Di sebuah rusun dgn satu kamar tinggallah satu keluarga dgn seorang anak lelaki, si Mamat. Suatu malam si Papa hendak menunaikan tgjawab kpd si Mama. "Sayang, yuk kita jalan2 kesurga", kata si papa. "Ya bang... tapi tengok dulu si Mamat, sudah tidur belum? ". Mendapat lampu hijau, si Papa terus teriak." Mat...sudah tidurkah kamu?" "belum Papa... sedang baca buku." "Sudah...lanjut esok saja!... Sudah malam, tidur! "Perintah si Papa tegas. Sepuluh menit kemudian, si Papa teriak lagi."Mat....sudah tidurkah?", "Belum....!!". Si Papa keluar memarahi dan memukul si Mamat hingga keningnya benjol. Esoknya disekolah si Mamat ditanya gurunya kenapa benjol. Berceritalah si Mamat dari awal sampai akhir kenapa ia dipukul. Gurunya lalu menasehati Mamat "Malam nanti.. kalau ditanya lagi, kamu diam saja....ya?" "Ya....pak guru"........ Malam itu, terdengar Papanya tanya lagi keMamanya. "Sayang, apa kita mau jalan2 kesurga lagi?" "Ya bang.....tapi tengok dulu si Mamat, sudah tidur belum?" "Mat.... sudah tidur belum?”….. Teringat pesan gurunya, Mamat diam saja pura-pura tidur. "Mat....sudah tidurkah?", krn tak ada jawaban, si Papa lalu mematikan lampu… jadilah kamar gelap gelita. Si Mamat ketakutan setengah mati, tapi drpd benjol, dia menahan takutnya. Terjadilah 'perjalanan kesurga' antara Papa dan Mama yg tak diketahui urusannya oleh si Mamat. Tak lama Mamat dengar suara Papanya.."Yang...abang mau keluar nih". "Ya Bang .. kita keluar sama-sama", terdengar jawab Mamanya. Dgn tak sabar si Mamat bangkit dan berteriak sekuatnya :"Mamat ikut…. Jangan ditinggalin!”………. Esoknya si Mamat benjol lagi ....... --- On Mon, 6/8/09, ffekadj <4ek...@..........> wrote:
From: ffekadj <4ek...@..........> Subject: [referensi] anak kolong - Re: Rusun, ruang dan budaya To: [email protected] Date: Monday, June 8, 2009, 4:05 AM Pak Iman ysh, mengenai anak kolong dan anak tangsi sebenarnya ada perbedaan pengertian. 'Anak tangsi' merupakan anak tentara yang tinggal asrama/permukiman militer, biasanya memiliki solidaritas yang tinggi (korsa) dan sedikit banyak terimbas dengan kultur militer yang keras. Kalau 'anak kolong' sebenarnya anak tentara juga yang tinggal di barak-barak militer sederhana, terkadang hanya memiliki 1 kamar. Pada malam hari biasanya mereka tidur sekamar dengan orangtua, dan mengambil tempat di 'kolong tempat tidur', sehingga dapat merasakan, mendengar, dan menghayati aktivitas di atas tempat tidur. Termasuk 'mendengar' problema rumah tangga, cumbuan, tangisan, hingga tamparan. Tidak ada hijab, hanya ada selembar kelambu. Anak kolong ini menjadi terlalu matang secara psikologis, termasuk kontemplasi seksualitas, dan bersikap ambivalen. Memang sangat sedikit 'anak kolong' ini mampu berprestasi hingga di usia dewasa; beberapa yang sedikit itu dari kawan-kawan anak kolong di masa kecil saya, sekarang ada yang menoreh prestasi luar biasa. Namun secara umum kehidupan seperti itu adalah buruk untuk anak-anak. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote: > > Bung BST and Eka ysh. > Kalau ayam/kambing ditaruh dlm kadang kecil dikasih pakan yg cukup dan bergizi akan gemuk dan sehat, tapi orang pastinya berbeda. Dulu terkenal ada namanya anak kolong atau anak tangsi, pada umumnya mereka nakal nakal, kenapa? Ya karena mereka tinggal di rumah kecil kecil. Demikian kantung kantung kriminalitas pd umumnya berasal dr pemukiman pemukiman kumuh. Stipulasi kita semua betul, kekhawatiran thp pendekatan penyediaan perumahan sekarang, yg penting target kuantitas tercapai, kualitas gimana nanti. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Bambang Tata Samiadji btsamia...@. .. > > Date: Sun, 7 Jun 2009 08:51:38 > To: refere...@yahoogrou ps.com > Subject: Re: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya > > > Bung Eka, untuk rusun sederhana jangan dibayangkan seperti kita. Mereka itu umumnya anaknya banyak, lebih dari 3, sementara kamarnya cuma 1. Pernah saya survey, malam hari sekitar jam 8-9. Saya lihat banyak anak-anaknya yang masih pelajar berada di luar rumah. Saya tanya mengapa koq nggak belajar? Jam segini koq masih di luar?. Jawabnya :"Bapak dan emak lagi di rumah, kita disuruh tunggu di luar dulu". > > Thanks. CU. BTS. > > --- On Sun, 6/7/09, ffekadj 4ek...@... wrote: > > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Sunday, June 7, 2009, 2:47 PM > > > > > > > > > > Dear Referensiers, > Pengembangan rusun bisa jadi tidak berguna, > bila tidak disertai program pembangunan keluarga sejahtera. > Satu rumah untuk satu keluarga. > Satu rumah dengan 2 kamar untuk pasutri dengan 1 anak, > satu rumah dengan 3 kamar untuk pasutri dengan 2 anak, > demikian seterusnya. > Untuk jomblo, tipe studio saja. > Jadi kita tidak menghitung tipe dan ukuran, > karena rusun dibangun dengan budaya urban. > Sehingga perlu program pengaturan dan penertiban. > Demikian sedikit saran. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote: > > > > Yaitulah pak Koes, yg dimukimkan bukan culture sbgmana dipesankan pak Suhadi, semata - mata perhitungan ekonomi, tanpa secara cermat implikasi dr capasitas masyarakat kumuhnya. Jd nanti yg terjadi adalah siapa yg mampu itu yg menghuni. > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > -----Original Message----- > > From: muhammad koeswadi m_koeswadi@ .. > > > > Date: Sun, 7 Jun 2009 03:13:29 > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Subject: Re: [referensi] Rusun, ruang dan budaya > > > > > > Pro Referenser > > > > Setuju kang Risfan. Sekarang mulai rame2 mendirikan rusun sederhana (wa/mi) yang sebagian di antaranya ditempatkan pada lahan ex kumuh ataupun ex lahan pemda. Targetnya penyediaan hunian dan kalo bisa mengurangi suasana kumuh...Ada hal penting dan sulit (saat ini) teratasi: yaitu hal keadilan hak, menjamin seluas2nya bagi ex penghuni kumuh untuk memperoleh kesempatan menghuni/memiliki rusun tersebut. Sering kali banyak yang tidak kebagian dari awal. Penghuni dan atau pemiliknya bertukar sedari awal. Mereka ujungnya pada pindah ke lokasi kumuh lainnya... Jadilah rusun bertambah, kumuhnya pindah. Adakah mekanisme "mengawasi hak penghunian ataupun pemilikan" yang dikhususkan, diprioritaskan, didisain dan ditawarkan sesuai kemampuan mereka. Barulah sisanya dilepas ke masyarakat umum. Di Forkim hal ini masih terus didalami untuk mendapatkan cara praktis. Di Kuala Lumpur, misalnya di sekitar Ong Tai Kim ataupun Idaman Komplek, program rusun sederhana > > terus berlangsung, dan area kumuhnya menyusut secara nyata (hampir habis). Penghuninya dari berbagai latar belakang budaya (mayoritas: Melayu, Cina, India) dan sisanya budaya Timur Tengah. Mereka bisa saling menyesuaikan, termasuk cara menjemur, ngasuh anak, menghargai hak publik dst. > > Salam. MK > > > > --- On Sun, 7/6/09, Risfan M risfano@ wrote: > > > > > > From: Risfan M risfano@ > > Subject: [referensi] Rusun, ruang dan budaya > > To: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Sunday, 7 June, 2009, 7:56 AM > > > > Dear referesiers ysh, > > > > Bicara budaya jadi ingan rumah susun (rusun). Dua puluhan tahun lalu saat rusun dikenalkan, kampanye pola hidup di lingkungan baru itu banyak didiskusikan. Sampai ada film "Cintaku di Rumah Susun" (Eva Arnaz?). Sekarang saat banyak dibangun justru tak ada bahasan untuk itu. > > Rusun apalagi dengan target 1000 tower, tentu kalau terbangun 1/3 nya saja jadi fenomena besar di perkotaan. Masalah prasarana, terutama air, masalah ruang terbuka, dan bangkitan lalu-lintas akibat konsentrasi penduduk tersebut. > > Dari segi kehidupan komunitas warganya, tentu timbul persoalan dan romantikanya sendiri. > > Rusuna dengan ukuran 21 m2 pada satu tower yang memuat lebih dari seratus unit, merupakan perkampungan padat, yang membutuhkan pola hidup dan kedisiplinan tertentu, dalam menjaga kebersihan, menjaga diri tak mengganggu tetangga, saling tenggang rasa. Soal buangan sampah, jemuran, suara musik dan teriakan anak-anak - adalah hiruk pikuk yang sudah terbayangkan dari rusuna yang ada. Juga pengelolaan ruang bersama di lantai dasar. > > > > Memang diskusi tata ruang biasanya terbatas konsepsi rencana, standar dari pemerintah dan peraturan perundangan, tapi fenomena kehidupan atau budaya konemporer perkotaan seperti ini mungkin perlu dilirik pula. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > >

