Krisis energi mendorong banyak orang berkreasi dan melakukan penelitian, bahkan 
tak kurang ada juga yg sekedar membuat sensasi spt kasus blue energy tempo 
hari……
 Adalah BSW Adjikoesoemo dari komunitas Indonesia Bangkit  yg melakukan riset 
biota laut yang dapat menghasilkan minyak……..
“Saya riset bertahun-tahun. Saya sadar bahwa negeri ini 50% dikelilingi laut 
yang sangat kaya biota laut atau semacam plankton, bisa diolah menjadi minyak 
mentah. Dan hasilnya berupa BBM setara Pertamax. Karena kadar oktannya sudah 
mendekati 94. Dan harga jualnya cukup menggiurkan karena hanya Rp 1.500 per 
liter”, begitu kata  Adjikoesoemo……..
Akhirnya ‘temuan’ ini diberi nama “Bahan Bakar Nusantara (BBN)”,  jelas BSW 
Adjikoesoemoe saat dijumpai di Perum Griya Mahkota, Blok J, No. 16, 
Yogyakarta…….
Menurutnya, untuk memproduksi BBN ini, tidak diperlukan biaya mahal. Karena 
biaya produksi per liter hanya perlu biaya antara Rp 340-500….  Jadi, memang 
sangat murah sekali. Dan dipastikan rakyat Indonesia tidak mengeluh boros 
mengeluarkan uang untuk membeli BBM yang saat ini teramat mahal”, demikian 
lanjut si Bung AK ini.
Biota laut masih dalam bentuk aslinya diproses atau diolah dan menghasilkan 
beberapa bagian…. Di antaranya 60% air, 10% residu atau ampas dan 30% minyak 
mentah…... Dari hasil yang 30% minyak mentah diproses lagi dengan cara 
penyulingan dan menghasilkan bensin, solar dan minyak tanah….. Ampas juga bisa 
untuk pakan ternak, pupuk dan apabila dicampur tanah akan jadi seperti aspal……. 
Dan untuk perkembangbiakan biota laut, bisa dilakukan di darat dengan 
kelembapan tertentu….. Pemanenan biota laut, bisa dilakukan setiap 10 hari 
sekali. Setiap satu hektar lahan dapat menghasilkan 140 ribu liter…. “Nantinya 
temuan ini akan saya serahkan ke pemerintah, biar mereka yang mengelola. 
Disamping itu, agar rakyat di negeri ini menjadi makmur”, tutur Adjikoesoemo 
yang masih kerabat Sri Sultan ini……….
 
Komentar Akademisi
Dr. Supranto yang Ketua Pasca Sarjana Teknik Kimia Universitas Gagah Mada (UGM) 
Yogyakarta membenarkan adanya temuan biota laut yang dapat diolah jadi 
minyak….. Biota laut yang dikembangkan berupa tumbuhan atau sejenis
rumput laut…. atau tanaman rendah yang banyak mengandung asiri dan hidro 
karbon…….. Biota laut jenis ini tidak terlihat mana batang, daun ataupun bunga, 
karena bentuknya sama semua…. Dan jenis ini memang bisa dikembangkan di darat 
dengan kadar kelembapan udara tertentu”, demikian kata Supranto…...
Dikatakan lebih lanjut, untuk pengolahan bisa ditempuh dengan dua cara. Yaitu, 
dengan ekstilasi, dimana biota laut diolah dengan cara dilarutkan dalam solven 
atau pelarut…… Pelarut bisa berupa etanol, alkohol atau benzena.
Cara kedua lewat langkah destilasi….. atau orang biasa menyebutnya cara 
penyulingan……. Relatif lebih murah dari langkah yang pertama. Karena dengan 
sistem pemanasan,  bahan akan dipisahkan menjadi bahan bakar padat, cair dan 
gas, katanya lagi……. Bahan bakar gas yang dimaksud  LPG biasa dipakai untuk 
keperluan masak. Sedang yang cair bisa berupa minyak tanah, solar dan bensin….. 
Dan dari hasil penyulingan itu, akan dihasilkan pirolosis atau termal 
craking…..  Itupun masih harus dipisahkan lagi antara bensin, solar, dan minyak 
tanah. Dan bensin yang dihasilkan mengandung oktan antara 86-94 atau hampir 
setara Pertamax…...
Juga akan terasa agak wangi karena kandungan alkoholnya tinggi…… Dan tidak 
menutup kemungkinan bahwa  temuan Adji ini merupakan loncatan yang luar biasa 
dan harus digandeng oleh pemerintah selaku pihak yang sangat berkompeten”, 
demikian kata Soepranto........

 
HASIL UJI COBA EM-PLUS
1. Warna bensin kuning seperti Premium pada umumnya
2. Saat dicium, bau bensin memang rada lebih wangi. Kata Dr. Supranto karena 
masih mengandung alkohol.
3. Diuji di Yamaha Mio, bahan bakar yang sebelumnya ada di tangki dan 
karburator tentu dikuras.
4. Kemudian dituangkan bensin dari biota laut ini sebanyak setengah liter untuk 
dicoba.
5. Motor distandar tengah, mesin dinyalakan beberapa saat. Memainkan putaran 
mesin dan digas sampai mentok.
6. Motor dijalankan mulai dari Jl. Kaliurang, Km 6,5 menuju Kaliurang yang 
kontur jalannya semakin naik. Mulai dari jalan pelan dan stabil antara 30-40 
km/jam.
7. Dicoba kecepatan tinggi setelah memasuki wilayah Pakem Km 15, jalan mulai 
naik dan turun. Pada kecepatan tinggi mesin juga tidak menimbulkan gejala 
mbrebet. Dan begitu sampai Kaliurang, bensin habis dan tidak mengalami
hambatan.
 
Honda MegaPro Club
http://www.honda-megapro.or.id Powered by Joomla! Generated: 25 June, 2009, 
12:00


      

Kirim email ke