Milisters ysh,
Salah satu penyebab stagnansi atau bahkan kegagalan dari capaian implementasi 
perencanaan ruang di Indonesia selama ini saya pikir maaf…. krn selain faktor 
’eksternal’ bhw  “bahasa dan masyarakat  non-teknik keruangan” lebih 
mendominasi “praktek sehari2 pembangunan”…. Dan selain tak-bisa-tidak jg alasan 
klasik historis 33th  orba obok2 demokrasi (dgn demikian jg obok2 good 
governance shg  demokrasi dan good governance tak berkembang subur dan sehat) 
……Sebab lain yg penting adlh krn masyarakat teknologi perencanaan ruang  kita 
nampaknya masih sangat lbh terpaku pada aspek ‘fisik’ dan ‘ekologik’…. Dan 
kurang menempatkan aspek ‘ekonomi’ dan ‘sosial’.. bahkan juga aspek 
‘demografik’ (populsi, migrasi) dan  nampaknya juga ‘geografik’ setara 
urgensinya dgn aspek ‘teknik’ dan ‘ekologik’………
Atau kalaupun dulu semua itu telah pernah dilakukan (utk tak melupakan karya 
rintisan alm Prof. Sugiyoko dkk .. dsb..)……. Tapi bolehlah dikatakan bhw faktor 
“msh mudanya pengalaman Indonesia dlm mengembangkan pembangunan wilayah” serta 
faktor latar belakang tingginya proporsi masyarakat agraris kita dikala itu 
(hingga proporsi masyarakat urban kita masih minoritas, kurang dari 20%, dan 
urban development dianggap tak mendesak)… menyebabkan banyak asumsi masyarakat 
planning kita apalagi yg non-spatial planning  (mengacu ke pak Risfan 25/04, jg 
pak Risfan re: implementasi) msh tak sepenuhnya ‘kena’ atau masih meleset (ini 
manusiawi, planners tak perlu kecil hati, apalagi sakit hati)….. 

Tak usahlah jauh2 mengemukakan deretan belasan referensi  dari scholar asing 
(sekedar ciri khas dari scholar overseas kita dlm menulis utk menunjukkan sbrp 
tinggi dan canggih bobotnya agar nampak ‘seng ada lawan’ dinegeri melayu 
sini)…… kita juga  sebenarnya dgn mudah dapat temukan sekedar pada ‘referensi 
(kalo mau dibilang) amat ecek2 dan tidak canggih’ spt skdr pd  buku “Pengantar 
Perencanaan Kota” oleh AJ Catanese yg dialihbhskan oleh Sussongko…… yg ini 
seharusnya telah dilumat  dan tak dilupakan oleh mhs S1 disemester 1-2 sebelum 
mereka lanjut ke S2 dst atau ‘good by’ dan lanjut ke S2 manajemen dsb.  dst. 
diluar planologi…..  ttg bahwa Patrick Geddes sbg ‘bapaknya’ perencana kota di 
AS  juga mengatakan l.k. bhw :
“….Perencanaan fisik saja tak akan memperbaiki kondisi kehidupan dikota2 kalau 
ia tidak diintegrasikan dengan perencana ekonomi dan sosial dalam hubungan dgn 
lingkungnnya…..”.
Lebih lanjut  lagi oleh Geddes :
“…Integrasi ini harus dilakukan pada skala regional yg mencakup kota tsb. dan 
daerah belakangnya, yg istilahnya adlh urban conurbation….” (Catanese, 1979).
Selanjutnya  Geddes juga tekankan ttg : “…kompleksitas dan keanekaragaman dlm 
perencanaan…. dan dgn itu ia menganjurkan perencanaan komprehensif berskala 
besar……”. 
Menggambarkan  seberapa sakral ‘sunnah oleh Geddes’ itu….   Catanese (op.cit) 
mengatakan : “….  Tanpa sumbangannya, evolusi perencanaan kota diluar pemecahan 
fisik akan tertunda bbrp lama…..”.
Utk jangan dituduh  saya terlampau mengecilkan karya para planner kita yg 
sudah….  Kalaupun akan terjadi pembelaan diri  aspek ‘ekonomi’  dan ‘sosial’ 
diklaim  sbg ‘sudah disentuh’ juga……… tetapi saya msh bisa katakn bhw aspek 
“demografik” (yg persebaran konsentrasi populasi kita  Jawa-LuarJawa extremely 
timpang sekali, sehingga butuh pengembangaan kata kunci  teknologi  
trans/“migrasi” urban) toh boleh dikata belum  dikembangkan…… dan butuh 
sentuhan teknologi spatialnya juga……….  
Ada sih namanya  (trans)“migrasi agraris” oleh Depnakertrans (dan Dep.2 
historis sblmnya)….. tetapi yg namanya  (trans)“migrasi urban” (sbg komponen  
teknologi penataan ruang)  berkait dgn persebaran/ pemerataan “urban economic 
activities”maupun “persebaran SDM unggulan” bolehlah dikatakan belum pernah 
disentuh………
Kita kok spt lupa bhw USA banyak dibangun dengan faktor imigrasi dan 
emigrasi….baik sejak masa abad 16 bahkan sampai hari ini dimana USA saat ini 
telah menerima total sebanyak 37.000.000 permanent residents (sejak th 2000 lk. 
1 juta migran legal per tahun) ……..
Dan bhw economic activities  dan  demografi (persebaran kepadatan pemukiman, 
persebaran SDM unggulan) sarat dgn “tradisi hirarkhi”(setidaknya ada hirarkhi 
pola pemanfaatan ruang dari urban ke semiurban lalu rural lalu conservation, 
blm lagi banyak sistem2 hirarkhi ‘kehidupan’  lainnya)….. 
Sementara itu ‘aspek ekonomi dan demografi’ masih merupakan  ‘komponen2  
teknologi penataan ruang yg spatially amat jarang disentuh’…… Itulah sebabnya 
tatkala saya kemukakan ttg perlunya “hirarkhi dlm  logika penataan ruang” … 
termasuk juga “migrasi” SDM unggulan (aspek sosial demografik)  dan 
“filialisasi industri manufaktur”….. lalu banyak muncul reaksi2 keterkejutan, 
penolakan, pengeyelan dsb……….
 
Salam,


      

Kirim email ke