Batok kelapa selain menjadi bahan baku aneka kerajinan, dpt punyai nilai jual  
tinggi pula sbg arang. Sbg arang ia dipakai membakar sate, industri rokok sbg 
filter, sbg alat pemurnian CO2 hasil fermentasi, pengolahan limbah air dsb…….. 
Sayuti Wijaya dari Donggala Sulawesi Tengah telah 5 thn lamanya serius menekuni 
bisnis ini dgn membuat tungku pembakarannya. Permintaan terus datang tanpa 
henti, terutama utk pasaran ekspor, sampai tak jarang ia menolak permintaan yg 
masuk krn tak tertangani, krn kapasitas produksinya yg terbatas. Saat ini  dari 
tungkunya di Donggala itu Sayuti menghasilkan tak kurang 200 ton arang batok 
kelapa  perbulannya……..
Ia menjualnya dipasar domestik maupun ekspor.  Di Kalimantan dipakai utk 
menjernihkan air, di Sby dibuat briket dan di China utk obat2an katanya. Dgn 
harga jual Rp.2400.- per kg Sayuti meraup omset tak kurang  Rp 480 juta per 
bulan, dan memperoleh margin labanya sekitar 10%. Sayuti saat ini sdg 
bernegosiasi dgn perusahaan asal Jepang utk memenuhi permintaan 500 ton arang 
perbulan……...
Tak hanya Sayuti, Syam Parlan warga  Makassar jg sdh 5 bln menekuni usaha yg 
sama. Syam berhasil mengekspor produknya ke China, Jepang dan Korea. Syam 
mengaku mengirim tak kurang 50 ton arang per bulan dgn harga per ton US$300.- 
dan meraih omset US$15.000.-  per bulannya. Syam dan Sayuti mengaku tak 
mengalami kesulitan dgn bisnis mereka ini. Bahan baku di Donggala bisa mencapai 
300 – 400 ton sebulan kata Sayuti. Pemasaran produk ini jg cukup mudah, cukup 
pasang di internet saja katanya. Tapi  Sayuti mengaku perizinan dan pungutan 
liar dlm proses ekspor masih mengganggu bisnis ini…….


      

Kirim email ke