Deklarasi Mega-Pro : Retorika Identifikasi 
 
Ekonomi kerakyatan tanpa perencanaan ruang kewiraswastaaan bagi simiskin, 
mungkinkah?...........
 
Deklarasi pasangan calon presiden (capres) Megawati-Prabowo (Mega-Pro) yang 
akan dilaksanakan ditempat sampah Bantar Gebang, Kota Bekasi, Minggu (24/5) 
bagi pengamat politik, Arbi Sanit hanya merupakan retorika identifikasi belaka. 
"Usaha untuk mewujudkan ideologi yang mereka bawa sebenarnya masih dangkal," 
ujar Arbi, pengamat politik dari Universitas Indonesia, di Jakarta, Kamis 
(21/5). 
Pasangan Megawati-Prabowo yang mengusung konsep ekonomi kerakyatan akan 
melaksanakan deklarasi pencalonannya di areal tempat pembuangan sampah terpadu 
(TPST) Bantar Gebang. "Meski berada di tempat kumuh dan kelihatannya dekat 
dengan rakyat, penyampaian ideologi capres Megawati tidak pernah berkembang," 
ujar Arbi. 
Menurut dia, masih banyak konsep kerakyatan yang sebenarnya dibutuhkan rakyat 
namun dilupakan pasangan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) dan 
Gerindra itu. Ideologi capres Megawati, kata Arbi memang sedikit memoles 
ideologi yang dibawa Presiden I RI, Soekarno. 
Arbi menilai capres Megawati masih menggunakan trik-trik lama, namun tidak 
menyentuh substansinya. "Mereka hanya bermain di tataran luar saja," ujar Arbi. 
Arbi menambahkan, konsep ekonomi kerakyatan sama sekali tidak menyentuh dan 
menyinggung isu lingkungan hidup, pengolahan tanah dan lingkungan, serta hak 
asasi manusia. Ia berharap, pada kampanye pemilihan presiden 2009, para capres 
tidak lagi membohongi rakyat. 
Menurut Arbi, konsep ekonomi kerakyatan tidak dapat begitu saja dikaitkan pada 
cara bercengkerama dengan orang-orang yang bergelut dengan sampah di Bantar 
Gebang. Tetapi harus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata. Selain itu, 
lanjut Arbi, yang tak kalah penting disampaikan kepada rakyat adalah cara 
membangun sistem itu, supaya terlihat jelas perbedaannya dengan pasangan calon 
lainnya. (Ant/OL-03) 
 


      

Kirim email ke