yaah... demokrasi --> demokratisasi adalah proses yg on-going.. suatu
un-finished project.
demokrasi di Perancis lahir untuk mem-bogem feodalisme monarki.. dan
membentuk masyarakat egaliter.


Di Indonesia (dan mungkin juga Asia), demokrasi tidak hadir sebagai
anti-thesis feodalisme..

Betul itu... buktinya banyak caleg yg mencantumkan silsilah nya dalam
poster-2 kampanye..
artinya si Caleg masih tanggal dan berharap pemilih dari masyarakat yg masih
terbelenggu feodalisme

mungkin episode selanjutnya adalah ke kaum artis.. karena kesamaan dari
dunia hiburan dan politik adalah sama-2 bertumpu pada popularitas..

sekarang ini intelektual belum sepenuhnya berani terjun ke Politik..
mungkin karena intelektual juga secara ekonomi/finansial tidak sepenuhnya
'merdeka'.
kalaupun pemikiran-nya merdeka, tidak semuanya cukup berani untuk
mengutarakannya secara vulgar di ranah publik.. cukup puas di ruang-2
diskusi intelektual saja.

yah.. lagi-2 soal kaderisasi..
sy cuma bisa optimis dengan PKS kalau urusan kaderisasi.
we'll see...

salam,
-K-



2009/5/3 Risfan M <[email protected]>

>
>
> Saya tahu serba sedikit tentang "budaya", tapi kalau melihat pemilihan
> caleg dari pusat sd daerah, tampakny masyarakat masih cenderung mamilih
> figur: ningrat (raden, tengku, kiai, andi, dst), eks jenderal (yang dulu
> umumnya anak menak) dan keturunannya, keluarga tokoh partai, kepala daerah
> (dulu jg menak) dan keturunannya, lalu artis.
> Sebaliknya kalu calon tetangga, orang biasa, tukang ini dan itu, sesama
> rakyat, umumnya rakyat sendiri mencibir.
>
> Kesimpulan saya yang awam, demokrasi dalam pemilu kita masih kuat
> dipengaruhi budaya spt itu (feodal atau apa?). Dan kalau kita
> banding-banding Malaysia, India, bahkan Singapore juga gitu.
> Dakam pemilu kali ini partai banyak, calon banyak, diberi kebebasan (walau
> ada bujukan, tapi mayoritas bebas). Tapi yang dipilih rakyat (dianggap
> pantas?) tetap menak-menak juga.
>
> Kesimpulan awam saya, calon menyodorkan simbol feodalnya, rakyat pun
> umumnya juga doyan milih itu.
> Mungkin intelektual politik justru masih terlalu optimis asumsinya soal
> kesetaraan di masyarakat?
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
> Sent: Saturday, May 02, 2009 8:42 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [referensi] Tinjauan Satiris Kaderisasi Kita
>
>
>
>
>
> Ya.. kalau secara ekonomi, ini sudah sesuai dengan konstitusi kita (UUD
> 1945, amandemen kelima), pasal 33, ayat (1) yang berbunyi :
> PEREKONOMIAN DISUSUN SEBAGAI USAHA BERSAMA BERDASAR ATAS ASAS
> KEKELUARGAAN"..
>
> Jadi kekayaan negara asasnya dibagikan kepada sanak keluarga dulu... baru
> orang lain. He..he.. selamat bermalam minggu juga.
>
> Thanks. CU. BTS
>
> --- On Sat, 5/2/09, Mohammad Andri Budiman 
> <[email protected]<mandrib%40gmail.com>>
> wrote:
>
> > From: Mohammad Andri Budiman <[email protected] <mandrib%40gmail.com>>
> > Subject: [referensi] Tinjauan Satiris Kaderisasi Kita
> > To:
> > Date: Saturday, May 2, 2009, 12:54 PM
> > Tanya:
> > Mungkinkah Republik ini tidak pernah bisa memiliki cara
> > yang tepat untuk memilih pemimpin?
> >
> > Jawab:
>

Kirim email ke