Pak Fadjar ysh, saya sangat optimis dengan diskusi yang konstruktif ini,
mudah-mudahan bisa kita bawa ke masa depan. Prof Inazo Nitobe
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4318>   pada tahun 1899
berhasil menemukan 'jiwa bangsa Jepang' dalam bukunya: "Bushido: The
Soul of Japan
<http://books.google.co.id/books?id=JlDS4kVG_qoC&pg=PT1&lpg=PT1&dq=Inazo\
+Nitobe+1899&source=bl&ots=OAbkR0h10L&sig=omlNsF2AmHxgJA9wdf-KYCL3QVc&hl\
=id&ei=NaYfSpH1N8WjkAXN_IUa&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1#PPT1,\
M1> ". Saya berharap besar bagi anda dan rekan-rekan untuk bisa sampai
seperti itu. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], <efha_mardians...@...> wrote:
>
> He he he he Pak Bambang dan rekan2 semua ysh,
>
> Mohon maaf sekali sekali lagi... Akibat jari tangan suka ngelencer ke
tuts yg salah, akibatnya posting saya terkirim sebelum selesai
tertulis... (ini akibat saya menulis dg menggunakan keyboard/papan ketik
yg AZERTY, atau bukan QWERTY, dimana huruf A terletak bersebelahan dg
tuts tabulasi shg ketika mau ngertik A juga terkena tabulasi maka
langsung terkirim tanpa sengaja.... Mohon maaf sekali lagi....)
>
> Di posting terdahulu, saya menulis, "Apakah pilihan tsb sudah sesuai
dengan apa yg dicita-citakan dahulu?", sebetulnya juga akan saya
lanjutkan dengan "atau apakah sudah ada 'perubahan cita-cita dasar
bernegara 'di negara kita, baik dengan dilakukannya amandemen konstitusi
atau dengan hal-hal lain yang diluar itu?". Atau bahkan telah terjadi
pemilihan yg dilakukan tanpa sadar keluar dari cita-cita bangsa yg
disepakati...?" Ini jadi bahan renungan saya, namun pemikiran saya
terlalu dangkal untuk menjawabnya....
>
> Sementara penyandingan paradigma kapitalis/merkantilis dengan
paradigma spiritualis, (untuk pengevaluasian kedua hal tsb), memang
mungkin hal itu kurang tepat ya Pak? Saya rasa Pak Bambang benar dalam
hal ini. Saya terlampau terburu-buru sehingga membandingkan dua hal yang
tidak selevel... Setelah saya pikir-pikir, memang mungkin merkantilis
atau merkantilisme (mechantilism) itu anak kandung dari kapitalisme.
Seperti hal-nya (mungkin) komunisme yang juga merupakan anak kandung
dari kapitalisme, walau memiliki jalan dan arah tempuh yang berbeda
dengan merkantilisme. Sementara itu, kapitalisme adalah anak kandung
dari materialisme... Di sisi yg lain, spiritualis, (mungkin) lebih dekat
kepada immaterielisme... Apakah spiritualisme merupakan "anak kandung"
dari immaterialisme? Kok kayaknya bukan ya Pak...? Bisa jadi
spiritualisme itu malah ibu kandung dari immaterialisme...? Apabila hal
itu benar, apakah memang bisa diperbandingkan hal-hal yang tidak
> selevel seperti ini...? Saya juga nggak tahu pasti, Pak...
>
> Mohon penderahannya... Trima kasih lhi sebelumnya Pak.. Juga trima
kasih sebelumnya kepada semua rekan, Bapak-bapak dan Ibu-ibu yg sudi
mengikuti pertanyaan-pertanyaan ini. Mudah-mudahan ada yg ikut
tergelitik untuk urun rembug....
>
> Salam,
>
> Fadjar PWK Undip
>
>
>
>
> --- On Fri, 5/29/09, bspr...@... bspr...@... wrote:
>
>
> From: bspr...@... bspr...@...
> Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
> To: [email protected]
> Date: Friday, May 29, 2009, 12:55 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Mas Fadjar ysh,
> tiba-tiba saya terhenyak waktu panjenengan menyampaikan pembandingan
tentang kata kapitalis/merchanti list dilawankan dengan kata
spiritualis.
> Saya melihat bahwa dua hal itu kayaknya agak kurang bisa disandingkan.
Mungkin yang bisa disandingkan adalah paham kapitalistik/ merchantilist
dengan paham kerakyatan (saya kok nggak sreg ya dengan kata ekonomi
kerakyatan, karena seakan-akan rakyat adalah claim bagi yang tidak
berpunya. Padahal kerakyatan bisa dari seluruh lapisan.
> Sedangkan paham spiritualistik mungkin bisa disandingkan dengan paham
fisik atau mundane.
> Matur nuwun
> salam
> bambang sp
>


Kirim email ke