Bu Mila, kalau di Kaenbaun gender bukan sekedar konstruksi sosial melainkan 
lebih jauh sebagai konstruksi spiritual (sakral), sebab hidup ideal orang 
Kaenbaun adalah menyatu dengan nenek-moyang ....yang dilihat dengan paradigma 
gender-spiritual itu....bagi mereka gender juga ada di dunia arwah.....tapi kan 
ini sangat tradisional banget....mana bisa diterapkan dalam situasi 
urban......gender di Kaenbaun sekarang sudah berubah, sebab "benang toko" 
memungkinkan para wanita membuat kain tidak mulai dari memintal benang....maka 
ada sejumlah waktu terluang....terus perang suku sudah tidak adam jadi para 
wanita sekarang boleh bekerja di kebun dan hutan mendampingi para 
laki-laki....maka domain perempuan menjadi semakin luas....tidak hanya di 
lingkungan rumah / kampung melainkan sampai di kebun dan hutan.....bahkan 
sekarang menenun bukan lagi fit and proper test bagi para wanita untuk bisa 
menikah....dulu kalau belum bisa bikin kain tenun ikat yang baik para
 wanita nggak boleh menikah.....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 5/22/09, mila karmila <[email protected]> wrote:

From: mila karmila <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: [email protected]
Date: Friday, May 22, 2009, 7:37 AM











    
            
            


      
      Sebenarnya banyak budaya lokal indonesia yang berperspektif gender, namun 
dengan masuknya teknologi hal-hal tersebut semakin tergerus, sebenarnya P 
Djarot bisa membagi harta karunnya terlebih dahulu khususnya massalah Dewan di 
yang bermazhab Patrilineal dan kultur ibu yang bermazhab matrilineal. mgkn itu 
akan memperkaya pemahaman kita mengenai gender. Yang patut ditekankan bahwa 
gender bukan masalah laki-laki dan perempuan tapi masalah konstruksi sosial, 
yang memposisikan perempuan lebih rendah dari laki-laki.

--- On Thu, 5/21/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 21, 2009, 1:29 PM








Gender di Kaenbaun berbasis pada kepercayaan agama lokal, bahwa kehidupan lahir 
dari perkawinan unsur wanita dan pria, mirip Yin-Yang tetapi bukan sebab belum 
ada penelitian yang menunjukkan pengaruh budaya Cina di desa itu. Gender di 
Kaenbaun sangat menghormati wanita sebagai Ibu Kehidupan, sebab orang Timor 
akan merasa sangat rugi kalau kehilangan wanita karena hanya wanita yang bisa 
melahirkan anak manusia. Tiang tunggal yang suci di dalam rumah bulat disebut 
tiang perempuan (ni ainaf) yang sangat dihormati sementara tiang laki-laki ada 
di luar namanya haumonef. Kultur Dawan di Kaenbaun kelihatannya patrilineal 
tetapi sebenarnya yang inti justru kultur ibu ! 

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Thu, 5/21/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 21, 2009, 7:41 PM





