Pak Aby ysh.,

Kalau boleh, bisakah Pak Aby menjelaskan kebijakan apa saja yg sebetulnya Pak 
Aby inginkan/usulkan terkait dgn hirarki kota di Indonesia? Juga apa tujuan yg 
hendak dicapai dari kebijakan2 tsb.? Terimakasih...

salam,

Eko.

--- On Tue, 3/24/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: (4) Ber-Pusing2 Dgn Hirarkhi Ruang/ Hirarkhi Kota
To: [email protected]
Date: Tuesday, March 24, 2009, 10:01 AM











    
            Milisters ysh, 
Kembali ke CPT (Central Place Theory/ Teori Tempat Central)…. kalau  ada kritik 
lain yg katakan negeri kita bergunung2, padahal teori CPT itu dibuat atas 
asumsi spt bhw ia dianggap berlaku pada wilayah dgn bidang yg datar… tapi 
nyatanya kita toh punya juga wilayah2 cukup luas yg datar seperti Kalimantan, 
pantai utara Jawa, pantai timur Sumatra, Papua Selatan….. dan selain itu 
asumsi2 CPT toh tak sekadar hanya  menyangkut aspek  satu2nya itu saja … ialah 
tidak sekedar menyangkut  aspek ‘bidang datar’ itu saja (mungkin Christaller 
kala itu ingin ekstra
 hati2) ….. msh ada aspek2 lain yg  malah lbh penting spt ttg adanya 
‘population treshold’…. ‘range of services’… kenyataan adanya ‘low order 
services’… dan juga ‘high order services’……  
Kalau CPT juga dibuat atas asumsi bhw  populasi dianggap tersebar merata….. 
sementara persebaran populasi kita amat sangat timpang….. bukankah kita 
seharusnya  justru dpt memikirkan sebaliknya…. Spt  a.l. ‘membuat koreksi ketak 
merataan persebaran populasi nasional’ kita  dgn berpegang pada asumsi 
keteraturan ‘hirarkhi’ tsb…. spt bhw  bukankah “sebaiknya kita perlu upayakan 
pemerataan persebaran (maupun distribusi konsentrasi2) populasi dan services” 
dgn hirarkhi?... ... 
Kalau biaya transport dlm CPT diasumsikan sbg sama kesemua arah dan 
proporsional berdasar jaraknya….. lalu ada kritik yg katakan bahwa  ”nyatanya 
biaya transport toh tak selalu sama kesemua arah”…….  Sebenarnya  bukankah 
justru itu dpt menjadi koreksi pula?…. Kenapa pd arah tertentu (dari sebuah 
pusat dan range wilayah layannya) biaya transportnya pada arah tertentu 
beda?.... apakah mungkin jalannya rusak atau blm dibuat jembatan, mungkin 
trayek angkotnya blm ada…. Yg ada baru ojek dan perahu penyeberangan saja…. 
dsb…… 
Kalau ada kritik lain lagi yg katakan  bhw pada wilayah dgn populasi padat (spt 
pd umumnya kawasan urban) lalu “daya beli masyarakat” tidak selalu dibelanjakan 
pada pusat layan terdekat.. tetapi  sering dibelanjakan pd kesempatan 
perjalanan “multipurpose” (kekantor sekalian pulangnya berbelanja disupermarket 
terdekat , sekalian membelikan  titipan tetangga dsb)….. (Dikawasan 
terpencil….  Petani yg aktif bekerja diladang tak setiap hari  melakukan  
perjalanan bahkan
 keluar desanya tak sbgmn orang kantoran dikota.… paling2 pada hari pasaran pak 
tani  pergi kepasar terdekat…... yg baginya itu sudah mirip ‘mall’ serba 
ada)……. 
Sementara orang katakan.. teori bukanlah harga mati…. Tetapi ia adalah salah 
satu cara/ sarana asah otak………. 
   
Salam, aby 
 


      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke