Pak Djarot, Pak ATA, Pak Iman dan rekans ysh, Saya kira komentar pak ATA netral, mengingatkan bahwa ada potensi dan keterbatasan alam, sos-ek, sos-bud tiap wilayah. Dan sebaiknya perencanaan mengacu ke potensi/keterbatasan itu. Planning/desain kan bisa nya mengopimalkan, tidak bisa menyulap daerah yang memang potensinya terbatas pada aspek tertentu menjadi seperti daerah yang lain, yang potensinya lebih besar. Soal kekhasan budaya, "alam dan tradisi" memang harus menjadi pertimbangan "pengembangan identitas" (keaslian/keunikan) daerah atau tanah air. Tapi kalau soal cara, teknik, pendekatan, kan boleh belajar dari bangsa lain. Tujuan pak Iman ke Nairobi kan juga mau tukar pengalaman dengan negara lain. Jadi tak harus ngotot "asli nusantara". Tapi seperti kata Pak Iman, revolusi ICT (information, communication technology) membuat TV ditonton sampai pelosok. Itu punya dampak pada "harapan" (ekspektansi) masyarakat seluruh wilayah tinggi. Padahal belum tentu daerahnya punya potensi/daya dukung untuk memenuhinya. Ini permasalahannya kan. Siapapun tak bisa menyulap daerah "tandus menjadi subur" kan. Soal corak budaya yang mesti diangkat dalam perencanaan/desain, mungkin ada sedikit beda antara planner dengan arsitek. Mungkin bangunan (arsitektur) relatif lebih sensitif terhadap budaya, dibanding planning yang walau ada unsur budayanya, tapi kebanyakan pertimbangan "fungsional" nya. Tapi soal budaya ini juga kita tidak mudah "menghakimi" atau menyalahkan planner/arsitek kan Pak Djarot. Masyarakat setempat (yang nonton TV, sekolah di kota) kan gak selalu mau di "preserve" oleh planner/arsitek untuk tetap "asli". Kalau perencanaan dilakukan "partisipatif", kan hasilnya juga tidak selalu maunya planner. Maunya stakeholder kan tidak selalu "bercorak asli daerah". Pak Djarot, kadang kita mengasumsikan bahwa "pro-rakyat", "pro budaya asli", "pro-lingkungan", "patriotik" - itu menghasilkan hal yang sama (sinkron). Ada arsitek yang satu saat nulis "arsitektur merakyat", lain kali "arsitek kolonial", lain kali "arsitektur arif lingkungan" - tapi kalau 3 artikelnya disandingkan bisa kontradiktif. Enak saja dia tiap nulis "menyalahkan pemerintah daerah", padahal pada tiga kesempatan dia sendiri menyatakan 3 pendapat yang kadang saling kontradiktif. Salam, Risfan Munir
--- On Thu, 4/2/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote: From: Djarot Purbadi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: P.Lombok sedang bangun?? To: [email protected] Date: Thursday, April 2, 2009, 3:51 PM Prof Abim yang baik, matur nuwun atas pencerahannya yang menarik. Ada pertanyaan, apakah uraian panjenengan ini dapat daya baca sebagai upaya serius membangun Indonesia yang bertumpu sungguh-sungguh pada fondasi alam dan budaya lokal ? Ya semacam tawaran paradigma "baru" yang mendampingi otonomi daerah ? Lanjutannya, apakah gerakan para planner di negeri ini sudah mengarahkan kompasnya ke ara itu atau masih wacananya yang ke arah itu sementara aksinya masih dengan paradigma lain ? Sebab ada kesan umum, kita selalu silau dengan banyak hal yang serba barat atau bule lantas melupakan-melalaika n-mengabaikan kekayaan lokal (alam dan budayanya). Para arsitek juga demikian, kalau nggak mengutip gagasan arsitek luar negeri rasanya kok seperti nggak jadi arsitek. Ini menggejala di kalangan kampus yang saya lihat. Apakah dalam dunia planning demikian juga ? Mohon pencerahan lagi ya Pak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Thu, 4/2/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] Re: P.Lombok sedang bangun?? