Teman-teman milister,
Kayaknya bikin jembatan antar pulau mau jadi mode dan melupakan atau
mengabaikan model intermoda.
Rasanya model intermoda ( yang cukup tenar diwaktu yl ) belum atau tidak
ditangani dengan baik. Ada saja ketimpangan yang menyolok dalam menangani
sarana angkutan darat disatu pihak dengan angkutan laut dilain pihak. Saat
membahas program pembangunan infrastruktur, rasanya cuma jalan darat saja yang
jadi pusat perhatian sementara intermoda terlantar. Saya ingat betul ada
daftar yang isinya dominan jaringan jalan darat serta tidak realistis
targetnya.
Di saat-saat awal SBY duduk di kursi RI 1, saya ingat betul teman-teman
penyusun konsep infrastructure acceleration tidak atau kurang menyentuh
intermoda ini dengan serius. Semangatnya "aduhai " dan melayang rasanya karena
gagasannya itu penuh dengan tanda tanya. Saya pun mengerti bahwa hal ini
"sekedar " melengkapi janji -janji politik dalam kampanye si SBY saat itu.
Saya ingat juga bahwa, daftar yang berisi program pembangunan infrastruktur (
darat ) yang aduhai dan tidak realistis itu dengan gagahnya diperlihatkan
kepada siapa saja. Reaksi pihak dimaksud cuma mesem-mesem, bersungut dan
kemudian diam. Apa jadinya dengan Infratructure Summit itu ? ?
Mungkin saya terlalu pesimis dengan semua argumentasi para perencana jembatan
antar pulau ini bahwa keadaan suatu wilayah ( terutama masyarakatnya ) akan
jadi lebih baik, maju, sejahtera dst dst. Apa ya ? Apakah seperti itu yang
akan terjadi ? Apa para penyusun rencana itu tidak merasa berdosa dan
menambah panjang lagi daftar dosa ? ?
Apakah tidak lebih baik benahi dulu infrastruktur dalam kawasan pulau baru
mikir yang antar pulau itu. Soal kemajuan wilayah, selain berbagai hal yang
selama ini dipandang sebagai faktor penentu, saya melihat aspek "masyarakat
dan mutu kebijakan " merupakan faktor penentu yang lainnya. Bagaimana ya ?
Minta maaf sebesar-besarnya kepada para milister jikalau statemen ini
berkelebihan atau tidak pada tempatnya.
Thanks,
Reintje