Pak Risfan dkk ysh.

Ikut nimbrung sedikit. Saya simpulkan sementara waktu analisisnya : ...
angin segar ...!

Salam,

-ekadj


--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Mas Fajar,
>
> Ada keinginan, ada analisis fakta. Kenyataannya pressiden dipilih
langsung oleh rakyat.
> Yang diperlukan SBY dari Pemilu legislatif kan tiket (20 persen) bagi
PD, dengan itu dia bisa nyalon.
>
> Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Dan, siapa sih yang bisa menolak
untuk milih seorang Wrekudoro (Bima) yang tinggi besar cakep itu.
Bukankah raja di dongeng-dongeng ya seperti itu. Kita juga bisa menduga,
yang bikin PD banyak dipilih juga dia.
>
> Jadi, koalisi-koalisi itu kok aneh. Wong yang milih rakyat. Dengan
tiket (PD) di kantong + fakta elektabilitas tertinggi, bola ditangan
SBY.
> Koalisi minimal dengan 3 partai Islam yang sekarang mendampingi (PKS,
PAN, PKB) sebetulnya sudah aman.
>
> Tentu PG yang persoalan. Mau ikut SBY atau Mega. Kalau menurut
karakternya PG bukanlah berbakat oposan. Bisa jadi akan ada tarik
menarik di dalam PG, antara yang mau ikut Mega vs ikut SBY. Lha kalau
sama-sama jadi Cawapres, kan logisnya mending ikut incumbent toh.
(Lanjutkan! He he he...).
> Kata orang Semarang: nganggo teklek kecemplung kalen, timbang golek
aluwung balen (daripada nyari pasangan lagi, mending kembali ke pasangan
lama).
>
> Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Intelektual boleh punya
analisis, tapi jumlah mereka berapa, berapa pula yang golput.
> Soal demokrasi, di negara termaju sekalipun pilihan bisa irrasional,
seperti pengaruh iklan. Citra lebih bicara ketimbang hasil analisis
(perbandingan program, dst). Bukankah begitu?
>
> Saya di Smg ketemu teman2 UNDIP (Holy, Maya, Narti, Prihadi, Arti,
Windu) saya bilang ke mereka dengan Mas Fajar malah tiap saat di
referensi.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: efha_mardians...@...
> Sent: Sunday, April 12, 2009 9:55 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...
>
>
>
> Ha... ha... ha... Pak BTS,
>
> Saya bukan yang say no to Megawati... Cuma saya segen aja sama
Beliau.. Nggak ada hasil yang bagus sih di masa pemerintahannya ha...
ha... ha... Mungkin karena kurang bisa kasih koordinasi ke jajaran
mentrinya he... he... he.. (piss ya buat yg dukung Megawati... It's only
my stupid opinion lho....)
>
> Kalo buat SBY, setidaknya dengan adanya pembagian tugas antara Beliau
dan wakilnya, itu pertanda bahwa beliau bukan orang yg ingin menang
sendiri, ma mendengar orang lain dan tahu kapan harus berbagi dengan
orang lain...
>
> Kalo saya sih sbenernya pengen orang yg labih tegas dari SBY...
Mungkin tipe-tipe spt Sutiyoso yang kayak nggak punya udel waktu bikin
busway (maksud saya tetep go terus walau banyak orang yg mengecam, karna
dia yakin busway bikin manfaat bagi banyak orang, he... he... he...).
Saya pikir, Indonesia lagi butuh orang spt dia... Itu satu hal yg nggak
saya lihat di SBY yang (lagi-lagi menurut my stupid opinon) lebih
mementingkan citra dirinya daripada kemaslahatan masyarakat dan bangsa
Indonesia, ha... ha... ha...
>
> Ah udah lah... Saya cuma mau bilang bahwa saya bukan yg anti-Megawati
(jadi nggak brani untuk say no to Megawati), tapi cuma nggak prefer sama
Beliau aja...
>
> Kalo semua saya andaikan gabung dengan PD, itu karena kayaknya PD yg
bakal jadi pemenang di pemilu barusan. Jadi sepantasnya PD yg pegang
kendali di peerintahan nanti.... (walaupun Partai Demokrat bukan partai
pilihan saya di pemilu kemaren he... he.. he...)
>
> Salam (Piss...) untuk semua...
>
> Fadjar
>
>
> --- On Sun, 4/12/09, Bambang Tata Samiadji btsamia...@... wrote:
>
> From: Bambang Tata Samiadji btsamia...@...
> Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...
> To: [email protected]
> Date: Sunday, April 12, 2009, 9:39 PM
>
> He..he.. Bung Fajar,...kayaknya Anda termasuk "Say no to Megawati",
ya? Koq semua partai diaglomerasikan ke PD, terus  PDIP ditinggal
sendirian. Maunya Pilpres langsung SBY jadi, tidak melelahkan.
>
> Belum tentu lho. kalau PDIP sendirian, maka kesannya dizalimi. Pemilih
Indonesia itu seperti penonton sinetron, yang akan bersimpati pada si
lemah.
>
> He..he,. tapi nggak apa-apa. Semua khan spekulasi saja. Saya sih nggak
lelah ngikuti pemilu, cuma saya benci hampir semua partai yang menempel
gambar seenaknya, di mana-mana, semrawut, dan yang paling  nggak suka
sama partai itu tuh..yang "menyakiti" pohon-pohon. Hampir semua pohon di
pinggir jalan antara Jakarta - Surabaya (ketika mudik kemarin) habis
