Milisters ysh, Kembali ke CPT (Central Place Theory/ Teori Tempat Central)…. kalau ada kritik lain yg katakan negeri kita bergunung2, padahal teori CPT itu dibuat atas asumsi spt bhw ia dianggap berlaku pada wilayah dgn bidang yg datar… tapi nyatanya kita toh punya juga wilayah2 cukup luas yg datar seperti Kalimantan, pantai utara Jawa, pantai timur Sumatra, Papua Selatan….. dan selain itu asumsi2 CPT toh tak sekadar hanya menyangkut aspek satu2nya itu saja … ialah tidak sekedar menyangkut aspek ‘bidang datar’ itu saja (mungkin Christaller kala itu ingin ekstra hati2) ….. msh ada aspek2 lain yg malah lbh penting spt ttg adanya ‘population treshold’…. ‘range of services’… kenyataan adanya ‘low order services’… dan juga ‘high order services’…… Kalau CPT juga dibuat atas asumsi bhw populasi dianggap tersebar merata….. sementara persebaran populasi kita amat sangat timpang….. bukankah kita seharusnya justru dpt memikirkan sebaliknya…. Spt a.l. ‘membuat koreksi ketak merataan persebaran populasi nasional’ kita dgn berpegang pada asumsi keteraturan ‘hirarkhi’ tsb…. spt bhw bukankah “sebaiknya kita perlu upayakan pemerataan persebaran (maupun distribusi konsentrasi2) populasi dan services” dgn hirarkhi?...... Kalau biaya transport dlm CPT diasumsikan sbg sama kesemua arah dan proporsional berdasar jaraknya….. lalu ada kritik yg katakan bahwa ”nyatanya biaya transport toh tak selalu sama kesemua arah”……. Sebenarnya bukankah justru itu dpt menjadi koreksi pula?…. Kenapa pd arah tertentu (dari sebuah pusat dan range wilayah layannya) biaya transportnya pada arah tertentu beda?.... apakah mungkin jalannya rusak atau blm dibuat jembatan, mungkin trayek angkotnya blm ada…. Yg ada baru ojek dan perahu penyeberangan saja…. dsb…… Kalau ada kritik lain lagi yg katakan bhw pada wilayah dgn populasi padat (spt pd umumnya kawasan urban) lalu “daya beli masyarakat” tidak selalu dibelanjakan pada pusat layan terdekat.. tetapi sering dibelanjakan pd kesempatan perjalanan “multipurpose” (kekantor sekalian pulangnya berbelanja disupermarket terdekat , sekalian membelikan titipan tetangga dsb)….. (Dikawasan terpencil…. Petani yg aktif bekerja diladang tak setiap hari melakukan perjalanan bahkan keluar desanya tak sbgmn orang kantoran dikota.… paling2 pada hari pasaran pak tani pergi kepasar terdekat…... yg baginya itu sudah mirip ‘mall’ serba ada)……. Sementara orang katakan.. teori bukanlah harga mati…. Tetapi ia adalah salah satu cara/ sarana asah otak………. Salam, aby

