Bang Hot dapil berapa? Kelihatannya belum dimasukkan program khusus
untuk DKI. Semoga sukses.

-ekadj


--- In [email protected], hotasi simamora <hotasisimam...@...>
wrote:
>
> Behermawan yth, saya merasa bahwa kodrat sebagai manusia mewajibkan
kita untuk berbagi dengan sesama. Namun, apa yang saya lakukan selama
ini sangat 2 terbatas, padahal sebenarnya kita dapat berbuat lebih
banyak lagi. Kenapa tidak dicoba, karena sesungguhnya, menjadi anggota
Dewan, banyak hal dapat kita lakukan untuk kepentingan masyarakat
banyak. Disini coba saya sampaikan sekedar profil saya. Tks
>
>
>
>
> ________________________________
> From: "beherma...@..." beherma...@...
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, March 17, 2009 18:48:45
> Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo
Subianto
>
>
> Pak hotasi yth, berkenankah bpk berbagi apa kira2 motivasi bapak
menjadi caleg dgn memperhatikan realitas yg tdk bs dihindari
tsb?kebetulan sy org jaktim.sy mengamati realitas yg bpk sampaikan
memang berulang kali sy baca n dengar, meskipun negara scr perlahan
membuatnya semakin sulit.
> Salam
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ________________________________
> From: hotasi simamora
> Date: Tue, 17 Mar 2009 12:18:36 -0700 (PDT)
> To: refere...@yahoogrou ps.com>
> Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo
Subianto
>
> Rasanya kalau kita renungkan kembali zaman orde baru, pak Harto dengan
PJP Tahap I dan II, Pelita 1 dst, rasanya kita jauh lebih mundur saat
ini. Kegagalan di era Pak Harto, rasanya bukan pada programnya, tapi
pada mentalitas manusianya.
> Kebetulan saya saat ini ikut jadi salah seorang Caleg, meski pun di
tingkat Provinsi DKI Jakarta. Pengalaman yang saya hadapi di lapangan,
mungkin bisa jadi bahan renungan untuk teman-teman.
> 1. Untuk bisa mendapatkan kursi di DPRD DKI Jakarta, harus bisa
memperoleh 60.000 pemilih. Bagaimana memperolehnya? Sebelum keluar
keputusan MK, tentunya berdasarkan nomor urut kecil. Siapakah yang masuk
ke dalam nomor urut kecil? Tentunya mereka yang dekat dengan petinggi
partai, bukan semata-mata kualitas SDM. Supaya agak pantas, tentunya
sejumlah gelar juga mereka sandang, tak peduli apakah gelar itu
diperoleh hanya dengan mengikuti biaya pengganti wisuda.
> 2. Untunglah ada keputusan MK, sehingga setiap orang berlomba-lomba
untuk mendekatkan diri dengan konstituen.
> 3. Sebagai orang yang berasal dari Tapanuli, tentunya pikiran saya
pertama-tama melakukan pendekatan dengan masyarakat Tapanuli. Ternyata
pikiran itu juga dilakukan oleh 127 caleg DPRD yang berasal dari
Tapanuli dengan Dapil Jakarta TImur. Untuk menerobos masuk ke kelompok
komunitas, berbagai tantangan kita temukan, terutama dari "Penjaga
Pintu" yang menawarkan "Supaya Anda bisa mulus, yang bantulah uang
konsumsi, kemudian berikan pula uang kas untuk komunitas itu.
Syukur-syukur bisa berikan bantuan peralatan, dsb, dsbnya."
> 4. Beberapa kali saya coba sampaikan, apakah tidak boleh saya ketemu,
kemudian menawarkan program partai dan visi-misi saya bila duduk sebagai
Dewan? Jawabannya sudah pasti dapat Anda tebak, kegagalan yang akan kita
temukan.
> 5. Ketika kita masuk komunitas lainnya, ternyata sama saja. Adalah
yang minta kerudung, bantuan alat-alat kesenian, dan sebagainya, dan
sebagainya.
> 6. Beberapa caleg yang mencoba mengikuti kemauan masyarakat, rata-rata
sudah menghabiskan anggaran di atas Rp 1 Milyar. Dan saya perkirakan,
ditambah dengan atribut seperti baliho, kalender, kartu nama, sticker,
sticker mobil, dangdutan, tim sukses, iklan di surat kabar, seorang
caleg DPRD akan menghabiskan dana di atas Rp 2 M.
> 7. Untuk DPR RI bagaimana? Saya perhitungkan, mengingat tingkat
persaingan di satu Dapil jauh lebih berat daripada DPRD, akan
menghabiskan dana di atas Rp 5 M. Apabila orang-orang seperti ini duduk
jadi anggota DPR, apakah akan serius dengan berbagai program yang ada
untuk rakyat? Saya ragu. Pasti setiap bangun pagi, yang dipikirkan
"Siapa yang akan kumakan hari ini, supaya uang yang Rp 5 Milyar bisa
kembali menjadi Rp 10 Milyar"
> 8. Dalam beberapa kesempatan, saya diminta oleh berbagai media untuk
dijadikan wawancara. Dengan polosnya saya tanggapi dengan senang hati.
Ternyata ujung-ujungnya biaya yang jumlahnya cukup besar.
> 9. Ada pekerjaan kita bersama yaitu bagaimana agar kita di setiap
lingkungan, mengajak masyarakat agar tidak mendorong para caleg menjadi
calon koruptor. Bila perlu kita memfasilitasi para caleg dalam pertemuan
di lingkungan kita dengan mengajak sejumlah masyarakat pemilih yang ada
di kita. Kalau ini berhasil kita lakukan, tentunya ada harapan baru
Indonesia akan lebih Jaya di masa Mendatang.
>
> Hot Asi Simamora



Kirim email ke