Cak Andri yang budiman,

Sengaja pagi-pagi saya baca postingan ini untuk dapat menangkap
kedalaman makna di dalamnya. Mudah-mudahan harapan yang disampaikan
dapat terwujud pada pemerintahan baru nanti, atau kalau tidak, perlu
upaya keras dan ketabahan bertahun-tahun lagi. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "Mohammad Andri Budiman" <mand...@...>
wrote:
>
> Rekan-rekan yth,
>
> Saya amat terkesan dengan kearifan beberapa Rekan di milis Referensi
(milis Perencanaan Wilayah), yang dengan tulus dan berjiwa besar mau
mengakui adanya beberapa hal yang perlu dicarikan solusinya dalam
renstra maupun aplikasi bidang keilmuan perencanaan wilayah ini.
>
> Pernyataan Rekan-rekan planolog tersebut sungguh merupakan pengakuan
yang simpatik dan empatik kepada "masyarakat akar rumput" -- para
stakeholders (dan shareholders -- bila ia punya NPWP) yang tidak
memiliki "corong suara" ke arah "menara gading kekuasaan" terletak
tinggi nun jauh di Pusat sana.
>
> Sebenarnya, maukah para "menara gading" mendengar suara "akar rumput"?
Tentu mau -- apalagi kalau sudah mendekati Masa Persiapan Pensiun
ataupun mungkin "dipensiunkan" oleh "menara yang lebih tinggi lagi". Dan
tentu saja, di atas langit masih ada langit.
>
> Sebagai alumnus Sipil, kami sendiri mempunyai banyak dosa, karena
seperti kenyataan yang diungkapkan oleh beberapa rekan di milis alumni
Sipil ITB tahun lalu, bahwa tingkat "kebocoran" di proyek-proyek teknik
sipil bisa mencapai 40%. Terutama, terus-terang saja saja, proyek-proyek
pemerintah, karena masih saja ada oknum public servant kita di masa lalu
yang tidak begitu suka makan nasi, namun lebih suka makan aspal, pasir
dan beton. Dan, tentu saja, juga suka ber-"cincay-cincay" dengan oknum
kontraktor, yang kadang sama bengisnya. Well, lebih baik kita akui
sajalah, nyaris semua orang sudah tahu, tidak perlu membela diri, zaman
sudah berubah, tak iye? (Bu Bariah mode ON)
>
> Dan mudah-mudahan KPK segera menindak orang-orang munafik, kroni dan
keluarga besarnya ini, yang most probably, seluruh pundi-pundi haramnya
sudah direncanakan untuk anak-cucu-cicit mereka dalam rangka meneruskan
tradisi yang -- menurut mereka -- memang sudah hak turun-temurun mereka
selaku keluarga mafia.
>
> Dari segi Teknologi Informasi dan Komunikasi -- bidang yang saya
geluti sekarang -- saya hanya ingin memberikan wacana yang mungkin sudah
jamak diketahui secara umum, yakni "The Flat World" -- seperti judul
buku karya Thomas Friedman yang memenangkan Pulitzer Prize itu.
>
> Singkatnya, dengan TIK, banyak sekali hal yang akan berubah --
terutama "mindset" kita dalam melihat dunia. "Change is inevitable and a
must" -- seperti yang selalu dijargonkan oleh tim sukses Barack Obama.
Intinya, dunia akan flat, rata. Artinya, semua orang di semua wilayah di
suatu negara bisa menerima *informasi yang sama*. Tidak ada informasi
yang tidak ketahuan atau menjadi milik monopolistis segelintir pihak --
kecuali (saya amat berharap) username dan password untuk hal-hal
konfidensial seperti perbankan dan militer.
>
> Bahkan, di dunia sains komputer, semua algoritma kriptografi modern
dapat dibaca di Wikipedia dan Google Scholar -- dan hanya "kunci"-nya
yang rahasia. Keuntungannya adalah adanya semacam "collaborative
assessment" di mana sang pembuat algoritma terus-menerus menerima
feedback dari user (dan bahkan cracker sekalipun) yang menguji ketahanan
dan robustness algoritma tersebut terhadap berbagai serangan. Intinya
adalah, bahwa prosedur apapun, hukum apapun, aturan apapun -- tidak
hanya di bidang kriptografi atau sains komputer, melainkan semua bidang
ipoleksosbud -- tidak lagi menjadi rahasia seperti pada zaman kuda gigit
besi yang jumud itu.
>
> Jadi, dengan hanya mengetikkan beberapa kata kunci tertentu di Search
Engine seperti Google, orang NTT bisa melihat "daerah kami kok masih
begini, sedang Jabodetabek kok sudah bisa bikin begitu". Apalagi
kemudian mereka memperoleh *bukti visual* melalui GPS, Google Earth
maupun datang langsung ke Jakarta dengan tiket pesawat yang murah karena
hampir tidak ada monopoli lagi dari "flag carrier" atau lainnya.
>
> Situasi ini bisa saja "dicegah" (please note the "quotes") dengan
"mindset lama", seperti, "mengancam mempertahankan integritas negara
kesatuan dengan analogi senjata" seperti di era Orde You-Know-Which,
namun lagi-lagi solusi simplistik jangka
> pendek ini hanya akan menimbulkan "Unmet Emotional Needs" yang dapat
"meledak" pada jangka menengah dan panjang, seperti kasus (despite the
controversies) pemboman Bursa Efek J*** oleh separatis *** -- nama
disamarkan agar tidak ada oknum yang mengaku-aku mempunyai nama baik
untuk dicemarkan. Terlalu lama, terlalu menghabiskan energi dan terlalu
disayangkan -- padahal kuncinya ada pada: PEMERATAAN PEMBANGUNAN DAN
KESEJAHTERAAN YANG SEADIL-ADILNYA.
>
> Kita tidak perlu sudah-susah mendefinisikan "adil" itu apa, namun mari
kita pakai pikiran yang jernih, apakah disebut adil bila *SDA* ada di
Aceh, Riau dan Papua tetapi yang sejahtera adalah *SDM* tertentu di
Jabodetabek? Tentu saja, akan muncul "kelesan" (dari kata dasar
"ngeles") seperti, "Di Jakarta juga banyak orang miskin kok", "Siapa
suruh tidak mau tinggal di Jakarta", "Itu semua kan sudah sesuai dengan
Teori 'Natural Selection'" -- yang sama sekali tidak pernah
menyelesaikan masalah dan justru memunculkan antipati baru kepada
Jakarta: "Sudah makmur (dan 'mencuri'(?)), mengaku 'miskin' pula".
>
> Jadi, intinya, apa yang kita diskusikan ini pada akhirnya akan jatuh
ke masalah sosial dan psikologis. Dan, saya pikir, inilah yang mendasar,
karena tujuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bukanlah
"technology for the sake of technology" namun adalah "untuk meningkatkan
taraf hidup sesama manusia" -- dan tentu saja ini adalah masalah
psikososial yang berhubungan erat dengan bahagia-tidaknya manusia -- dan
bukankah tujuan kita semua selaku umat manusia adalah kebahagiaan? Tanpa
keadilan dan kejahteraan, kebahagiaan masyarakat akan teramat sulit
tercapai.
>
> Mari berdoa. Dan semoga kita mau berubah dan berbuat.
>
> Salam simpatik,
> Andri
> Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL,
Nyambung Teruuusss...!
>



Kirim email ke