Bung Fajar dan rekans ysh,
Pepatah mengatakan "Always two sides of everything."
Satu benda yang sama bisa dilihat berbeda, dari kanan atau kiri. Begitu juga
"pembangunan."
Pada satu masa "strategi pembangunan" itu diperdebatkan dari sudut kanan vs
kiri. Hal itu tentu bedampak pula pada pandangan atas "strategi pengembangan
wilayah" sebagai turunannya.
Adalah pusat-pusat pertumbuhan, yang dilihat dari sisi kanan merupakan mata
rantai penyebaran kegiatan (dan kue) pembangunan, ada spread effect.
Tapi hal yang sama, dari sisi kiri dilihat sebagai "penghisap kemakmuran
daerah". Mata rantai pusat-pusat didapati sebagai tentakel gurita kapitalis
global (back-wash effect).
Negara dunia ketiga yang pro-kapitalis, oleh kaum kiri yang percaya "teori
ketergantungan", disebut negara kapitalis pinggiran yang perannya membantu
menghisap surplus dari desa-desa, dibawa ke kota-kota, ke metropolitan, untuk
selanjutnya dialirkan ke pusat-pusat (kapital) dunia.
Entah sudut pandang mana yang benar. Keduanya punya argumen. Tapi, sebagai awam
secara random di lapangan bisa dilihat fakta yang mendukung keduanya. Ada
penyebaran kegiatan (spread effect), sarana-prasarana, sebaran kue nya juga
sampai ke desa. Tapi jika dilihat dari barang yang dikonsumsi penduduk, dibeli
dimana, diproduksi dimana, dan implikasi aliran uang, tampaknya penghisapan
surplus (back-wash effect) dan capital flight juga terjadi.
Mungkin saja memang "kanan-kiri oke". Pertanyaannya: apa implikasinya bagi
strategi pengembangan wilayah?
Tapi itu tentu hanya cerita lama ya. Jadul. Saya hanya ingat dulu disuruh baca:
1. Emil Salim, "Perbangunan dan Pemerataan."
2. Thee Kian Wie, "Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan (1981)
3. Arief Budiman, "Teori Pembangunan Dunia Ketiga", 1995
3. Michael Lipton 'Why Poor People Stay Poor: Urban Bias in World Development',
Temple Smith: London, 1977
4. Friedman, J., and Weaver, C. (1979), Territory and Function ; The Evolution
of Regional Planning’, Edward Arnold : Weaver, C (1979)
Salam,
Risfan Munir