dipaku untuk pasang gambar partainya. Katanya peduli... koq gitu sih.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
>
>
> --- On Sun, 4/12/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@
yahoo.com> wrote:
>
> From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
> Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Sunday, April 12, 2009, 2:17 PM
>
> Mas Koko, Pak BTS dan referensiers pemantau pemilu semua...,
>
> Walau PDIP dan Golkar sama-sama memperoleh suara sebesar 15an %
(popular vote), bisa jadi jumlah kursi DPR-nya akan sangat berbeda.
>
> Ini diakibatkan oleh adanya perbedaan lokasi (wah lokasi lagi nig yang
jadi suatu hal yang penting....) dari pemilih-pemilih mereka. Mengacu ke
pengalaman di pemilu sebelumnya (Pemilu th 2004), pemilih PDIP dan
Golkar memiliki perbedaan lokasi yg cukup mencolok. Pemilih PDIP,
seperti halnya pemilih PKB, terkonsentrasi pada beberapa
wilayah/propinsi tertentu. Pemilih PDIP sebagian besar terkonsentrasi di
Jawa dan Bali, sedangkan pemilih Golkar lebih tersebar di banyak
propinsi termasuk di luar jawa.
>
> Dengan penentuan jumlah kursi yang dilakukan dengan membagi jumlah
suara (popular vote) dibagi dengan Bilangan Pembagi (BP) yang berbeda
untuk setiap propinsi, besar kemungkinan jumlah perolehan kursi Golkar
akan lebih besar daripada jumlah perolehan kursi PDIP. Ini diakibatkan
oleh jauh lebih besarnya nilai BP dari propinsi-propinsi di Jawa dan
Bali daripada nilai BP dari propinsi-propinsi di luar Jawa dan Bali.
Bahasa pasarnya, kursi DPR di Jawa dan Bali lebih mahal daripada kursi
DPR dari luar Jawa dan Bali.
>
> Kalau sudah begitu, akan lebih baik bagi Partai Demokrat (PD) untuk
kembali berkoalisi dengan Golkar, karena selain sudah ada pengalaman 5
tahun, yang tinggal diperbaiki dengan suatau "kesepakatan tertulis",
seperti yg dikehendaki oleh SBY, kekuatan kursi DPR dari kedua partai
tersebut bisa mencapai lebih dari 45% kursi DPR, dari sumbangan
perolehan kursi PD yang akan mencapai sekitar 25% dan sumbangan
perolehan kursi Golkar yang akan mencapai sekitar 20%.
>
> Kalau memang terjadi seperti ini, maka berarti koalisi PD-Golkar hanya
tinggal membutuhkan sedkit persen kursi DPR dari Partai Ketiga dalam
koalisi. Besar kemungkinan, Partai Ketiga ini bukan PDIP. Besar
kemungkinan partai ketiga ini adalah PKS atau koalisi kecil PKS, PAN dan
PPP. Tapi bukan hal yang tidak mungkin malah Gerinda dan Hanura yang
bakalan merapat ke PG-Golkar (Wiranto-Prabowo saja sudah mulai
lirik-lirik mata.....).
>
> Kalau Gerinda-Hanura juga ikut merapat ke PD, buat saya akan bagus...
Karena bisa jadi hanya akan terdapat dua pasang calon presiden-dan-
wakil dalam PilPres mendatang... Jadi nggak banyak biaya terbuang untuk
pemilu-pemilu yang cukup melelahkan ini, he... he... he...
>
> Mungkin itu komentar saya yang pura-pura jadi analis politik (maklum,
saya nggak pernah belajar ilmu politik, he... he.. he...).
>
> Salam untuk semua,
> mari kita saksikan apa yg akan dilakukan oleh para politisi kita pasca
pemilu ini..
> Apakah mereka tetap mengedepankan nafsu berkuasanya atau mereka akan
mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa yang sdang berada di
ambang krisis sebagai dampak ikutan dari krisis ekonomi di negara-negara
maju pada aktivitas industri dan aktivitas ekonomi lainnya di negara
kita.....
>
> Tabik dan salam hormat untuk semuanya..
>
> Fadjar Undip
>
>
>
>
> --- On Sun, 4/12/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:
>
> From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
> Subject: [referensi] outlook 2009-2014...
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Sunday, April 12, 2009, 4:27 PM
>
>
>
>
>
> Mengamati hasil sementara perhitungan suara:
>
> PDIP dan Golkar itu beda-2 tipis.. bisa dibilang juara 2 bersama.. di
kisaran 14% suara masing-2.
> Langkah mereka akan sangat menentukan peta koalisi lainnya.
> Demokrat tentunya layak percaya diri.. dan punya 'upper hand' dalam
membangun koalisi.
>
> Lain hal-nya dengan Golkar-PDIP. . gampang-2 susah..
> kalau mereka mau berkuasa, maka paling logis mereka berkoalisi..
artinya berkuasa tapi berbagi.
> tapi sulitnya menentukan siapa Presiden & siapa WaPres..
> Megawati sepertinya bukan orang yg mampu berpikir logis.. lebih
didorong syahwat kekuasaan..
> kalau JK rela jadi ban serep lagi; maka sangat rentan ditinggalkan
oleh Golkar... (yg merasa 'senior')
>
> Golkar itu partai yg tidak ber-ideologi. .. mereka penyembah duit dan
kuasa
>



Kirim email ke