Rekan-rekan yth, Saya amat terkesan dengan kearifan beberapa Rekan di milis Referensi (milis Perencanaan Wilayah), yang dengan tulus dan berjiwa besar mau mengakui adanya beberapa hal yang perlu dicarikan solusinya dalam renstra maupun aplikasi bidang keilmuan perencanaan wilayah ini.
Pernyataan Rekan-rekan planolog tersebut sungguh merupakan pengakuan yang simpatik dan empatik kepada "masyarakat akar rumput" -- para stakeholders (dan shareholders -- bila ia punya NPWP) yang tidak memiliki "corong suara" ke arah "menara gading kekuasaan" terletak tinggi nun jauh di Pusat sana. Sebenarnya, maukah para "menara gading" mendengar suara "akar rumput"? Tentu mau -- apalagi kalau sudah mendekati Masa Persiapan Pensiun ataupun mungkin "dipensiunkan" oleh "menara yang lebih tinggi lagi". Dan tentu saja, di atas langit masih ada langit. Sebagai alumnus Sipil, kami sendiri mempunyai banyak dosa, karena seperti kenyataan yang diungkapkan oleh beberapa rekan di milis alumni Sipil ITB tahun lalu, bahwa tingkat "kebocoran" di proyek-proyek teknik sipil bisa mencapai 40%. Terutama, terus-terang saja saja, proyek-proyek pemerintah, karena masih saja ada oknum public servant kita di masa lalu yang tidak begitu suka makan nasi, namun lebih suka makan aspal, pasir dan beton. Dan, tentu saja, juga suka ber-"cincay-cincay" dengan oknum kontraktor, yang kadang sama bengisnya. Well, lebih baik kita akui sajalah, nyaris semua orang sudah tahu, tidak perlu membela diri, zaman sudah berubah, tak iye? (Bu Bariah mode ON) Dan mudah-mudahan KPK segera menindak orang-orang munafik, kroni dan keluarga besarnya ini, yang most probably, seluruh pundi-pundi haramnya sudah direncanakan untuk anak-cucu-cicit mereka dalam rangka meneruskan tradisi yang -- menurut mereka -- memang sudah hak turun-temurun mereka selaku keluarga mafia. Dari segi Teknologi Informasi dan Komunikasi -- bidang yang saya geluti sekarang -- saya hanya ingin memberikan wacana yang mungkin sudah jamak diketahui secara umum, yakni "The Flat World" -- seperti judul buku karya Thomas Friedman yang memenangkan Pulitzer Prize itu. Singkatnya, dengan TIK, banyak sekali hal yang akan berubah -- terutama "mindset" kita dalam melihat dunia. "Change is inevitable and a must" -- seperti yang selalu dijargonkan oleh tim sukses Barack Obama. Intinya, dunia akan flat, rata. Artinya, semua orang di semua wilayah di suatu negara bisa menerima *informasi yang sama*. Tidak ada informasi yang tidak ketahuan atau menjadi milik monopolistis segelintir pihak -- kecuali (saya amat berharap) username dan password untuk hal-hal konfidensial seperti perbankan dan militer. Bahkan, di dunia sains komputer, semua algoritma kriptografi modern dapat dibaca di Wikipedia dan Google Scholar -- dan hanya "kunci"-nya yang rahasia. Keuntungannya adalah adanya semacam "collaborative assessment" di mana sang pembuat algoritma terus-menerus menerima feedback dari user (dan bahkan cracker sekalipun) yang menguji ketahanan dan robustness algoritma tersebut terhadap berbagai serangan. Intinya adalah, bahwa prosedur apapun, hukum apapun, aturan apapun -- tidak hanya di bidang kriptografi atau sains komputer, melainkan semua bidang ipoleksosbud -- tidak lagi menjadi rahasia seperti pada zaman kuda gigit besi yang jumud itu. Jadi, dengan hanya mengetikkan beberapa kata kunci tertentu di Search Engine seperti Google, orang NTT bisa melihat "daerah kami kok masih begini, sedang Jabodetabek kok sudah bisa bikin begitu". Apalagi kemudian mereka memperoleh *bukti visual* melalui GPS, Google Earth maupun datang langsung ke Jakarta dengan tiket pesawat yang murah karena hampir tidak ada monopoli lagi dari "flag carrier" atau lainnya. Situasi ini bisa saja "dicegah" (please note the "quotes") dengan "mindset lama", seperti, "mengancam mempertahankan integritas negara kesatuan dengan analogi senjata" seperti di era Orde You-Know-Which, namun lagi-lagi solusi simplistik jangka pendek ini hanya akan menimbulkan "Unmet Emotional Needs" yang dapat "meledak" pada jangka menengah dan panjang, seperti kasus (despite the controversies) pemboman Bursa Efek J*** oleh separatis *** -- nama disamarkan agar tidak ada oknum yang mengaku-aku mempunyai nama baik untuk dicemarkan. Terlalu lama, terlalu menghabiskan energi dan terlalu disayangkan -- padahal kuncinya ada pada: PEMERATAAN PEMBANGUNAN DAN KESEJAHTERAAN YANG SEADIL-ADILNYA. Kita tidak perlu sudah-susah mendefinisikan "adil" itu apa, namun mari kita pakai pikiran yang jernih, apakah disebut adil bila *SDA* ada di Aceh, Riau dan Papua tetapi yang sejahtera adalah *SDM* tertentu di Jabodetabek? Tentu saja, akan muncul "kelesan" (dari kata dasar "ngeles") seperti, "Di Jakarta juga banyak orang miskin kok", "Siapa suruh tidak mau tinggal di Jakarta", "Itu semua kan sudah sesuai dengan Teori 'Natural Selection'" -- yang sama sekali tidak pernah menyelesaikan masalah dan justru memunculkan antipati baru kepada Jakarta: "Sudah makmur (dan 'mencuri'(?)), mengaku 'miskin' pula". Jadi, intinya, apa yang kita diskusikan ini pada akhirnya akan jatuh ke masalah sosial dan psikologis. Dan, saya pikir, inilah yang mendasar, karena tujuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bukanlah "technology for the sake of technology" namun adalah "untuk meningkatkan taraf hidup sesama manusia" -- dan tentu saja ini adalah masalah psikososial yang berhubungan erat dengan bahagia-tidaknya manusia -- dan bukankah tujuan kita semua selaku umat manusia adalah kebahagiaan? Tanpa keadilan dan kejahteraan, kebahagiaan masyarakat akan teramat sulit tercapai. Mari berdoa. Dan semoga kita mau berubah dan berbuat. Salam simpatik, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

