Tanggapan saya terhadap tulisan Pak Rachmad (SI93) tentang kesan bahasa (Arab, Inggris dan Latin) sengaja saya teruskan ke milis ITB, Futurologi, Referensi dan Indonesia, siapa tahu bisa menambah kegiatan ngeles .. eh diskusi;p.
Salam, Andri SI93 @PiccoloHotel-KL ** RM: Sebetulnya kalau kita bicara Keesaan Tuhan bisa saja menggunakan bahasa Indonesia dan saya yakin ini lebih dimengerti daripada disampaikan dalam bahasa Arab. Sayangnya kalau sudah disampaikan dalam bahasa Arab sepertinya kalimatnya sudah tidak boleh dibantah lagi kesahihannya :-( Dalam suatu perjalanan tour di daerah Arab sana, sang pemandu bercerita panjang lebar tentang lokasi-lokasi penting yang tercatat dalam sejarah Islam. Cerita ini disampaikan dalam bahasa Arab dan peserta tour bolak-balik mengamini cerita tersebut :-) Minggu lalu saya jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara dan istri saya bilang kalau bulan ini adalah bulan perkawinan orang-orang Arab didaerah Cipayung. Ternyata benar saja, begitu banyak anak muda arab sdi seputaran daerah tersebut dan menurut JK ini baik untuk perbaikan keturunan (?) Perbaikan yang dimaksud JK memang bias karena bisa saja: 1. Perbaikan biar wajah keturunan orang sunda+arab jadi mancung dan tinggi tubuhnya 2. Perbaikan agar moral orang sunda jadi lebih agamis karena dikawin orang arab (?) 3. Perbaikan keturunan Arab yang diarab sana moralnya diragukan biar jadi lebih santun mirip orang Indonesia (?) Dan banyak lagi turutannya yang bias :-) MAB: Di saat-saat seperti ini saya sebenarnya sedang menantikan bahwa "Mas MD", PhD yang pernah kuliah di Stanford akan menjelaskan panjang lebar beberapa gagasan postmodernisme bahwa kebenaran adalah hak segala bangsa (baik jin dan manusia:), universal dan bukan milik Islam doang, apalagi Arab, dsb, dst, dll, lengkap dengan kata-kata mutiara yang diambil dari bahasa Latin dan Anglo Saxon agar kelihatan, ehm, ilmiah dan "suci":). Begitulah, yang namanya stereotyping, di mana si bias pun akan menanggapi si bias, dengan dalil khas "de gustibus non est disputandum" alias "selera tidak untuk diperdebatkan" dan "kebenaran adalah universal -- terutama kebenaran yang datang dari orang yang sedang mengatakannya";p. Bila seorang Bill Bryson ditanya bagaimana the nature of our many languages on earth, maka jawabannya adalah sebuah buku tebal berjudul "Mother's Tongue". Lalu, bagaimanakah sebuah bahasa bisa menjadi suci atau bahkan unholy? Mari kita bahas. ** Nabi Isa as atau Yesus berbahasa Aramaik alias berbahasa Yahudi kuno. Ucapan Yesus yang terkenal sewaktu "disalib" adalah "Eli, Eli, lama sabakhtani" alias "Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku." Lalu, mengapa orang Katolik Roma menggunakan bahasa Italia Kuno alias bahasa Latin dalam menuliskan naskah-naskah suci Kristiani, bukannya bahasa Aramaik, bahasa Yesus sendiri? Jawabannya ada pada sejarah -- dan ingat peribahasa, "While in Rome, do what the Romans do." Kemudian, try answering these questions: (1) "Did the Romans speak Aramaic?" and (2) "When and where exactly they compiled early Christian manuscripts?" Kedua pertanyaan yang sama bisa ditujukan kepada Islam. (1) "Did the Arab during the period of Muhammad speak (let say) Java?" and (2) "When and where exactly they compiled early Islamic manuscripts?" Thus, Latin adalah Latin, Kristen adalah Kristen, Arab adalah Arab, dan Islam adalah Islam. Sucikah bahasa Arab dan Latin? Jawabannya: Netral, orang yang memakai bahasa itulah yang menjadikan kata-kata itu sebuah kebenaran nan suci atau sebuah hujatan tak berdasar dan makian. Dan bila pertanyaannya diubah, sucikah Kristen dan Islam? Agama *harus* suci; kalau tidak, ia bukan agama. Last but not least, perhatikan bagaimana saya sendiri mencampuradukkan ungkapan dari bahasa Latin, Aramaik dan Inggris. Lalu pikirkan kesan apa yang sebenarnya ingin dibuat;). Thus, bahasa tidak hanya menentukan bangsa. Bangsa pun juga menentukan bahasa. ** [Cont'd]

