Assalamu'alaikum wr wb, Rekan-rekan yth,
Di Kompas edisi cetak halaman pertama hari ini (Selasa, 19 Mei 2009), dicantumkan intisari visi dan misi ketiga pasangan capres-cawapres yang ada. Sejauh pengamatan saya yang bias, ketiga konsep visi-misi yang disarikan Kompas tersebut masih mengambang dan normatif tanpa ada ketegasan dalam bentuk apa implementasinya. Namun, cukup menarik, bahwa hanya pasangan Yudhoyono-Boediono yang dengan tegas menyebutkan akan "membangun pemerintahan yang bersih, tidak dikotori oleh suap, memperdagangkan kekuasaan, dan mencampuradukkan urusan negara dan bisnis keluarga." Seandainya penegasan Yudhoyono-Boediono ini kemudian dimaktubkan di dalam suatu *kontrak politik* -- yang tentunya *terikat hukum* sehingga wanprestasi terhadap janji dapat disebut sebagai *tindak kriminal* yang dapat diajukan ke pengadilan -- yang maka saya kira tidak ada alasan (terutama bagi saya pribadi) untuk kali ini lebih favour kepada pasangan yang tegas-tegas menyebutkan hal ini dalam visi-misinya. ** Pencampuradukan bisnis keluarga dengan urusan negara inilah salah satu tindak kriminal utama yang membuat ekonomi negara kita nyaris hancur-lebur -- terutama rakyat kecil. Padahal, hampir dalam hal apapun (apalagi sumber daya alam) negara ini jauh lebih kaya daripada, misalnya, Singapura. Jadi, timbul pertanyaan, mengapa selama ini kebanyakan hanya "Inner circle" oknum pejabat tertentu yang sejahtera melebihi taraf kewajaran? ** Marilah kita bersikap jujur, dan melihat di sekeliling kita, terutama sekali pada masa pra-terbentuknya-KPK, betapa bila ada seorang *oknum pejabat* dilantik, maka *keluarga besarnya* yang dulu tidak punya apa-apa menjadi punya kebun sawit, pom bensin, rumah mewah, prioritas dalam proyek-proyek pengadaan, dll. Mungkin sebagian dari orang yang mempunyai penyakit dalam hatinya masih akan berupaya untuk "ngeles" bahwa, "Itu kan sudah rezeki mereka", "Jagalah hati. Hisablah dirimu sendiri," "Jangan urus orang lain, just be a 'happy ignorant' like the rest of us," dsb, dst, dll. Namun, terus-terang saja, bila masih ada orang Indonesia yang mempunyai alasan-alasan jahiliyah semacam itu -- yang tentu saja akan menimbulkan "iklim segar" untuk menghambat pemberantasan korupsi -- barangkali kemungkinan besar orang itu sendiri adalah termasuk bagian dari oknum yang "kecipratan rezeki" yang mungkin saja juga termasuk "inner circle" (kroni dan keluarga besar) oknum pejabat korup. ** Saya tidak mengajak Anda memilih Yudhoyono-Boediono -- karena visi misi di atas pun kemungkinan besar masih tentatif dan rentan terhadap "last minute change without notice". Saya mengajak Anda untuk memilih *siapapun* capres yang komit terhadap pemberantasan korupsi di negeri ini, termasuk asset oknum keluarga besar pejabat dan kroninya yang masih ada di dalam dan luar negeri tanpa seorang pun berani menyentuhnya karena nanti bisa bernasib sama seperti Romli Atmasasmita dan Antasari Azhar, yang justru menjadi korban ketika mencoba mengungkap tindak pidana korupsi di negeri ini. Kecuali, tentu saja, bila Anda atau keluarga Anda sendiri adalah bagian dari "inner circle" oknum penguasa tadi. Afwan jiddan atas segala kesalahan. Wallahu a'lam. Wassalamu'alaikum wr wb, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

