja tidak rutin," kata Bria. Dalam satu bulan, kata Bria, hanya 3-4 kapal barang yang sandar di pelabuhan itu. Rata-rata kapal-kapal itu datang dari Surabaya membawa bahan pokok, bahan bangunan, elektronik, dan barang dagangan lain milik pedagang setempat. Jarak pelabuhan Atapupu dari Kota Atambua sekitar 48 km. Pelabuhan ini dibangun pada tahun 1980-an oleh pemerintahan Orde Baru untuk mengantisipasi kegiatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di kawasan timurIndonesia, khususnya Provinsi Timor Timur (sewaktu masih menjadi bagian dari RI) dan NTT. ----------------------------- Best Regards, Benedictus Dwiagus S. http://bdwiagus.blogspot.com <http://bdwiagus.blogspot.com/> http://bdwiagus.multiply.com <http://bdwiagus.multiply.com/> "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White :::... Indo-MONEV ...::: Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on monitoring and evaluation and other related development issues including development aid works, particularly in Indonesia. Join in by sending an email to: [email protected] Find also Indo-MONEV in facebook: <http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts> http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts

