He he he he Pak Bambang dan rekan2 semua ysh,
 
Mohon maaf sekali sekali lagi... Akibat jari tangan suka ngelencer ke tuts yg 
salah, akibatnya posting saya terkirim sebelum selesai tertulis... (ini akibat 
saya menulis dg menggunakan keyboard/papan ketik yg AZERTY, atau bukan QWERTY, 
dimana huruf A terletak bersebelahan dg tuts tabulasi shg ketika mau ngertik A 
juga terkena tabulasi maka langsung terkirim tanpa sengaja.... Mohon maaf 
sekali lagi....)
 
Di posting terdahulu, saya menulis, "Apakah pilihan tsb sudah sesuai dengan apa 
yg dicita-citakan dahulu?", sebetulnya juga akan saya lanjutkan dengan "atau 
apakah sudah ada 'perubahan cita-cita dasar bernegara 'di negara kita, baik 
dengan dilakukannya amandemen konstitusi atau dengan hal-hal lain yang diluar 
itu?". Atau bahkan telah terjadi pemilihan yg dilakukan tanpa sadar keluar dari 
cita-cita bangsa yg disepakati...?" Ini jadi bahan renungan saya, namun 
pemikiran saya terlalu dangkal untuk menjawabnya....
 
Sementara penyandingan paradigma kapitalis/merkantilis dengan paradigma 
spiritualis, (untuk pengevaluasian kedua hal tsb), memang mungkin hal itu 
kurang tepat ya Pak? Saya rasa Pak Bambang benar dalam hal ini. Saya terlampau 
terburu-buru sehingga membandingkan dua hal yang tidak selevel... Setelah saya 
pikir-pikir, memang mungkin merkantilis atau merkantilisme (mechantilism) itu 
anak kandung dari kapitalisme. Seperti hal-nya (mungkin) komunisme yang juga 
merupakan anak kandung dari kapitalisme, walau memiliki jalan dan arah tempuh 
yang berbeda dengan merkantilisme. Sementara itu, kapitalisme adalah anak 
kandung dari materialisme... Di sisi yg lain, spiritualis, (mungkin) lebih 
dekat kepada immaterielisme... Apakah spiritualisme merupakan "anak kandung" 
dari immaterialisme? Kok kayaknya bukan ya Pak...? Bisa jadi spiritualisme itu 
malah ibu kandung dari immaterialisme...? Apabila hal itu benar, apakah memang 
bisa diperbandingkan hal-hal yang tidak
 selevel seperti ini...? Saya juga nggak tahu pasti, Pak...
 
Mohon penderahannya... Trima kasih lhi sebelumnya Pak.. Juga trima kasih 
sebelumnya kepada semua rekan, Bapak-bapak dan Ibu-ibu yg sudi mengikuti 
pertanyaan-pertanyaan ini. Mudah-mudahan ada yg ikut tergelitik untuk urun 
rembug....
 
Salam,
 
Fadjar PWK Undip
 
 


--- On Fri, 5/29/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: [email protected]
Date: Friday, May 29, 2009, 12:55 PM









Mas Fadjar ysh,
tiba-tiba saya terhenyak waktu panjenengan menyampaikan pembandingan tentang 
kata kapitalis/merchanti list dilawankan dengan kata spiritualis. 
Saya melihat bahwa dua hal itu kayaknya agak kurang bisa disandingkan. Mungkin 
yang bisa disandingkan adalah paham kapitalistik/ merchantilist dengan paham 
kerakyatan (saya kok nggak sreg ya dengan kata ekonomi kerakyatan, karena 
seakan-akan rakyat adalah claim bagi yang tidak berpunya. Padahal kerakyatan 
bisa dari seluruh lapisan. 
Sedangkan paham spiritualistik mungkin bisa disandingkan dengan paham fisik 
atau mundane. 
Matur nuwun
salam
bambang sp















      

Kirim email ke