Bravo Eyang....

kali ini saya sangat kagum dengan dongen eyangku....

Sungkem,

Ongkowijoyo

2009/4/1 hengky abiyoso <[email protected]>

>   Milisters ysh,
>
>  Bahwa sbgn terbesar sumber penghasilan/ pendapatan  manusia dimuka bumi
> ini harus diperoleh dgn cara tunduk pada aturan mekanisme pasar…… dan dgn
> demikian juga bagian terbesar cara kehidupan/ pendapatan/ perekonomian  dari
> bangsa indonesia ini  hrs tunduk baik pada  mekanisme pasar internasional
> maupun domestik…… tetapi sayang bhw aparatur pemerintahan yg jumlahnya hanya
> kurang dari  2% (4 juta) dari total penduduk (235 juta) dan memiliki
> kekuasaan menjalankan roda pemerintahan  maupun kebijakan pembangunan pada
> umumnya tak banyak peka pd masalah itu…… justru krn kehidupan sehari2 mereka
> sendiri scr sosiologis dirasakan tak mutlak perlu hrs tunduk pada mekanisme
> pasar itu……
>
> Giliran ada wapres yg berasal dari dunia usaha… pernah sering muncul ejekan
> ‘itulah kalau wapresnya saudagar’……. Seolah bhw saudagar tak kan pernah bisa
> berpikir kenegarawanan dan nasionalisme (lupa bhw nabi Muhammad juga pd
> mulanya saudagar).....……
>
> Para birokrat (yg tak miliki latar blkg kewiraswastaan) spt merasa  mempunyai
> ‘sistem perekonomian’ sendiri, mrk lebih memahami perekonomian ‘khas
> anggaran pemerintah’ sampai kpd perekonomian ‘pendapatan seumur hidup
> melalui pensiun… sehingga nyaris  tak merasakan kebutuhan hubungan dgn/
> kepatuhan pada mekanisme pasar…. hingga tak aneh bila mrk sering tak peduli
> pada ‘hukum’ mekanisme ekonomi pasar ….  sehingga tak sedikit kebijakan2
> pembangunan khususnya engineering keruangan yg ditempuh sering tak  dirasa
> perlu disesuaikan  dgn aturan ‘hukum’ mekanisme pasar itu…… yg dlm
> kenyataannya banyak menjadi “hukum besi” yg mengatur kehidupan perekonomian
> (dgn demikian juga pendapatan/penghasilan) bagian terbesar manusia indonesia
> yg 235 juta jiwa itu……….
>
> Kebijakan engineering keruangan  “Pro mekanisme pasar” tidak selalu harus
> berarti satu2nya model2 spt ‘pembiaran’ lalu akhirnya ‘pemutihan’ spt pada
> kasus Kemang itu…... tetapi  ada aspek lain dgn nuansa berbeda…. Spt pada
> kwsn tertinggal atau terpencil…….bhw  idealisme strategi pembangunan  (ekonomi
> sosial) disana yg pada dasarnya adlh strategi membangun “habitat manusia”……
> bukankah ia seharusnya   sebanyak2 memperhatikan syarat habitat manusia…
> yg tak hanya fisik dan ekologik semata… namun juga a.l. butuh dan tunduk
> pada aturan/ ingin juga membangun mekanisme pasar?........dimana didalamnya
> terdapat juga hirarkhi?......
>
> Salam,
>
>  
>

Kirim email ke