Milisters ysh,
 Bahwa sbgn terbesar sumber penghasilan/ pendapatan  manusia dimuka bumi ini 
harus diperoleh dgn cara tunduk pada aturan mekanisme pasar…… dan dgn demikian 
juga bagian terbesar cara kehidupan/ pendapatan/ perekonomian  dari bangsa 
indonesia ini  hrs tunduk baik pada  mekanisme pasar internasional maupun 
domestik…… tetapi sayang bhw aparatur pemerintahan yg jumlahnya hanya kurang 
dari  2% (4 juta) dari total penduduk (235 juta) dan memiliki kekuasaan 
menjalankan roda pemerintahan  maupun kebijakan pembangunan pada umumnya tak 
banyak peka pd masalah itu…… justru krn kehidupan sehari2 mereka sendiri scr 
sosiologis dirasakan tak mutlak perlu hrs tunduk pada mekanisme pasar itu……
Giliran ada wapres yg berasal dari dunia usaha… pernah sering muncul ejekan 
‘itulah kalau wapresnya saudagar’……. Seolah bhw saudagar tak kan pernah bisa 
berpikir kenegarawanan dan nasionalisme (lupa bhw nabi Muhammad juga pd mulanya 
saudagar).....……
Para birokrat (yg tak miliki latar blkg kewiraswastaan) spt merasa  mempunyai 
‘sistem perekonomian’ sendiri, mrk lebih memahami perekonomian ‘khas anggaran 
pemerintah’ sampai kpd perekonomian ‘pendapatan seumur hidup melalui pensiun… 
sehingga nyaris  tak merasakan kebutuhan hubungan dgn/ kepatuhan pada mekanisme 
pasar…. hingga tak aneh bila mrk sering tak peduli pada ‘hukum’ mekanisme 
ekonomi pasar ….  sehingga tak sedikit kebijakan2 pembangunan khususnya 
engineering keruangan yg ditempuh sering tak  dirasa perlu disesuaikan  dgn 
aturan ‘hukum’ mekanisme pasar itu…… yg dlm kenyataannya banyak menjadi “hukum 
besi” yg mengatur kehidupan perekonomian (dgn demikian juga 
pendapatan/penghasilan) bagian terbesar manusia indonesia yg 235 juta jiwa 
itu……….
Kebijakan engineering keruangan  “Pro mekanisme pasar” tidak selalu harus  
berarti satu2nya model2 spt ‘pembiaran’ lalu akhirnya ‘pemutihan’ spt pada 
kasus Kemang itu…... tetapi  ada aspek lain dgn nuansa berbeda…. Spt pada kwsn 
tertinggal atau terpencil…….bhw  idealisme strategi pembangunan  (ekonomi 
sosial) disana yg pada dasarnya adlh strategi membangun “habitat manusia”…… 
bukankah ia seharusnya   sebanyak2 memperhatikan syarat habitat manusia… yg tak 
hanya fisik dan ekologik semata… namun juga a.l. butuh dan tunduk pada aturan/ 
ingin juga membangun mekanisme pasar?........dimana didalamnya terdapat juga 
hirarkhi?......
Salam,


      

Kirim email ke