Dear all member referensi yang budiman, Rasanya tak habis-habisnya pembahasan mengenai kehidupan rusun ini. Memang masalahnya kompleks sih. Dari sisi desain arsitektur, sebenarnya perumahan itu menempati tingkat kesulitan desain tertinggi bukan karena bentuknya yang lebih sederhana ketimbang museum atau kantor pemerintahan. Tapi karena range of activities nya yang paling banyak, dan length of stay dari user yang paling lama, dibanding semua fungsi bangunan lainnya. Tapi saya pikir, semua kompleksitas pernik masalah sosial, keluarga dsb dari kehidupan Rusun itu, bukan diakibatkan desain bangunannya, tapi kelemahan mendasar desain kebijakan dan kelembagaannya. Sebagai kebijakan yang sporadis dan reaktif untuk menanggulangi permukiman kumuh, Rusun ternyata menimbulkan kekusutan baru. Kegagalan proses penghunian, kegagalan peningkatan nilai properti, kegagalan pengelolaan aset, dst. Padahal ya, permukiman kumuh itu pun lahir dari kekusutan pengelolaan (proses peng)kota(an). Jadi marilah kita renungkan, bangsa kita ini bisanya hanya melahirkan kekusutan demi kekusutan saja. Untuk itu marilah kita jangan terseret pada masalah yang ditimbulkan masalah lain dst. Cobalah kita reformasi sistem yang bermasalah ini. Dari saya: Pertama, yang namanya perumahan itu kan ada sistem penyediaannya (delivery system) yang memang harus dibangun. Untuk itu pendekatan yang semata berbasis proyek sudah sangat tidak memadai lagi. Ketika proyek konstruksi Rusun selesai, tak ada proyek air bersihnya, tak ada proyek sanitasinya, tak ada proyek pemberdayaan masyarakatnya, tak ada proyek pen. kapasitas pengelolaaan, dsb, dsb. Apakah pendekatan scattered projects begini bisa menghasilkan yang namanya permukiman? Apalagi ditimpali fungsi koordinasi menteri yang sangat lemah sekali. Jadi, bagaimana sebenarnya sistem penyediaan perumahan dan permukiman harus diselenggarakan? Menara rusun-rusun yang semula berdiri gagah tapi kemudian jadi kumuh kalau tidak mangkrak, mengindikasikan kalau (pemerintah) kita memang paling jago kalo sudah proyek konstruksi. Kita akui ini, kontraktor2 BUMN kita bisa leading di asia. Contoh lain adalah konstruksi jembatan Suramadu yang membanggakan itu. Namun ketika konstruksi jembatan Suramadu selesai, namun proyek penataan ruang, kelembagaan pengelolaan kawasan industri, permukiman (kasiba-lisiba), pengelolaan investasi, dsb, dsb masih gelap, auh ah lap... Hasilnya... Pak Menteri belum punya konsep bagaimana membiayai kawasan dimana jembatan itu hanya menjadi bagiannya (strategis). Lalu keluar dengan ongkos ngecat besi dan kabel baja jembatan, shg keluar 35 ribu per mobil. Lha, padahal kan PU itu bukan hanya bisa buat jembatan... kemana tata ruang dan cipta karya? kemana Perumnas yang berpotensi bukan hanya mengembangkan permukiman, tapi juga mengembangkan kawasan industri? Kembali, sistem penyediaan kawasan permukiman itu gimana? Kedua, masalah sosial rusun muncul karena memang belum dipakai pendekatan berbasis dinamika keluarga (housing career) dan karakter kelompok. Pendektan income group sangat sangat tidak memadai. Konsep kelompok sasaran perlu dikaji lagi. Sebelum terlalu banyak kita berdiskusi rusun, sampai-sampai ada yang ketahuan nanti punya berapa simpanan di rusun mana... Kesimpulannya, bidang perumahan itu harus TURUN MESIN dulu. Salam, Jehan
--- On Mon, 6/8/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] anak kolong - Re: Rusun, ruang dan budaya To: [email protected] Date: Monday, June 8, 2009, 8:05 PM Pak Iman ysh, mengenai anak kolong dan anak tangsi sebenarnya ada perbedaan pengertian. 'Anak tangsi' merupakan anak tentara yang tinggal asrama/permukiman militer, biasanya memiliki solidaritas yang tinggi (korsa) dan sedikit banyak terimbas dengan kultur militer yang keras. Kalau 'anak kolong' sebenarnya anak tentara juga yang tinggal di barak-barak militer sederhana, terkadang hanya memiliki 1 kamar. Pada malam hari biasanya mereka tidur sekamar dengan orangtua, dan mengambil tempat di 'kolong tempat tidur', sehingga dapat merasakan, mendengar, dan menghayati aktivitas di atas tempat tidur. Termasuk 'mendengar' problema rumah tangga, cumbuan, tangisan, hingga tamparan. Tidak ada hijab, hanya ada selembar kelambu. Anak kolong ini menjadi terlalu matang secara psikologis, termasuk kontemplasi seksualitas, dan bersikap ambivalen. Memang sangat sedikit 'anak kolong' ini mampu berprestasi hingga di usia dewasa; beberapa yang sedikit itu dari kawan-kawan anak kolong di masa kecil saya, sekarang ada yang menoreh prestasi luar biasa. Namun secara umum kehidupan seperti itu adalah buruk untuk anak-anak. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote: > > Bung BST and Eka ysh. > Kalau ayam/kambing ditaruh dlm kadang kecil dikasih pakan yg cukup dan bergizi akan gemuk dan sehat, tapi orang pastinya berbeda. Dulu terkenal ada namanya anak kolong atau anak tangsi, pada umumnya mereka nakal nakal, kenapa? Ya karena mereka tinggal di rumah kecil kecil. Demikian kantung kantung kriminalitas pd umumnya berasal dr pemukiman pemukiman kumuh. Stipulasi kita semua betul, kekhawatiran thp pendekatan penyediaan perumahan sekarang, yg penting target kuantitas tercapai, kualitas gimana nanti. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Bambang Tata Samiadji btsamia...@. .. > > Date: Sun, 7 Jun 2009 08:51:38 > To: refere...@yahoogrou ps.com > Subject: Re: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya > > > Bung Eka, untuk rusun sederhana jangan dibayangkan seperti kita. Mereka itu umumnya anaknya banyak, lebih dari 3, sementara kamarnya cuma 1. Pernah saya survey, malam hari sekitar jam 8-9. Saya lihat banyak anak-anaknya yang masih pelajar berada di luar rumah. Saya tanya mengapa koq nggak belajar? Jam segini koq masih di luar?. Jawabnya :"Bapak dan emak lagi di rumah, kita disuruh tunggu di luar dulu". > > Thanks. CU. BTS. > > --- On Sun, 6/7/09, ffekadj 4ek...@... wrote: > > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Sunday, June 7, 2009, 2:47 PM > > > > > > > > > > Dear Referensiers, > Pengembangan rusun bisa jadi tidak berguna, > bila tidak disertai program pembangunan keluarga sejahtera. > Satu rumah untuk satu keluarga. > Satu rumah dengan 2 kamar untuk pasutri dengan 1 anak, > satu rumah dengan 3 kamar untuk pasutri dengan 2 anak, > demikian seterusnya. > Untuk jomblo, tipe studio saja. > Jadi kita tidak menghitung tipe dan ukuran, > karena rusun dibangun dengan budaya urban. > Sehingga perlu program pengaturan dan penertiban. > Demikian sedikit saran. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote: > > > > Yaitulah pak Koes, yg dimukimkan bukan culture sbgmana dipesankan pak Suhadi, semata - mata perhitungan ekonomi, tanpa secara cermat implikasi dr capasitas masyarakat kumuhnya. Jd nanti yg terjadi adalah siapa yg mampu itu yg menghuni. > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > -----Original Message----- > > From: muhammad koeswadi m_koeswadi@ .. > > > > Date: Sun, 7 Jun 2009 03:13:29 > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Subject: Re: [referensi] Rusun, ruang dan budaya > > > > > > Pro Referenser > > > > Setuju kang Risfan. Sekarang mulai rame2 mendirikan rusun sederhana (wa/mi) yang sebagian di antaranya ditempatkan pada lahan ex kumuh ataupun ex lahan pemda. Targetnya penyediaan hunian dan kalo bisa mengurangi suasana kumuh...Ada hal penting dan sulit (saat ini) teratasi: yaitu hal keadilan hak, menjamin seluas2nya bagi ex penghuni kumuh untuk memperoleh kesempatan menghuni/memiliki rusun tersebut. Sering kali banyak yang tidak kebagian dari awal. Penghuni dan atau pemiliknya bertukar sedari awal. Mereka ujungnya pada pindah ke lokasi kumuh lainnya... Jadilah rusun bertambah, kumuhnya pindah. Adakah mekanisme "mengawasi hak penghunian ataupun pemilikan" yang dikhususkan, diprioritaskan, didisain dan ditawarkan sesuai kemampuan mereka. Barulah sisanya dilepas ke masyarakat umum. Di Forkim hal ini masih terus didalami untuk mendapatkan cara praktis. Di Kuala Lumpur, misalnya di sekitar Ong Tai Kim ataupun Idaman Komplek, program rusun sederhana > > terus berlangsung, dan area kumuhnya menyusut secara nyata (hampir habis). Penghuninya dari berbagai latar belakang budaya (mayoritas: Melayu, Cina, India) dan sisanya budaya Timur Tengah. Mereka bisa saling menyesuaikan, termasuk cara menjemur, ngasuh anak, menghargai hak publik dst. > > Salam. MK > > > > --- On Sun, 7/6/09, Risfan M risfano@ wrote: > > > > > > From: Risfan M risfano@ > > Subject: [referensi] Rusun, ruang dan budaya > > To: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Sunday, 7 June, 2009, 7:56 AM > > > > Dear referesiers ysh, > > > > Bicara budaya jadi ingan rumah susun (rusun). Dua puluhan tahun lalu saat rusun dikenalkan, kampanye pola hidup di lingkungan baru itu banyak didiskusikan. Sampai ada film "Cintaku di Rumah Susun" (Eva Arnaz?). Sekarang saat banyak dibangun justru tak ada bahasan untuk itu. > > Rusun apalagi dengan target 1000 tower, tentu kalau terbangun 1/3 nya saja jadi fenomena besar di perkotaan. Masalah prasarana, terutama air, masalah ruang terbuka, dan bangkitan lalu-lintas akibat konsentrasi penduduk tersebut. > > Dari segi kehidupan komunitas warganya, tentu timbul persoalan dan romantikanya sendiri. > > Rusuna dengan ukuran 21 m2 pada satu tower yang memuat lebih dari seratus unit, merupakan perkampungan padat, yang membutuhkan pola hidup dan kedisiplinan tertentu, dalam menjaga kebersihan, menjaga diri tak mengganggu tetangga, saling tenggang rasa. Soal buangan sampah, jemuran, suara musik dan teriakan anak-anak - adalah hiruk pikuk yang sudah terbayangkan dari rusuna yang ada. Juga pengelolaan ruang bersama di lantai dasar. > > > > Memang diskusi tata ruang biasanya terbatas konsepsi rencana, standar dari pemerintah dan peraturan perundangan, tapi fenomena kehidupan atau budaya konemporer perkotaan seperti ini mungkin perlu dilirik pula. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > >

