Cak Andri yang sedang berada di kotanya para wanita, saya cuplikkan sebuah postingan dari sebuah milis mengenai satu masalah yang anda ungkapkan, mudah-mudahan berguna. Salam.
-ekadj ..... Memang lama juga saya memperhatikan tentang sebab Al Qur-an diturunkan di negeri Arab dan dituliskan dalam bahasa Arab. Sebelumnya Allah swt telah mengirimkan banyak rasul, nabi, dan shiddiqien ke berbagai negeri. Namun pilihan kepada Nabi Muhammad saw sebagai rasul terakhir (33:40), dan restu Allah swt kepada dienul Islam (5:3), serta Al Qur-an diturunkan dalam bahasa Arab (41:3) sekurangnya menurut hemat saya sungguh sangat beralasan. Pertama, Muhammad saw, "secara kepribadian", adalah nabi yang shiddiq-amanah-tabligh-fathanah, memiliki kelebihan khusus dibandingkan nabi yang lain. Karena itu Allah menganugerahkan permuliaan "asma" Rasulullah (94:4), sehingga terletak dalam satu kalimat syahadat. Bagi kita, dituntun juga untuk bershalawat, selain berzikir. Kedua, pesan Allah ini disampaikan Rasulullah di hadapan masyarakat muslim di padang Arafah yang mayoritas pada masa itu adalah bangsa Arab. Dan ketiga, seharusnya juga dipahami kenapa hal itu terjadi, dan diminta kita untuk memikirkannya (12:2). Dengan kata lain adalah suatu rasionalitas terhadap personalitas, serta juga: anthropo-spatial bila syariat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw yang menyempurnakan syariat Nabi Ibrahim as ditumbuhkan dari Makkah-Madinah di dalam masyarakat Arab. Permasalahannya adalah kepercayaan terhadap sustainibilitas nilai ajaran itu bisa disebabkan oleh dua faktor : pertama, bahasa Arab seharusnya adalah bahasa yang sangat gamblang dan lugas, sehingga mudah dipahami secara universal. Kedua, masyarakat Arab adalah masyarakat yang rajin memelihara dan menjaga sejarah, sangat kritis terhadap distorsi, dan kalau boleh saya mengatakan : terlalu lugu. Dengan cara itulah Al Qur-an dan nilai-nilai ajaran Islam sampai kepada kita sekarang ini. Untuk itu perlu juga kita tanyakan kepada dunsanak yang jauh mengenal orang Arab ini, termasuk ahli tarikh, antropolog, dan sejarawan yang mendalami. ..... --- In [email protected], Mohammad Andri Budiman <mand...@...> wrote: > > Tanggapan saya terhadap tulisan Pak Rachmad (SI93) tentang kesan > bahasa (Arab, Inggris dan Latin) sengaja saya teruskan ke milis ITB, > Futurologi, Referensi dan Indonesia, siapa tahu bisa menambah kegiatan > ngeles .. eh diskusi;p. > > Salam, > Andri > SI93 > @PiccoloHotel-KL > > ** > > RM: > Sebetulnya kalau kita bicara Keesaan Tuhan bisa saja menggunakan > bahasa Indonesia dan saya yakin ini lebih dimengerti daripada > disampaikan dalam bahasa Arab. Sayangnya kalau sudah disampaikan dalam > bahasa Arab sepertinya kalimatnya sudah tidak boleh dibantah lagi > kesahihannya :-( > > Dalam suatu perjalanan tour di daerah Arab sana, sang pemandu > bercerita panjang lebar tentang lokasi-lokasi penting yang tercatat > dalam sejarah Islam. Cerita ini disampaikan dalam bahasa Arab dan > peserta tour bolak-balik mengamini cerita tersebut :-) > > Minggu lalu saya jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara dan istri saya > bilang kalau bulan ini adalah bulan perkawinan orang-orang Arab > didaerah Cipayung. Ternyata benar saja, begitu banyak anak muda arab > sdi seputaran daerah tersebut dan menurut JK ini baik untuk perbaikan > keturunan (?) > > Perbaikan yang dimaksud JK memang bias karena bisa saja: > > 1. Perbaikan biar wajah keturunan orang sunda+arab jadi mancung dan > tinggi tubuhnya > > 2. Perbaikan agar moral orang sunda jadi lebih agamis karena dikawin > orang arab (?) > > 3. Perbaikan keturunan Arab yang diarab sana moralnya diragukan biar > jadi lebih santun mirip orang Indonesia (?) > > Dan banyak lagi turutannya yang bias :-) > > MAB: > Di saat-saat seperti ini saya sebenarnya sedang menantikan bahwa "Mas > MD", PhD yang pernah kuliah di Stanford akan menjelaskan panjang lebar > beberapa gagasan postmodernisme bahwa kebenaran adalah hak segala > bangsa (baik jin dan manusia:), universal dan bukan milik Islam doang, > apalagi Arab, dsb, dst, dll, lengkap dengan kata-kata mutiara yang > diambil dari bahasa Latin dan Anglo Saxon agar kelihatan, ehm, ilmiah > dan "suci":). > > Begitulah, yang namanya stereotyping, di mana si bias pun akan > menanggapi si bias, dengan dalil khas "de gustibus non est > disputandum" alias "selera tidak untuk diperdebatkan" dan "kebenaran > adalah universal -- terutama kebenaran yang datang dari orang yang > sedang mengatakannya";p. > > Bila seorang Bill Bryson ditanya bagaimana the nature of our many > languages on earth, maka jawabannya adalah sebuah buku tebal berjudul > "Mother's Tongue". Lalu, bagaimanakah sebuah bahasa bisa menjadi suci > atau bahkan unholy? Mari kita bahas. > > ** > > Nabi Isa as atau Yesus berbahasa Aramaik alias berbahasa Yahudi kuno. > Ucapan Yesus yang terkenal sewaktu "disalib" adalah "Eli, Eli, lama > sabakhtani" alias "Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku." > > Lalu, mengapa orang Katolik Roma menggunakan bahasa Italia Kuno alias > bahasa Latin dalam menuliskan naskah-naskah suci Kristiani, bukannya > bahasa Aramaik, bahasa Yesus sendiri? > > Jawabannya ada pada sejarah -- dan ingat peribahasa, "While in Rome, > do what the Romans do." Kemudian, try answering these questions: (1) > "Did the Romans speak Aramaic?" and (2) "When and where exactly they > compiled early Christian manuscripts?" > > Kedua pertanyaan yang sama bisa ditujukan kepada Islam. (1) "Did the > Arab during the period of Muhammad speak (let say) Java?" and (2) > "When and where exactly they compiled early Islamic manuscripts?" > > Thus, Latin adalah Latin, Kristen adalah Kristen, Arab adalah Arab, > dan Islam adalah Islam. Sucikah bahasa Arab dan Latin? Jawabannya: > Netral, orang yang memakai bahasa itulah yang menjadikan kata-kata itu > sebuah kebenaran nan suci atau sebuah hujatan tak berdasar dan makian. > Dan bila pertanyaannya diubah, sucikah Kristen dan Islam? Agama > *harus* suci; kalau tidak, ia bukan agama. > > Last but not least, perhatikan bagaimana saya sendiri mencampuradukkan > ungkapan dari bahasa Latin, Aramaik dan Inggris. Lalu pikirkan kesan > apa yang sebenarnya ingin dibuat;). Thus, bahasa tidak hanya > menentukan bangsa. Bangsa pun juga menentukan bahasa. > > ** > > [Cont'd] >

