2009/3/17 indra budiman syamwil [email protected] Betul Pak Eka, kalau saya tidak salah memang perekonomian Jepang sangat tergantung kepada perekonomian domestiknya, dan tergantung pada SDM sebagai penggerak ekonomi dan juga customer (internal economy). Sehingga dua pandangan dalam pembangunan perekonomian pandangan distribusi (welfare) dan pandangan pertumbuhan (melalui ekspor yang menghasilkan devisa) sering menjadi perdebatan. Sekarang kita mulai membicarakan *‘daya beli masyarakat’ *konsepnya bisa kesejahteraan (akses kepada ekonomi) atau pertumbuhan *‘internal economy’ *sebagai penciptaan deman efektif
NA: Bung Indra, menarik statement Anda soal Jepang. Tapi bukankah dulu Anda pernah menyinggung soal fenomena "hollowing out" yang umumnya terjadi di negara-negara maju. Jepang sebenarnya pernah menghadapi persoalan "hollowing out" ini, di mana produksi untuk kebutuhan domestik Jepang justru dibuat melalui "off-shore investment, termasuk investasi Jepang di Indonesia. Fenomena "hollowing out" ini tercermin dari kekuatiran makin tingginya tingkat pengangguran di Jepang, karena produk-produk lebih banyak dibuat di luar Jepang. Apakah memang Jepang tidak lagi mengalami fenomena "bola besar yang isinya (kegitan domestik) banyak rongga-rongga kosong? Senang sekali dengar pandangan Anda dan rekan-rekan di milis. Salam hangat. Nuzul Achjar

