Pak Nuzul, Hollowing out memang memberikan dampak kepada perekonomian domestik Jepang, dan ini akibat dari situasi bubble (menggelembung), kemajuan yang inflationary. Rekayasa gelombang industri baru dilakukan untuk menggantikan kekosongan tersebut, melalui kampanye structural adjustment. Insentif serta R&D dari pemerintah dan universitas serta swastanya mendorong investasi swasta yang baru, sehingga job tercipta lagi dan deman terjaga. Sungguhpun demikian gelombang baru membutuhkan tipologi tenaga kerja yang baru, banyak orang Jepang tidak bisa serta merta masuk ke dalam industri baru ini, karena menyangkut teknologi tinggi, sungguhpun sistem ‘kanban’ mengandung sistem belajar dalam grup kerja. Barangkali menarik juga melihat skema distribusi job melalui ‘arbaito’ (part-time job) di Jepang yang menjadi bantalan pengangguran serta perkembangan UKM-UKM nya. Skema lain membuat tied investment di dunia ke tiga mamanfaatkan tenaga kerja Jepang. Kalau dilihat sejarahnya politik di Jepang cukup volatile sehingga pemerintah selalu dituntut kreatif menciptakan yang baru. Salam hangat Pak Nuzul
To: [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 18 Mar 2009 12:12:03 +0700 Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto: to rekan Indra 2009/3/17 indra budiman syamwil [email protected] Betul Pak Eka, kalau saya tidak salah memang perekonomian Jepang sangat tergantung kepada perekonomian domestiknya, dan tergantung pada SDM sebagai penggerak ekonomi dan juga customer (internal economy). Sehingga dua pandangan dalam pembangunan perekonomian pandangan distribusi (welfare) dan pandangan pertumbuhan (melalui ekspor yang menghasilkan devisa) sering menjadi perdebatan. Sekarang kita mulai membicarakan ‘daya beli masyarakat’ konsepnya bisa kesejahteraan (akses kepada ekonomi) atau pertumbuhan ‘internal economy’ sebagai penciptaan deman efektif NA: Bung Indra, menarik statement Anda soal Jepang. Tapi bukankah dulu Anda pernah menyinggung soal fenomena "hollowing out" yang umumnya terjadi di negara-negara maju. Jepang sebenarnya pernah menghadapi persoalan "hollowing out" ini, di mana produksi untuk kebutuhan domestik Jepang justru dibuat melalui "off-shore investment, termasuk investasi Jepang di Indonesia. Fenomena "hollowing out" ini tercermin dari kekuatiran makin tingginya tingkat pengangguran di Jepang, karena produk-produk lebih banyak dibuat di luar Jepang. Apakah memang Jepang tidak lagi mengalami fenomena "bola besar yang isinya (kegitan domestik) banyak rongga-rongga kosong? Senang sekali dengar pandangan Anda dan rekan-rekan di milis. Salam hangat. Nuzul Achjar _________________________________________________________________ Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly. http://www.get.live.com/wl/all