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, April 2, 2009, 2:45 PM Mas Djarot, Mungkin keterisolasian Timor tidak dapat disamakan dengan Bali.Demikian juga dengan tetangganya Flores.Negara kita sangat kaya dengan keberagaman, juga keberagaman permasalahannya. Oleh karena itu introduksi kebijakan dan ipteks ke kawasan tersebut selain perlu mendalami kekhasan bioregionnya juga antroposistemnya. Bali memiliki bumi dan iklim yang lebih ramah daripada Timor. Juga kelembagaan kulturalnya juga lebih mantap bahkan sejak sebelum Belanda menginterfensinya. Walaupun kondisi dan suasana hari suci nyepi mereka menunjukkan bahwa kekuatan kultural kelembagaan mereka masih cukup bertahan, namun justru kerusakan semakin menjadi-jadi setelah sebagian pengatur negara ini mengutamakan kekuasaan ekonomi pasar (termasuk rekan-rekan perancang fisik kita) dalam mengintroduksi hal-hal baru ke dalamnya. Saya turut gembira bahwa akhirnya kebijakan satu pintu akan diterapkan untuk berbagai incaran investasi ke kawasan ini. Dengan demikian lembaga adat setempat tidak lagi diperlakukan sekuler dari bagian kehidupan kepemerintahan mereka. Ragam budaya dan kekuatan tradisi komunitas-komunitas di Flores juga berbeda dengan di Timor, walaupun keduanya sama-sama merupakan bagian dari Nusa Tenggara Timur. Walaupun di dalam satu pulau atau bersama gugus pulau mikro di sekitarnya, Flores memiliki beragam kultur lokal yang walaupun berada di dalam satu pulau namun memiliki bioregion yang agak saling terosolasi. Terdapat daerah yang cukup subur, hijau dan sejuk maupun yang agak gersang. Terdapat kawasan alam yang potensial untuk mengaggumi keindahan alam (bekas kawah ditengah pegunungan yang kadang berkabut tebal) maupun kekayaan budaya lokal (berbagai arsitektur etnik/tradisi lokal) Pencapaian lokasi antar sub-region setempat tidak semudah di Bali atau Timor, karena struktur permukaan bumi yang begitu berliku-liku dan melelahkan. Namun kondisi tersebut justru membuat kekuatan tersendiri bagi penikmatan suasan lokal masing-asing sub-region. Kondisi, religi dan kekayaan setiap kultur lokal juga cukup beragam. Bahkan corak produk rumahan mereka juga berciri khas antar tempat (tenunan yang berbeda corak dan warna antar tempat). Mereka juga memiliki tradisi kumpul keluarga besar per desa untuk merayakan hari besar bersama walau telah merantau jauh keluar pulau mereka dengan acara yang cukup meriah dan suasana khas setempat. Tentu pemberdayaan untuk peningkatan kualitas hidup komunitas setempat dan lingkungan hidupnya menuntut pendekatan yang sangat berbeda dengan Bali ataupun Timor. Menurut teman-teman setempat, Timor memiliki empat warna musim: hijau, kuning, coklat dan hitam. Musim daun bersemi saat musim hujan turun, saat air hujan mulai berkurang, saat daun-daun mulai meranggas waktu masuk musim panas, serta akibat kebakaran pada saat panas memuncak. Berbeda dengan Flores, apalagi Bali, pada musim kering, kita hanya menikmati tanah kering dan debu saat melintasi bukit-bukit setempat untuk mencapai pantai di balik gunung setempat. Terdapat beberapa suasana hijau hutan bakau di beberapa kawasan pantai setempat atau hutan di sekitar genangan tampungan air hujan di dataran lebih rendah. Bahkan air tawar dapat diperoleh diperairan pantai di beberapa kawasan pesisir setempat. Namun kekhasan kultur setempat tidak seberagam Flores atau semantap kelembagaan di Bali. Perbedaan kultur dan religi antara komunitas darat setempat dengan komunitas laut yang umumnya dari Bugis belum cukup melahirkan kekhasan kultural yang cukup khas dan mantap untuk menjadi tuan di pulau-laut sendiri. Kekayaan kultur lokal masa lalu banyak tergerus oleh budaya kota yang lebih cepat membawa persaingan individual daripada peningkatan kualitas kesejahteraan manusia dan alamnya, termasuk kultur setempat. Sementara itu dulu sekilas catatan perjalanan yang pernah tercatat dalam sesobek kertasku.... Salam, ATA 2009/4/2 Hasbunalloh Wa Ni'mal Wakil <hasbunalloh@ yahoo.co. id> Mau ikutan yaa. Saya jadi ingat waktu saya ke Nias. Kondisinya juga mirip dengan Timor : terisolir. Untungnya Nias punya pariwisata. Lalu saya terbayang pulau-pulau lain di barat laut P. Sumatera yang menghadap ke Samudera Hindia. Barangkali juga P. Sumba, pulau di selatan Papua (di Laut Arafuru), di Maluku Selatan. Kayaknya banyak bagian negara kita yang "terisolir" dan akibatnya tertahan terus dalam keterbelakang. Apa yakh yang kita bisa perbuat. Yakh, katanya kita ada pendekatan "kawasan strategis perbatasan", katanya mereka sudah menjadi bagian dalam rencana struktur/pola ruang nasional (RTRWN), dst, dst. Tapi kapan dan bagaimana yaaa agar kesejahteraan menetes (lebih baik lagi kalau bisa mengalir deras) ke sana ? Sekedar perenungan. Fitri I. W. --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Mas Dwi, saya merenungkan sejenak tentang keterpencilan Timor dari arus lalu > lintas fisik dengan bagian Indonesia yang lain. Saya merasa prihatin, tetapi > kok melihat ada berkah tersembunyi. Kita ingat, dulu pulau Bali pernah > diisolasi oleh Belanda supaya penetrasi budaya dari luar nggak masuk dan > mempengaruhi (kalau nggak salah begitu). Sekarang kita melihat Bali yang > begitu kuat karakternya. > > Apakah keterpencilan fisik ini juga akan membuat Timor memiliki karakter kuat > juga seperti Bali. Jika kita menggunakan kacamata ilmu sosial tentu akan > mengatakan TIDAK, sebab Timor tidak sama persis dengan Bali dan peristiwa > Bali adalah einmalig alias sekali terjadi. > > Saya kebetulan saja menemukan desa Kaenbaun yang menurut saya masih otentik > dan taat dengan adat mereka, bahkan kata Kaenbaun artinya adalah TAAT ADAT > LELUHUR. Menurut saya, minimal keterpencilan itu sedikit menghambat perubahan > budaya yang ada di Timor, meskipun tanda-tanda adaptasi ya terus ditemukan > semakin banyak. Minimal ada harapan, menggunakan pengalaman di bagian lain > Indonesia untuk membangun Timor dan sekitarnya menjadi lebih baik secara > cermat, berbasis budaya lokal. > > Apakah ini berkah atau bukan ya ???? > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Wed, 4/1/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...> wrote: > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...> > Subject: [referensi] P.Lombok sedang bangun?? > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Wednesday, April 1, 2009, 12:18 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Wah,… P.Lombok dibangun,…. Nunggu bandara > internasional, tahun ini…. > >  > > Mungkin nanti bergulir ke timur,.. ke flores dan timor?? > > Mudah2an…. > >  > > Woiya, > > Rekan-rekan PU katanya lagi ada hajatan besar di Mataram ya,… > semoga sukses ya,… > >  > > ------------ --------- > >  > > Wapres: Mei, Kawasan Wisata Lombok > Dibangun > > MINGGU, 29 MARET 2009 | 10:44 WIB > > MATARAM, KOMPAS.com â€" Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan agar > pembangunan > fisik kawasan wisata Lombok dilakukan pada Mei 2009. "Akhir April masalah > administrasi selesai dan Mei pembangunan fisik (kawasan wisata Lombok) harus > dimulai," kata Wapres seusai rapat infrastruktur di Bandara Selaparang, > Lombok, NTB, Minggu (29/3). > > Secara khusus, Wapres sudah tiga > kali datang ke Lombok untuk mengecek proyek pembangunan kawasan wisata di > daerah > itu, termasuk Bandara Internasional Lombok (BIL). > > Dalam rapat tersebut juga diikuti > Menhub Jusman Safeii Djamal, Menneg BUMN Sofyan Djalil, Kepala BPN Joyo > Winoto, > Dirut PT PLN Fachmi Muchtar, Dirjen Bina Marga Hermanto Dardak, Dirut PT > Angkasa Pura I Bambang Darwoto, serta Gubernur NTT Tuan Guru Muhammad Zainal > Majdi. > > Di depan peserta rapat, Wapres > menanyakan beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya soal pengadaan tanah > yang belum beres. "Yang ada masalah administrasi saja, soal PPN tanah > akhir April selesai," kata Wapres. > > Saat rapat Wapres bahkan langsung > menelepon Mensesneg Hatta Rajasa dan Menkeu Sri Mulyani untuk mengecek soal PP > Nilai tanah tersebut. Kepada Menkeu, Wapres meminta agar segera diselesaikan > dan dapat ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum berangkat > ke > pertemuan G-20 di London. > > Wapres menjelaskan bahwa lahan > yang diperlukan untuk pembangunan lokasi wisata Lombok merupakan milik BUMN. > Berdasarkan UU untuk penggunaan lahan milik BUMN yang nilainya di atas Rp 100 > miliar harus mendapatkan persetujuan DPR. "Nah DPR sudah menyetujui, jadi > tinggal masalah administrasi saja," kata Wapres. > > Selain lokasi wisata, Wapres juga > mengecek perkembangan pembangunan BIL di Lombok Tengah. Pembangunan BIL untuk > menunjang kawasan wisata yang akan dibangun dengan investor EMAAR dari Timur > Tengah. > > Untuk BIL dilaporkan telah > dilakukan pembangunan landasan pacu 70 persen. Sementara pembangunan fisik > terminal baru 40 persen dan target penyelesaian BIL dapat dilakukan akhir > tahun > 2009 ini. > >  > > Bandara Internasional Lombok Selesai > Oktober 2009 > > / > > > > MINGGU, 29 MARET 2009 | 15:58 WIB > > MATARAM, KOMPAS.com - Pembangunan Bandara Internasional Lombok di Desa Tana > Awu, > Kecamatan Penujak, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) > ditargetkan akan selesai pada Oktober 2009. Hal itu disampaikan dalam rapat > terbatas antara Wakil Presiden, Jusuf Kalla bersama dengan para Menteri > Perhubungan Jusman Syafeii Djamal dan Menteri BUMN Sofyan Djalil di Mataram, > Minggu (29/3). > > Dalam rapat koordinasi itu, > Wapres menekankan pentingnya perampungan BIL beserta fasilitas pendukungnya > dan > berbagai dukungan terhadap rencana investasi perusahaan Dubai Emaar Properties > LLC di Lombok Tengah itu, sesuai jadwal. Diharapkan dengan selesainya Bandara > tersebut dibangun, selesai pula pengembangan kawasan wisata di sana. > > Usai koordinasi, Menteri Negara > (Meneg) BUMN Sofyan Jalil, dan Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafei > Djamal meninjau langsung ke lokasi pembangunan bandara. Saat meninjau lokasi > pembangunan BIL itu, Meneg BUMN dan Menhub didampingi Kepala BPN Joyo Winoto, > Dirut PT PLN Fachmi Muchtar, Dirjen Bina Marga, Hermanto Dardak, dan Dirut PT > Angkasa > Pura I, Bambang Darwoto. Gubernur NTB, KH. M. Zainul Majdi beserta sejumlah > pejabat pemerintah daerah juga ikut mendampingi. > > Meneg BUMN dan Menhub beserta > rombongan melihat dari dekat proses pembangunan BIL seperti landasan pacu > (runway) dan terminal bandara, apron dan "taxiway" serta fasilitas > penunjang lainnya. Saat peninjauan lapangan itu, pembangunan landasan pacu > sudah terealisasi 69,91 persen, apron, dan "taxiway" serta fasilitas > penunjangnya sudah 97,59 persen. Sementara terminal penumpang dan fasilitas > penunjangnya sudah terealisasi 35,23 persen dan pekerjaan area parkir dan > fasilitas penunjangnya mencapai 28 persen. > > Menurut Site Manager BIL PT > Angkasa Pura I Marsidi, bandara tersebut lebih luas tiga kali lipat dari > bandara yang ada saat ini menjadi seluas Bandara Internasional Adisumarmo > Solo. > Kawasan bandara internasional itu seluas 551 hektare atau dua kali luasan > kawasan Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. > > Panjang runway 2750 meter dan > lebar 45 meter pada tahap pertama diproyeksikan dapat menampung 1 juta > wisatawan setahun dan mampu didarati pesawat badan lebar Boeing 747. Landasan > pacu itu didesain dengan ketebalan 142 sentimeter, teridiri dari lapisan pasir > batu setinggi 85 sentimeter, lapisan batu pecah setinggi 45 setimeter, dan > aspal hotmix tiga lapisan setinggi 12 sentimeter. > > Pembangunan BIL dengan dukungan > dana sebesar Rp802 miliar itu ditargetkan rampung akhir tahun 2009 agar dapat > digunakan pada awal tahun 2010. Landasan pacu itu dikerjakan PT Hutama Karya > (BUMN), terminal dikerjakan PT Slipi Raya Utama, apron, "taxiway" dan > fasilitas penunjangnya dikerjakan kontraktor yang ditunjuk Pemerintah Provinsi > NTB. Sementara areal parkir, jalan lingkungan dan fasilitas penunjangnya akan > dikerjakan oleh kontraktor yang ditunjuk Pemerintah Kabupaten Lombok > Tengah.(Persda) > >  > >  > > Regards, > >  dwiagus > > http://bdwiagus. blogspot. com > > http://bdwiagus. multiply. com > >  > > "The most difficult thing in the world is to know how to do > a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. > H. White > >  > > :::... Indo-MONEV ...::: > > Indo-MONEV > is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere in the > world > who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on monitoring > and evaluation and other related development issues including development > aid works, particularly in Indonesia. > > Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com > > > Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. > php?gid=34091848 127&ref=ts > >  >

