Milister ysh, 
Seorang teman bertutur…..  “saya dengar….. perencanaan sistem kota kita (RTRWN) 
itu katanya mengikuti model perencanaan yg diajukan Friedmann utk Venezuela” 
(wah, saya rakyat mana tahu, paling tahu juga kalau dpt bocoran saja…. lalu  
saya pikir berarti mengambil model Ciudad Guayana brkali?)….... 
Teman saya ini berargumen : “Masalahnya adalah... Friedmann menggunakan ukuran 
kota eksisting dan prediksi pertumbuhannya utk menetapkan orde kota.. orde ini 
kemudian menjadi arahan investasi publik dlm konteks pusat pelayanan 
regional/nasional...dia mengakui bahwa ini bias yg menguntungkan kota2 besar 
eksisting, tetapi berargumen bahwa kota2 besar eksisting memang punya daya 
tarik lebih dlm menarik investasi... sehingga wajar kalau mereka diharapkan 
tumbuh karena memang cenderung tumbuh”…... 
Lalu lanjutnya….  “TETAPI...Pertama, dia tidak menentukan jumlah penduduk 
setiap orde... dia hanya mengestimasi jumlah penduduk di kota2 di masing2 orde 
sampai akhir tahun perencanaan... makanya ada kota2 orde 1 yg diestimasi 
penduduknya akan berada di bawah kota2 orde 2 karena yg orde 2 ini 
pertumbuhannya lebih pesat...diestimasi, bukan ditentukan.”………. 
Lalu lanjutnya lagi…. “Ini yg saya lihat sering menjadi kesalahpahaman mereka 
dgn merencanakan/menentukan jumlah penduduk kota2…....omong kosong (maaf, itu 
kata dia), tdk mungkin kita merencanakan jumlah penduduk sebuah kota kecuali di 
negara komunis autoritarian seperti sovyet dulu...... itu karenanya sy juga 
menentang konsep yg hendak mengembangkan kota2 kecil atau desa2 menjadi kota2 
menengah berbasis population size.....dst.”…..…. 
Lanjutnya lagi …… “Mengapa kita begitu terpaku pd sebuah model perencanaan yg 
belum terbukti atau belum dievaluasi? Yg jelas model organisasi spasial 
Friedmann yg dikaitkan dgn stage of growth di buku yg sama sudah terbukti bukan 
sebuah general theory...... di dunia banyak model2 perencanaan 
nasional/regional, US malah tdk punya perencanaan ruang nasional... Prancis 
hanya menetapkan 8 kota metropolitan penyeimbang, tidak ada orde2 kota”....... 
Saya paling tertarik ketika ia bertanya ….. “Mengapa kita tidak mencoba 
menganalisa kebutuhan kita sendiri?”......... 
Saya pikir iya ya…… kok kita ini spt tidak pede amat ya kalau giliran hrs 
menganalisis meneropong  kebutuhan kita sendiri?........ 
Tapi memang ya nggak salah juga sih kalau giliran kita menganalisis kebutuhan 
kita sendiri  lalu kita tengok pengalaman2 mereka……… 
Taruhlah benar…… Ciudad Guayana itu mau dijadikan inspirasi……. Tapi yg penting 
khan bgmn kita mengambil pelajaran yg tepat dari berbagai aspek yg berkembang 
disana…..Jangan sampai keliru mengambil aspek pelajaran yg nggak tepat..… 
ibarat dari tari perut……  kita mau ambil aspek ‘olahraganya’ atau ‘aspek 
sensualnya’(atau mau dua2nya)?.......budayanya?....... 
Kalau Ciudad Guayana  itu ingin dijadikan model utk Indonesia.... Satu hal yg 
brngkali penting utk dipertimbangkan/ garis bawahi  adlh  saya kira bukan pada 
aspek umum "pengembangan sistem (orde) kota2 scr nasonalnya"..... tapi saya 
kira justru lbh pada aspek "countermagnet city to Caracas"nya.... krn Venezuela 
dgn hanya 28 juta penduduk dan merupakan "negara daratan" saya pikir samasekali 
bukan menjadi “guru les privat" yg luar biasa bagi  Indonesia....... krn 
problem kita (utamanya migrasi nyebrang laut ke KTI, utk kendorkan tekanan 100 
juta penduduk di Jawa, maupun utk kembangkan sda diluar Jawa) blm pernah ada 
duanya didunia.... 
Satu  hal lagi dari Guayana City  yg jaraknya (didaratan yg sama)  ‘hanya 
kurang dari 1000km’ dari Caracas City itu... ia berhasil menarik migrasi 
bukankah lbh krn latar belakang sbg 'pusat nasional' manufakturnya?.... dimana 
sejak 1952 telah menjadi kantor pusat dari Orinoco Mining Company…..whereas 
this city lodges the iron and aluminum industry which in Venezuela, is second 
only to the oil industry?.......
Guayana saya kira lbh merupakan "satu langkah taktis tapi focused dan  
riil"..... sementara itu RTRWN spt yg sudah2 (SNPPTR dsb)..... selalu 
"merencanakan secara umum   utk 'perkembangan dimana2' (contrary to 
Perroux)"... yg spt dpt kita tebak hasilnya..... wong duwitnya nggak ada dan 
blm jelas yg mau inves dimana2 itu siapa.....ya makanya  gitu lagi gitu 
lagi.... nggak ada perubahan.... 
Saya pikir bukankah "migrasi, kelas menengah  dan manufaktur" sebagai  
3-in-1-nya motor pembangunan dan tata ruang wilayah.... serta "satu langkah 
taktis tapi focused dan  riil"  ……dpt menjadi tekad baru agar tak seperti yg 
sudah2…… tak pernah banyak hasil?....... 
Maka kalau mau kembangkan kota2 di KTI misalnya…… saya pikir akan sia2lah kalau 
tak  pertama2 kembangkan dulu   countermagnet city di KTI misalnya….. tempat 
dimana masih ada peluang utk kembangkan manufaktur dan menarik migrasi kerah 
putih……….   
Salam,


      

Kirim email ke