Ibu Mila dan rekan-rekan ysh, ingin mewarnai sedikit, namun mohon diabaikan 
saja.
Persoalan gender sebenarnya masalah klasik, telah ada sejak manusia masih 
berada di dalam sorga. Dalam sejarah kita. posisi ini terpesankan melalui 
peninggalan arkeologis seperti patung lingga dan yoni, dll. Yang menarik adalah 
bagaimana bila masalah ini dibawa ke dalam ruang, dan secara lebih khusus lagi 
adalah apakah ada pengejawantahannya dalam ruang makro?
Telah ditekankan oleh Pak Ibeng bila masalahnya bukan pada peran/partisipasi 
wanita dalam pembangunan, tetapi kalau coba saya tangkap dari pendapat bu Nita 
dll, sebenarnya adalah : bagaimana wanita akan mendapatkan ruang yang 
aman-nyaman untuk melakukan pergerakan dan melakukan aktivitas kehidupan 
sehari-harinya, serta tentunya dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya 
secara pantas. Jadi hal ini adalah menyangkut bagaimana suatu ruang 
mengakomodasi hati wanita, dan bilamana perlu mempermuliakannya. Suatu kendala 
bila mayoritas masyarakat (adat dan modern) kita hidup dalam pola patrilineal, 
atau `dunianya laki-laki', dimana ruang kehidupan ini terbangun berdasarkan 
`selera laki-laki'.
Sebenarnya bila telah sampai disini, kita akan sampai pada filsafat `ruang 
maskulin' dan `ruang feminim'. Secara kaidah kebahasaan, orang Perancis dan 
Jerman akan jauh lebih memahami dibandingkan masyarakat kultur Anglo. Paris, 
akan terasa lebih feminim, karena sejarahnya juga menunjukkan kampung ini 
terbangun karena penghormatan terhadap Helenisme, demikian juga kota-kota lain 
(baca Da Vinci Code). Dari referensi pak Boy, di Belanda: Scheveningen. Kalau 
di Jepang saya kira Osaka. Kalau di Indonesia, `rasa-rasanya' : Bandung (< 
1990an), Bogor, Padang Panjang, Tasik, Solo, Kuta, Long Ampung, Blok M, mana 
lagi ya? Dari berbagai tempat tersebut, saya sebenarnya paling terkesan dengan 
Kuala Lumpur, sepertinya ini adalah kota untuk para wanita. Kalau di
 Arab, pak BTS, untuk era ini adalah Madinah, coba deh kesana.
Memang kalau kita membaca relief di candi Prambanan, `hati wanita' itu adalah 
layak direbut dengan perjuangan. Setelahnya patut diingat pesan Teh Nini, bila 
Aa itu bukan hanya milik teteh seorang, tapi sebenarnya adalah milik Allah 
subhanahu wata'ala. Salam.
-ekadj
--- In refere...@yahoogrou ps.com, mila karmila <alim_...@...> wrote:
>
> Bapak-bapak dan Ibu ysh
> 
> Saya harus berterima kasih, karena persoalan gender dan pembangunan ini 
> membuat bapak-bapak dan ibu merasa prihatin dan mulai memikirkan bagaimana  
> memasukkan isu-isu gender didalam perencanaan pembangunan
> 
> P risfan sudah menyatakan bahwa gender adalah konstruksi sosial yang dibangun 
> atas budaya patriarkhal (laki-laki) didalam kehidupan masyarakat kita budaya 
> ini cukup mengakar tercermin pada hampir seluruh aspek kehidupan walaupun 
> mungkin saat ini sudah lebih baik tapi bukan berarti kesenjangan gender tidak 
> ada. Implementasi dari budaya ini adalah tereduksinya hak-hak perempuan yang 
> kemudian dianggap sama dengan laki-laki (di dunia kerja walaupun suda ada 
> cuti hamil, cuti haid dan sebagainya) tapi ini belum cukup karena hak-hak yang
 lebih mendasar masih sering dilanggar seperti hak untuk berserikat, hak 
mendapatkan pendidikan, hak untuk mengakses pelayan kesehatan yang murah dan 
terjangkau, semuanya itu belum sepenuhnya terpenuhi. Kondisi ini tentunya 
memprihatinkan, jika semua ini terakomodasi di dalam perencanaan pembangunan 
dan menjadi pemikiran bersama mungkin hak-hak yang terlanggar tadi bisa 
dieliminasi. Indonesia memang telah meratifikasi CEDAW
> didalam UU No 7/1984 tentang penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap 
> perempuan, namun inipun masih dianggap belum efektif berjalan dan kemudian 
> disusul dengan keluarnya UU No 9/2000 tentang PUG (Pengarusutamaan Gender) 
> yang intinya memasukkan isu gender di dalam setiap perencanaan pembangunan. 
> Tapi sayang karena masih banyak SKPD yang tidak responsif gender shg isu 
> gender di reduksi menjadi isu perempuan, dan yang berhubungan dengan 
> perempuan kembalinya kepada Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Di Jateng 
> teman-teman Biro
 Pemberdayaan Perempuan sudah bekerjasama dengan Bappeda Prov agar didalam 
perencanaannya pembangunan bisa memasukkan isu-isu gender. Sedangkan terkait 
dengan bagaimana memasukkan isu gender didalam perencanaan pembangunan adalah 
dengan mengawal kebijakan tersebut kemudian memastikan bahwa di dalam 
penggaggaranpun isu-isu tersebut diterima.
> 
> Salam
> Mila
> 
> From: Risfan M risf...@...
> Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, May 20, 2009, 10:51 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Iman, Pak Aby, Mbak Mila, Mbak Nyta, Bung Efha dan rekans ysh,
>  
> Saya sudah baca comment Pak Iman, Pak Aby, Efha, tapi sengaja reply mbak 
> Alim... eh Mila, maksud saya mbok jangan ragu
 sampaikan "opini" mbak, jangan hanya komentar -terima kasih dan setuju, atau 
masih prihatin saja. Apa sih gender itu? Dan bagimana.... .. Untuk mancing, 
saya sampaikan reka-rekaan saya (salah gak dimarahi Pak Aby kok).
>  
> Gender dan Penataan Ruang 
> Terpancing oleh diskusi teman-teman, saya coba menggali beberapa ingatan yang 
> saya tahu saat bersinggungan dengan topic ini.
>   
> Gender & Sex 
> Gender dibedakan dengan sex. Soal sex atau jenis kelamin bersifat “natural, 
> biologis�. Perempuan bisa melahirkan dan menyusui, dan konsekuensi dari 
> itu. Sementara laki-laki tidak bisa. Sedangkan soal gender, adalah soal 
> pandangan yang terbentuk oleh budaya (nurture) bahwa laki-laki berkuasa, 
> pencari nafkah, lebih ini dan itu. Anggapan ini menjadikan hak-hak wanita 
> diletakkan dibawah lelaki. Kerja bisa sama tapi hak sebagai karyawan untuk 
> dapat posisi, tunjangan bisa beda. 
> Jadi soal
 kodrat biologis tidak bisa diubah, tapi soal tradisi dan pandangan atas peran 
perempuan yang merugikan, bisa diubah. Sekarang umumnya wanita bekerja, tapi 
tanggung jawab urusan rumah tangga sebagian besar masih di dia, jadi fungsinya 
rangkap.
>   
> Tuntutan Gender 
> Perjuangan gender, kalau menurut saya mengandung paradox. Di satu sisi 
> menuntut �persamaan� posisi/perlakuan, di sisi lain menuntut hak karena 
> kebutuhannya ada yang berbeda (ruang/jalur khusus, kuota, hal-hal terkait 
> dengan kebutuhannya sebagai wanita dan ibu rumah tangga). Ini perlu 
> penjelasan. 
> Kebijakan pembangunan yang �buta-gender� memang bisa mengakibatkan 
> kesulitan bagi perempuan. Adanya teknologi pertanian yang menghapus pekerjaan 
> tertentu (misal ani-ani, menumbuk beras), membuat banyak wanita desa 
> kehilangan pekerjaan. Dan banyak contoh peraturan perburuhan yang menyulitkan 
> perempuan. 
> Secara hukum tuntutan
 persamaan hak ini telah diakui oleh perundangan, sejak UU no8/1978 tentang 
Penghapusan Diskriminasi terhadap Kaum Perempuan. Lalu Konferensi PBB Nairobi 
1985 menegaskan untuk menjadikan perspektif gender ke dalam semua kebijakan 
negara dan pembangunan. Dan, pada 1995 di Beijing dituangkan dalam platform for 
action dengan strategi yang dikenal sebagai �gender mainstreaming�. 
>   
> Kepada peminat kajian �gender and planning� sebetulnya sudah bisa mencoba 
> menerjemahkan strategi tersebut dalam proses dan substansi perencanaan 
> wilayah dan kota, wabil khusus penataan ruang. Kalau perlu bisa sampai 
> menyusun daftar simak (check-list) untuk memandu, memonitor dan mengevaluasi 
> apakah seluruh proses penataan ruang sudah �sadar gender�. 
> Misalnya: 
> Apakah prinsip kebijakan yang mendasari perencanaan sudah mengacu pada 
> perundangan/ kebijakan gender? 
> Apakah tim penyusun rencana
 sudah mempertimbangkan representasi suara perempuan? 
> Apakah proses penyesyahannya juga melibatkan stakeholder yang merepresentasi 
> gender? 
> Apakah substansi rencana, isinya, langkah-langkahnya sudah mempertimbangkan 
> aspek gender? Standar tata ruang yang digunakan juga sudah mempertimbangkan 
> kebutuhan khas wanita dan keluarga? 
> Apakah proses diseminasi rencana sudah mengundang representasi 
> perempuan/gender? 
> Apakah cara-cara pelaksanaan rencana sudah mempertimbangkan partisipasi 
> perempuan, organisasi wanita? Apakah dalam proses monitoring & evaluasi sudah 
> melibatkan representasi suara perempuan untuk member feed-back? Dst, dsb.
> 
>  
> Semoga memancing diskusi lanjutan
>  
> Salam,
> Risfan Munir
> 
> 
> --- On Wed, 5/20/09, mila karmila alim_...@yahoo. com> wrote:
> 
> 
> From: mila karmila alim_...@yahoo. com>
>
 Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, May 20, 2009, 9:18 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Risfan dan temen-temen Referensier
> 
> Sepakat pak bahwa mindset yang selama ini terbangun adalah mindset yang 
> dipengaruhi budaya Patriarkhal, sehingga budaya ini merasuk mulai dari 
> kebijakan sampai dengan penyediaan fasilitas yang semuanya adalah netral 
> gender. Semoga semakin banyak yang terusik maka semakin cepat isu bergulir 
> dan akan menjadi agenda yang juga dipikirkan oleh perencana pembangunan.
> 
> Salam
> Mila
> 
> --- On Wed, 5/20/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote:
> 
> 
> From: Risfan M risf...@yahoo. com>
> Subject: RE: [referensi] Berperspektif gender dalam perencanaan ruang
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date:
 Wednesday, May 20, 2009, 5:56 PM
> 
> 
> 
> 
> 
>  
>




      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke