Ibu Cut Safana dan milisters ysh,
 
Mendefinisikan arti atau mencari asal-usul kata kakilima bukanlah perkara 
mudah….. tapi kita umumnya sepakat ttg pengertian makna umum daripadanya…. Dan 
tak terlmpau risau utk hrs memperdebatkannya sekedar merumuskan batasan 
maknanya…..
Tapi saya khawatir cita2 pemikiran  ttg penuntasan cara penyelesaian masalah 
PKL di Indonesia yg ingin tuntas tas-tas akan jadi bias kalau kita melihat PKL 
sebagai masalah yg berdiri sendiri…. Dan tak mengaitkannya dgn berbagai multi 
aspek latar belakang lainnya yg berwarna-warni dibelakangnya…….
Dari sisi pandang pelaku dan aspek penghasilan… PKL jelas bukanlah sebuah cita2 
utama profesi…. Tapi yg terbesar adlh lbh sbg batu loncatan atau ruang UGD bagi 
penyelesaian yg cepat atas masalah2 pelik  matapencaharian/ penghasilan rakyat 
dlm statusnya yg pengangguran total, atau baru saja PHK.. atau kurangnya 
penghasilan dr pekerjaan yg telah ada tetapi dgn gaji yg masih dirasa kurang…….
Dari sisi aspek demi ‘penghasilan tambahan’…. Seorang yg siang harinya bekerja 
sbg salesman atau montir dibengkel spd motor… sejak pkl 18.00 – 24.00  dpt saja 
nambah profesi dgn berjualan nasi goreng gerobakan yg mangkal diemperan toko 
misalnya…… baik sebagai pemilik sepenuhnya… atau sekedar sebagai cook atau 
katakanlah sekedar sbg assisten cook yg membantu2 apa saja yg upahnya tentu lbh 
rendah lagi tapi tak memerlukan syarat ketrampilan yg khusus…..
Dari sisi upaya melawan keadaan menganggur…….. usaha PKL dpt menjadi jalan 
keluar instan detik itu juga…… begitu terbersit dipikiran… anda bisa 
merealisasikannya detik itu juga….. beli ketan sekilo dan kelapa separo….. 
buatlah urab ketan dalam bulatan2 dan taruhlah sambel diatasnya  … jajakanlah 
keliling kampung sambil sedikit berteriak….. dalam  2 jam anda telah pulang 
dengan membawa nilai tambah lumayan (mantan Menteri BUMN atau sebelumnya 
dikenal sbg manajer 1 milyar  Tanri Abeng dimasa kecil menjalani kehidupan 
demikian….. Demikian jg pemilik Gunung Agung Kwitang dimasa mudanya mengasong 
di Senen)…….
Seorang pemuda penganggur dari Lamongan Jatim begitu pagi hari sampai 
disetasiun KA Bekasi sorenya tlh diterima melamar bekerja sbg pendorong gerobak 
usaha rumah makan tenda pecel lele sambil dipagi hari bertugas menyiangi 100 
ekor lele dan membuat sambalnya…… lalu bbrp bulan kemudian berkat seorang 
pelanggan … ia bisa saja diterima bekerja sebagai office boy diperkantoran 
pencakar langit  Jl. Sudirman…..

