Rekan2 Djarot dan Fajar ysh,
Kalo kemarin saya (dibilang) sentimen kepada planner mas Fajar, hari ini saya 
ganti mau ngebelain planner mas Fajar sebentar……utk sama2 maaf… berbeda pandang 
 thd sahabat kita mas Djarot……… smntr itu kalau  soal ttg tgp Jembatan Selat 
Sunda yg diminta mas Fajar akan saya buat nyusul dilain hari……tapi mungkin 
nanti disana saya akan kembali lagi  sentimen abis ke mas Fajar lagi…… 
Kalo saya perhatikan…….subyek Ekonomi Bejo sbg mazhab ekonomi baru tak sungguh2 
 ini awalnya diluncurkan oleh H.Ekadj….. lalu a.l. ditanggapi oleh mas Djarot 
dgn  a.l. mengetengahkan  tradisi di NTT ttg rakyat  menyerahkan upeti jagung 
kepada raja… lalu raja dilain kesempatan menyerahkan kembali jagung dalam 
bentuk  bibit utk ditanam oleh rakyat……..
Saya kira disini mas Djarot telah rancu melihat kearifan lokal spt itu dgn 
menyebutnya sbg suatu bentuk ekonomi / perekonomian kearifan lokal……. Padahal 
bisa jadi itu bukan suatu bentuk kegiatan perekonomian .. tetapi adalah  
sekedar suatu bentuk kegiatan sosial……atau malah kegiatan budaya…...
Bgmnpun juga yg namanya (sistem) perekonomian  batasannya tidaklah sesempit/ 
sesederhana  spt itu…….. selain hubungan (ekonomi) antara rakyat dan raja…. 
Bgmn hubungan ekonomi antara rakyat dan rakyat… dan bgmn antara raja yg satu 
dgn raja lainnya disana…… sebab yg namanya raja khan bisa saja wilayah 
kekuasaannya kadang hanya seluas satu kelurahan saja…. Atau satu kecamatan 
saja…….jadi rajanya bisa banyak disana……..  Sedangkan yg namanya  ilmu 
ekonomi…... khan ingin menerangkan  juga ttg bgmn  mekanisme sistem 
perekonomian itu bekerja … dan bgmn  berbagai unsur2 ekonomi saling 
berinteraksi  satu sama didalamnya……….

Kemudian menyangkut hubungan antara  arsitektur romo Mangun yg jadi idola mas 
Djarot  dan  ttg planner yg “turun mengotorkan kaki dan tangan” dan boleh jadi 
akan jadi idola baru mas Djarot pula……… saya khawatir …. Antara keduanyapun blm 
tentu  nanti jg dapat saling nyambung dan klop pula………
Menata bangunan atau menata arsitektur dari rumah2 ditepi kali Code ala Romo 
Mangun dalam artian relatif  menata  prinsip arsitektur rumah per rumah  agar 
menjadi rumah murah dan sehat tidaklah salah…… tetapi disisi lain  yang namanya 
“perencanaan lingkungan” (environmental planning) juga memiliki ketaatan 
azasnya yg tersendiri pula……. Spt bhw dikenal didalamnya ttg  assesment 
meliputi pengertian ttg flood zone misalnya….. dimana tepian sungai memiliki 
ruang sempadannya utamanya utk antisipasi banjir....... kemudian dikaitkan  
juga assesment ttg urban design atau tataruang DAS misalnya……. Spt bhw selain 
tepi sungai memerlukan ruang sempadannya utk luapan air dikala banjir….. dari 
sisi arsitektur lansekap misalnya tentu baik bhw pada daerah sempadan sungai 
itu juga diperhatikan pula azas ekologinya maupun arsitektur lansekapnya….. spt 
tt perlunya penghijauan tepi sungai maupun pembuatan  jalur utk joging, jalur 
sepeda atau
 juga mobil misalnya…..yg walaupun di Code ada jg sepotong2... tapi khan itu 
juga belum ideal..... belum lagi bahwa dari sisi urban design misalnya…. 
Bukankah wajar bahwa rumah2 tepian sungai Code binaan Romo Mangun itu juga 
seharusnya memerlukan sistem jalan2 nya yg memadai… sempadan bangunan…. juga 
tentunya  vegetasi…..sehingga walau arsitektur rumah per rumah dari Romo Mungun 
itu ok… tapi ia dpt dikatakan  telah menabrak bbrp azas dari perencanaan 
lingkungan atau lbh luas lagi adalah azas urban design…… 
Berbagai macam lintas disiplin ilmiah bukankah seyogyanya dapat saling berjoin 
interface dgn manis satu sama lain….. antara lain dgn memakai prinsip saling 
menghargai dan saling mengakui prinsip2 yg dianut oleh  disiplin ilmiah 
lainnya……… krn walaupun bukan main stream.. dan walau hanya aliran kecil saja 
kata anda…… khan ia tetap hrs dpt menegakkan disiplinnya pula dan sanggup 
berkomunikasi dgn lintas disipliner lainnya……. Dan kalau ia ingin dihargai dan 
diakui…. Ia khan hrs belajar menghargai dan mengakui  pula prinsip2 dari 
disiplin ilmiah lainnya?....... krn yg lainnya khan juga  merasa dirinya benar 
juga?…… merupakan hasil evolusi pikir bahkan bisa berabad2 sebelumnya?……… 
Satu lagi utk mas Djarot…… saya menemukan posting beliau (27/5) yg bunyinya :
“……..Mas Dwiagus, dalam beberapa tahun ini (sejak 2001) saya mengikuti kiprah 
senior saya Pak Sudaryono dari UGM yang mencoba mengembangkan RUANG LOKAL 
sebagai mainstream dalam perencanaan tata ruang. Coba diperhatikan, apakah 
selama ini ada acuan yang jelas dalam planning yang menggarap keunikan-keunikan 
lokal seperti di Sabu ?........”.
Ini menarik utk kita diskusikan dilain waktu……..
Salam, 
 

--- On Fri, 6/12/09, [email protected] <[email protected]> 
wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: [email protected]
Date: Friday, June 12, 2009, 1:00 AM













Pak Djarot dan rekans ysh,
 
Kelihatannya, ada sedikit kekeliruan Pak Djarot dalam memaknai posting Pak 
Bambang tentang ada tidaknya person di kalangan planners yang mau bergerak di 
kalangan masyarakat di lapangan dan tidak hanya bergerak di dalam tataran makro 
(mohon dikoreksi apabila ternyata saya yang salah memaknai posting Pak Djarot).
 
Saya melihat bahwa Pak Bambang tidak bermaksud menyampaikan bahwa gerakan para 
perencana yang turun ke lapangan dan bergerak di dalam bidang pembangunan 
masyarakat, tidak hanya berupa gerakan individualis namun juga banyak yang yang 
dilakukan secara berkelompok bersama institusi atau groupnya. Menurut saya 
adalah hal yang ingin disampaikan oleh Pak Bambang adalah bahwa keputusan untuk 
"turun mengotorkan kaki dan tangan" (spt istilah Pak Djarot) dan "bergerak di 
akar rumput" (spt istilah Pak Bambang) atau untuk "terbang di awang-awang untuk 
mengatur tata ruang kehidupan bak gatotkaca" (spt istilah Pak Bambang) adalah 
keputusan individu masing-masing perencana. 
 
Namun, di luar itu, walaupun saya juga senang untuk turun ke lapangan seperti 
itu,secara pribadi saya tidak terlampau memperdulikan apakah seorang perencana 
harus turun ke lapangan mengotorkan kaki dan tangannya.  Hal yang lebih saya 
perdulikan adalah bahwa setiap planner harus berupaya menjadi orang yang "open 
minded" dan mau bekerja sama dengan aktor-aktor lainnya, mengingat besarnya 
kompleks persoalan yang kita hadapi di Indonesia seperti negara berkembang 
lainnya. Tidak mungkin seorang perencana menjadi "superman" yang mampu memahami 
seluruh fenomena dan kecenderungan di seluruh elemen dan tataran yang biasanya 
saling berkait. Keterbatasan dari seorang manusia membuat para perencana hanya 
akan mampu memahami sebahagiannya saja. Oleh karena itu, yang harus menjadi 
prasyarat bagi seorang planner untuk mampu berkontribusi baik dan 
signifikan (menurus saya) bukanlah terletak kepada mau atau tidaknya dia "turun 
mengotorkan tangan dan kakinya",
 melainkan apakah perencana tersebut mau bekerja sama dengan pihak/aktor 
lainnya dan bersikap terbuka terhadap pendapat-pandapat dan ide-ide yang 
dilontarkan oleh partner kerjanya tsb. Saya berpikir bahwa kondisi sekarang ini 
bukan lagi merupakan sesuatu yang bisa dihadapi secara "one man show" (atau 
juga "one woman show" supaya turut berperspektif gender, karena ngomong "one 
person show" kok nggak enak kedengarannya ya he he he..), tetapi lebih 
merupakan suatu kondisi yang harus dihadapi secara kerjasama untuk bisa lebih 
mendapatkan sinergi dari dalamnya.
 
Hal-hal ini lah menurut saya yang harus lebih dikedepankan. Sementara apakah 
dia mau turun ke lapangan atau tidak, biarlah hal itu menjadi keputusan pribadi 
orang tersebut, yang belum tentu akan mengurangi kualitas kontribusi dari 
person tersebut. Tidak selamanya aktivitas yg berbasis pada kondisi masyarakat 
di akar rumput merupakan aktivitas yang paling benar, seperti halnya juga bahwa 
tidak selamanya aktivitas yang didasarkan pada pemikiran makro itu salah. Yang 
mungkin akan menjadi lebih baik adalah bagaimana kedua pendekatan tersebut 
dikombinasikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan setempatnya seperti suatu 
"global local perspective" atau "macro-micro perspektive" .
 
Mungkin itu pendapat saya.
 
Salam,
 
Fadjar Undip


--- On Fri, 6/12/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, June 12, 2009, 9:30 AM








Pak BSP penjelasan panjenengan mencerahkan saya dan melegakan, meskipun gerakan 
yang dilakukan para planner bersifat sangat individual. Hal ini patut disyukuri 
sebab jika dilihat dengan kacamata historikal alangkah sangat bermakna tindakan 
planer yang individualistik terjun langsung menangani realitas lapangan dan mau 
berkotor tangan dan kaki. Persoalannya, meskipun sangat individual tetapi jika 
keunikan pengalaman mereka ada yang sempat merekam dan memberitakan kepada 
khalayak yang lebih luas dan semakin luas maka akan menjadi minimal collective 
knowledge sangat bernilai. Barangkali kesempitan pengetahuan dan informasi yang 
saya miliki maka gerakan arus kecil itu luput dari pemahaman saya. Saya kira 
awalnya Mangunwijaya mengawali seorang diri gerakan meninggalkan mainstream 
untuk terjun ke dalam arus kecil arsitektur arus kecil dan ini menjadi 
monumental kemudian diikuti oleh generasi berikutnya.. ..istilahnya kriwikan 
lama-lama menjadi grojogan....

Matur nuwun Pak BSP atas pencerahannya yang inspiratif.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 6/10/09, bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id> wrote:


From: bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id>
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, June 10, 2009, 12:39 PM





Mas Djarot ysh,
mas Djarot mengatakan :
Pak Risfan, saya tidak tahu apakah di kalangan planner maunya terbang terus di 
awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak Gatotkaca dan para ksatria 
yang senang menjadi nayaka praja sambil mengatur-ngatur atau ada golongan lain 
yang justru bergerak di akar rumput dengan wawasan luas bagaikan punokawan ? 
Apakah ilmunya begitu saklek sampai nggak mau murtad dari status ksatria dan 
turun menjadi punokawan dengan misi pribadi menggerakkan tata ruang dari 
entitas lokal namun dengan wawasan global - internasional ? 
Kebetulan saya juga seorang yang pernah didik di lingkungan itu. Jadi ijinkan 
saya ikut urun rembug meski telat, karena mbuka komputernya telat.
Menurut saya, planner atau seorang lulusan planologi tidak mesti harus terbang 
di awang2 terus. Saya punya banyak adik2 yunior yang sangat bagus dan lulusan 
planologi... contohnya mas Sony. Ini dengan beberapa anak muda planologi ikut 
dalam kelompok Cilaki 45 yang sangat concern terhadap perumahan murah rakyat 
kecil. 
Mereka bekerja sama dengan teman2 dari arsitek seperti mas Sri Probo atau Dodo 
Yuliman merupakan sebuah tim yang sangat bagus dan sudah berkarya banyak. Waktu 
itu dengan Antonio Ismail kita membentuk perumahan murah di barat Serpong dan 
cukup berhasil. 
Artinya, seorang planner mau terbang diatas atau tidak itu sangat individual. 
Biasanya teman2 planner yang dulu waktu sekolahnya senang dengan regional 
planning yang cenderung senang dengan yang bersifat makro. Tapi yang mempunyai 
kecenderungan urban akan dengan cepat bisa berbaur untuk memahami hal2 yang 
detail tersebut.
Tahun 1996 waktu dilakukan City Summit di Istambul, tim DELRI diwakili oleh 3 
kelompok disiplin ilmu yaitu arsitek, planologi, dan sipil. Dan mereka bisa 
berbicara dalam tataran yang sangat detail. Begitu mas.
Salam
bambang sp
 

















      

Kirim email ke