PKL sendiri pada dasarnya dpt dibagi menjadi setidaknya 2 atau 3 bahkan 4 
kategori atau lebih……
Kategori Pertama…. PKL yg sifatnya samasekali tdk melanggar peruntukan ruang 
publik seperti trotoar atau badan jalan…. spt yg berupa pemanfaatan pelataran 
ruko.... Terlebih bila waktu operasinya hanya dari senja sampai malam hari 
saja…..Usaha2 pd kategori ini umumnya adalah restoran tenda….. dimana 
penggemarnya bahkan banyak dari kelas menengah atas bermobil…..dan jenis usaha 
spt ini memberi  kontribusi positip pada  kehidupan kota… utamanya utk acara 
rekreasi/ wisata kuliner dimalam hari…….
Model lain dari kategori 1 ini adlh PKL dgn ruang2 usaha yg lebih ‘mini’ lagi 
spt usaha dgn gerobak dorong spt ketoprak, bakso, goreng2, kios rokok… dsb yg 
sering memakai ruang cukup 2m2, 3m2 atau 4m2 saja….. dan cukuplah tempatnya 
dipinggir pelataran parkir saja dari ruko/ perkantoran/ rumah sakit dsb… dengan 
jam operasi  dri pagi hingga malam…..…… tak jarang usaha PKL jenis ini hrs 
membayar sewa yg tak murah kpd pemilik ruko……
Kategori ke- 2 adalah jenis usaha PKL yg sgt mobile…. Dgn gerobak beroda atau 
dgn pikulan atau bahkan dgn berupa mobil toko….yg mudah berpindah2 lokasi, 
umumnya ruang yg terpakai cukup ‘mini’ spt 2m2  atau 3m2 dan umumnya tak 
meninggalkan atau menancapkan  properti alat jualannya dilokasi scr permanen….. 
model ini msh sering melanggar peruntukan ruang spt dgn memanfaatkan lebar 
trotoar baik sebagian atau seluruhnya…… tetapi kalau tepi jalan cukup luasnya, 
yg dipakai adalah ‘ruang hijau tepi jalan’ diluar trotoar…. dan trotoar  
dibiarkannya bebas…….
Kategori ke-3 adlh PKL yg secara mencolok mata tlh mulai nekat melanggar  
peruntukan ruang publik seperti trotoar, bahkan sering pula sebagian jalur  
jalan spt umumnya usaha2 restoran tenda… walau dgn memakai gerobak yg sifatnya 
mobile… tetapi utk tendanya  sering didirikan dgn memakai tiang2 dan tali 
temali yg ditancapkan ditanah atau bahkan  kdg dijalan aspal telah disiapkan 
cincin yg dipantek diaspal utk memudahkan/ cepat mengikatkan tali dan 
mendirikan tenda setiap hari ….. model ini  umumnya mulai beroperasi selepas 
senja dan berakhir dimalam hari….dan sesudahnya membersihkan/ mengakut seluruh 
properti alat jualan dgn tanpa sisa atau kadang ada yg menyisakan jg 
sedikit......
Kategori ke-4 adlh mereka yg memanfaatkan ruang publik seperti ruang2 ditepi 
jalan2 strategis, kadang juga diatas saluran air….membelakangi pagar dari 
kapling2 resmi dibelakangnya… meletakkan gerobak dorong yg diganjal dasarnya 
hingga roda menggantung krn niatnya lalu akan menjadi usaha 'permanen'... tapi 
msh dgn mempergunakan teknik 'ramah gusuran'...krn begitu ada operasi 
garukan... ganjal bisa diturunkan dan gerobak bisa kembali mobile utk didorong 
dibawa melarikan diri..... usha PKL kategori ini   
kemudian bisa menjadi tepat menghadap jalan ekonomi……tetapi kategori ini masih 
memanfaatkan ruang yg masih terbilang ekstra ‘mini’ lumayan sopan dan lumayan 
bersih… spt ruangnya bisa hanya 2x1m2 seperti umumnya kios rokok dan teh botol 
(bersih krn tidak harus memakai air utk mencuci piring dan membuang sisa 
makanan serta dampak bau dan kotoran spt umumnya pedagang kudapan)…. dan sering 
hanya terdapat  1 unit pada bilangan sebuah ruas jalan dgn jarak satu sama lain 
yg terbilang cukup jauh…. Sehingga walaupun termasuk ‘melanggar aturan 
pemanfaatan ruang’ … tetapi  keberadaannya yg cukup ‘mini’ dan pada jarak2 yg 
relatip saling berjauhan satu sama lain….dan relatip bersih..... Terlihat tidak 
mengganggu azas kebersihan dan keindahan kota… dn bahkan keberadaannya sbg jasa 
pengecer kebutuhan iseng vital spt rokok dan permen pengusir rasa asam dimulut 
.. atau minuman botol utk penangkal rasa haus…. Atau makanan kecil/ obat
 ringan pusing kepala…. Sering malah banyak dirasakan manfaatnya oleh warga 
kota….. krn mudah didapat disana-sini dgn jarak hanya bbrp langkah kaki saja………

Kategori ke-5 adlh mereka yg memanfaatkan ruang publik seperti ruang2 ditepi 
jalan2 strategis diatas saluran air dgn cara menutup permukaan saluran 
air….membelakangi pagar dari kapling2 resmi dibelakangnya… lalu mendirikan 
bangunan non-permanen…. Hingga ‘ruang usahanya’ kemudian bisa menjadi tepat 
menghadap jalan ekonomi…… kategori ini umumnya memanfaatkan ruang tak lagi 
‘mini’…… per unitnya bisa saja 3x2m2  atau lebih… tak jarang terdapat sederet 
usaha PKL  yg bahkan memenuhi seluruh panjang sebuah ruas jalan….. Kalau usaha 
PKL kategori ini masih sekedar berjualan barang bekas spt dibidang otomotif, 
alat rumah tangga, buku bekas atau repair dsb…. selain tak banyak menurunkan 
kwalitas kebersihan kota….. jasa demikian masih banyak manfaatnya bagi warga 
kota bahkan menjadi bagian dari keunikan kota….. tetapi bila berupa usaha 
warung makan…. Dpt dipastikan kategori ini selain memrlukan penggunaan air 
bersih utk mencuci
 gelas piring bekas dan sisa kudapan… ia sekaligus banyak menyumbang timbulnya 
limbah kotor bekas kudapan…. Dan menyumbang degradasi kebersihan kota….. 
Rasanya Ini adalah kategori PKL dgn pelanggaran pemanfaatan ruang dan 
penyumbang degradasi kebersihan kota yg  paling berat……… 
 
Salam,


      

Kirim email ke