Ibu Reny dan Pak Risfan ysh, wahana ini hendaknya dapat kita gunakan
untuk saling membagi pengalaman dan pengetahuan, karena kata pituah
Minang : pangana indak sakali tibo, rundiang indak sakali putuih
(ingatan tidak datang seketika, sehingga mufakat tidak sekali selesai),
sehingga dilakukan secara bertahap. Jadi seperti penulisan buku log.

Beberapa referensi yang ibu butuhkan dapat dilihat di website Cimbuak
<http://www.cimbuak.net/content/section/5/7/>  dan Nagari
<http://nagari.or.id/index.php> , mudah-mudahan berguna. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Pak Djarot, Bang Eka dan rekans ysh.,
>
> Membaca lontaran anda berdua pikiran saya jadi terbuka. Bahwa bicara
tata ruang bisa dengan asyik, tanpa perdebatan selalu, tentang hal-hal
seperti konsepsi ruang Jagad Jawa dan terbentuknya Nagari ini.
>
> Dalam rangka memasyarakatkan wacana "tata ruang" kiranya sudah
waktunya mengobrolkan tata ruang ini tidak melulu serius, mengerutkan
dahi. Selama ini wacana tata ruang rasanya kok terlalu formal. Selalu
dikaitkan dengan UU, PP, RTRW, pelanggaran, sanksi, dan tema-tema besar.
Wal hasil kisahnya slalu sedih juga.
> Bandingkan dengan obrolan ekonomi, yang walaupun kabarnya tak selalu
baik, tapi ada kisah kehidupannya. Human interest kata jurnalis.
> Juga kebanyakan normatif, ideal rencana, tidak diimbangi pertimabngan
realita yang terjadi, akibatnya kisahnya selalu kelabu, biru, sedih.
>
> Baru-baru ini Kompas mengangkat tentang "tujuan wisata liburan",
dimana banyak sekolah di Jateng, Jatim yang sampai mengumpulkan uang
harian beberapa bulan (Rp 1000/hari), hanya untuk bisa liburan sehari di
Jakarta. Pada harian yang sama juga ditampilkan destinasi wisata menarik
di sekitar kota, selain ke Mal. Ini contoh kisah-kisah menarik untuk
obrolan tata ruang.
>
> Sekarang banyak terbit buku tentang obyek wisata kuliner, kerajinan
yang ternyata best-seller. Kisah tempo doeloe untuk kota Jakarta, Jogja,
Malang, Salatiga, Semarang. Kalau ada inisiatif mem-FRAME(membingkai)nya
sebagai panduan pemahaman tata ruang, itu sunggiuh strategis untuk
"memasyarakatkan" wacana tata ruang.
>
> Saya ingat pernah membaca tulisan Otto Soemarwoto (alm) ttg kisah
ekologi habitat semut sebagai bacaan anak TK/SD, sehingga kesadaran
ekosistem dan pelestariannya tumbuh sejak usia dini. Waktu kecil dulu
saya suka membaca peta, sambil berkhayal pergi ke kota-kota,
gunung-gunung, pulau-pulau.
>
> Mungkin kita perlu memikirkannya, mengingat setelah hampir 50th
pendidikan Planologi, sudah sejak 1992 ada UU Penataan Ruang yang
pertama, kok rasanya wacana tata ruang belum menjadi idiom publik. Tata
ruang disebut pada saat ada masalah (besar) saja.
>
> Bagaimana agar tata ruang tidak hanya dikenal sebagai urusan penegakan
hukum saja, tapi juga jadi etika, pola hidup yang mengindahkan ruang
sekitar. Tata ruang yang saya maksud ialah harmoni, keserasian pola dan
struktur ruang, yang sesungguhnya milik masyarakat.
>
> Tentunya rakyat bosen kalau cuma dikuliahi soal UU, PP, RTRW, IMB, itu
kan urusan pemerintah dan polisi kotapraja (kata mereka). Juga capek
juga kalau kisahnya tentang Pemda yang ingkar janji dan saling tuding
terus-menerus. Capek deh! Bukannya tidak perlu, tapi perlu penyeimbang
yang lebih segar dan populer, yaitu kehadiran kata tata ruang yang lebih
menyenangkan.
>
> Sekli lagi kehadiran wacana tata ruang yang lebih ringan, mungkin
diperlukan dalam memasyarakatkan tata ruang saat ini. Karena itu sekali
lagi terima kasih kepada Bang Ekadj, Pak Djarot yang telah menghadirkan
kisah unik dari tata ruang ini.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
> --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> >
> >
> > Bu Reny ysh,
> >
> > Mengenai Kamus (Bahasa?) Minangkabau terbitan Kompas, saya belum
pernah
> > ketemu. Mungkin maksudnya 'Kamus Sejarah Minangkabau' yang disusun
oleh
> > Prof.Dr. Gusti Asnan, guru besar sejarah Unand. Diterbitkan oleh
Pusat
> > Pengkajian Islam dan Minangkabau pada tahun 2003, dan memuat sekitar
350
> > lema. Lebih tepat sebenarnya disebut dengan semi-ensiklopedia.
> >
> > Untuk beberapa sistem keruangan/permukiman tradisional pernah
> > diungkapkan beberapa di milis ini, seperti Aceh dan Batak
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/964> , Asmat
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4831> , Jawa,
> > Kalimantan, dan lain-lain; sehingga dari milis kita ini sudah
melahirkan
> > banyak 'putera-putera daerah'
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5705> .
> >
> > Untuk beberapa pertanyaan ibu, saya coba jawab sebisanya :
> >
> > 1. Sistem kenagarian berbeda dengan sistem perwilayahan di
Minangkabau.
> > Sistem perwilayahan terbagi menjadi dua : ranah (luhak) dan rantau.
> > Untuk ranah di masa lampau terbentuk oleh Luhak nan Tigo : luhak
tanah
> > datar – airnya jernih ikannya jinak buminya dingin; luhak agam
–
> > airnya keruh ikannya liar buminya hangat; luhak lima puluh koto
–
> > airnya manis ikannya jinak buminya pun demikian juga. Pembedaan ini
juga
> > karena adanya dikotomi sistem kelarasan (mazhab), sehingga
melahirkan
> > petuah : luhak berpenghulu, rantau be-raja. Untuk kelarasan Dt.
Perpatih
> > nan Sebatang (luhak) mazhab permukimannya memancar dari bumi
> > (demokrasi), sehingga berpegang pada musyarawarah untuk mufakat.
Untuk
> > kelarasan Dt. Ketumanggungan (rantau) mazhab permukimannya menitik
dari
> > langit (aristokrasi), sehingga mengenal konsepsi : tiap negeri
beraja -
> > tiap rantau berjenang - tiap dusun berpenghulu - tiap rumah
> > bertungganai.
> >
> > 2. Untuk pertanyaan nomor ini, saya kutipkan sebuah postingan dari
milis
> > RN sbb :
> >
> > NAGARI-NAGARI DI MINANGKABAU
> >
> > Pengertian
> >
> > Nagari adalah suatu pergaulan hidup tertentu yang mempunyai daerah
> > tertentu, rakyat tertentu dan pemerintah tertentu. Nagari tidaklah
> > terjadi begitu saja. Nagari terjadi melalui suatu urutan yang
dimulai
> > dari Taratak. Ada sebuah bidal yang mengatakan:
> >
> > Taratak mulo babuek
> > Sudah taratak manjadi dusun
> > Sudah dusun manjadi koto
> > Baru bakampuang-banagari
> >
> > Nagari-nagari di Minangkabau menurut pemerintahannya merupakan suatu
> > serikat (federasi). Prinsip nagari adalah bebas mengurus dirinya
> > masing-masing ke dalam dengan semboyan Adat Salingka Nagari.
> > Maksudnya, tiap-tiap nagari berdiri dengan adatnya. Sesungguhnya
cara
> > pemakaiannya tidak sama dalam tiap-tiap nagari, namun sebaliknya
> > selalu siap sedia, bersama-sama menghadapi soal ke luar. Bilamana
> > dalam nagari-nagari yang berserikat itu timbul masalah, baik masalah
> > sosial maupun masalah ekonomi atau politik, penyelesaiannya tidaklah
> > bernafas ke luar badan, melainkan diselesaikan oleh nagari itu
> > sendiri, sesuai dengan petuah adat yang berbunyi Kusuik bulu paruah
> > manyalasaikan, kusuik paruah bulu manyalasaikan.
> >
> > Susunan nagari di Minangkabau bertingkat-tingkat.
> >
> > Tingkat pertama adalah Suku
> > Tiap nagari mempunyai beberapa suku, sekurang-kurangnya ada 4 suku
> > barulah sah dikatakan nagari. Sesuai bidal yang mengatakan Nagari
> > baampek suku dan suku dipimpin oleh Penghulu.
> >
> > Tingkat kedua Paruik
> > Adat mengatakan Suku babuah paruik. artinya, tiap-tiap suku harus
ada
> > beberapa buah paruiknya. Jika tidak ada maka suku belum memenuhi
> > syarat. Akibatnya nagari belum pula boleh dibentuk. Yang dimaksud
> > dengan Saparuik adalah satu kesatuan dari orang-orang, baik
laki-laki
> > maupun perempuan, yang mulanya berasal dari seorang ibu dalam satu
> > angkatan (generasi). Jadi orang-orang yang saparuik adalah mereka
yang
> > bertalian darah dihitung menurut garis moyang asal.
> >
> > Orang saparuik dapat dibagi atas Jurai, yaitu satu kelompok anggota
> > paruik yang ada dibawah Kapalo Jurai yang mempunyai hak daulat ke
> > dalam.
> >
> > Tingkat ketiga Kampuang
> > Para keluarga dari suku tadi makin lama makin berkembang. Mereka
yang
> > tinggal sekelompok (berdekatan) mengusahakan ladang dan sawah mereka
> > masing-masing. Kampung ini dipimpin oleh Tuo Kampuang atau Pangka
Tuo
> > Kampuang, yang dipilih diantara salah seorang lelaki yang tua atau
> > yang dituakan dalam kampung itu.
> >
> > Hidup berkampung diikat dengan syarat sebagaimana tersebut dalam
> > petitih berikut:
> >
> > Singok bagisia,
> > Halaman salalu,
> > Sawah sapamatang,
> > Ladang sabintalak,
> > Basasok bajarami,
> > Batunggua panabangan
> > Bapandam pakuburan
> > Tingkat keempat adalah Rumah Gadang
> >
> > Tiap kampung terdiri dari beberapa buah Rumah Gadang. Rumah Gadang
> > ditempati oleh suatu keluarga besar dari sabuah paruik. Rumah Gadang
> > dipimpin oleh Tungganai, saudara laki-laki tertua dalam keluarga
besar
> > itu.
> >
> > Menurut Undang-Undang Nagari di Minangkabau, sebuah nagari sah bila
> > memenuhi syarat-syarat yang disimpulkan dalam tujuh hal:
> >
> > Dusun - taratak
> > maksudnya adalah lambang pemerintahan.
> > Labuah - tapian
> > Labuah berarti urusan hubungan lalu lintas sebagai urat nadi
> > perekonomian menurut adat.
> > Tapian adalah lambang kesehatan.
> > Sawah - ladang
> > Lambang pertanian.
> > Banda - buatan
> > Lambang pengairan.
> >
> > Kabau, jawi - tabek, taman-taman
> > Lambang peternakan.
> > Balai - musajik
> > Balai adalah lambang hukum dan mufakat.
> > Sedangkan musajik adalah lambang agama.
> > Gelanggang - pamedanan
> > Gelanggang adalah lambang olahraga.
> > Sedangkan pamedanan adalah tempat berhimpun.
> >
> > Asal Muasal Nagari
> >
> > Dahulu, nagari adalah empat buah saja namanya, pertama Taratak,
kedua
> > Dusun, ketiga Koto dan keempat Nagari.
> >
> > Taratak berasal dari kata Tetak, dusun berasal dari kata susun, Koto
> > berasal dari kata sakato dan nagari berasal dari kata pagar atau
> > dipagari, yaitu dipagari dengan adat dan undang-undang.
> >
> > Bermula segala nagari ini dahulunya adalah rimba besar dan barang
> > siapa yang hendak membuat ladang atau mencari tempat kediamannya,
maka
> > dicarilah tempat yang baik, dan kalau sudah dapat barulah mulai
> > menebang batang-batang kayu yang tumbuh ditempat itu, setelah itu
> > barulah dimulai mencangkul atau menjenjang tanah itu.
> >
> > Pekerjaan itu yang mula-mula dinamakan tetak. Sampai sekarang masih
> > digunakan, misalnya menetak kesumayan atau tempat menaburkan benih,
> > menetak ladang, atau menetak hari (menentukan hari baik untuk
> > perkawinan).
> >
> > Lama-kelamaan, sebutan itu menjadi biasa, dan tempat tersebut
> > dinamakan orang Teratak sebagai tempat kediamannya.
> >
> > Tiada berapa lama, datanglah beberapa orang membuat ladang atau
tempat
> > kediaman di sebelah orang yang pertama, dan tempat itu dinamakan
> > Dusun, karena ladang atau tempat orang-orang itu sudah bersusun.
> >
> > Selanjutnya, datang pulalah beberapa orang hendak tinggal
> > disebelah-menyebelah dusun itu untuk membuat rumah atau ladang.
karena
> > manusia berkembang juga, maka tempat itu dinamakan Kampung, yang
asal
> > katanya berkampung/berkumpul.
> >
> > Dan kalau sudah terjadi beberapa kampung yang berdekatan antara satu
> > dengan yang lain dan penduduknya juga seiya sekata, dimana "Barek
samo
> > dipikua, ringan samo dijinjiang", maka kumpulan kampung itu
dinamakan
> > Koto.
> >
> > Kemudian barulah Nagari, setelah adanya dua atau tiga buah Koto yang
> > berdekatan.
> >
> > Koto dan Kampung itu sepakat bahwa mereka akan seiya sekata, buruk
> > sama dibuang, baik sama dipakai dan salah sama ditimbang. maka Koto
> > yang berdekatan itupun dipagar dengan undang-undang dan peraturan
adat
> > supaya jangan tumbuh yang tidak baik, dan segala isi nagari aman,
> > sebagaimana pepatah orang Minangkabau:
> >
> > Nagari bapaga undang
> > kampuang bapaga pusako.
> >
> >
> > Konsepsi sistem permukiman ini pernah kita tawarkan juga sebagai
> > alternatif untuk Aceh
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/775> .
> >
> > 3. Mengenai istilah-istilah itu tidak bisa dipadankan dengan istilah
> > umum yang berlaku, jadi tidak bisa digeneralisir seperti yang
dipaksakan
> > melalui UU5/79. Sebagai contoh saya teruskan cuplikan milis RN sbb :
> >
> > Keberadaan suku merupakan salah satu perlengkapan
> > sebuah permukiman untuk menjadi nagari. Di dalam cupak usali
> > disebutkan : "nagari bakaampek suku, dalam suku babuah paruik,
> > kampuang nan batuo, rumah batungganai". Artinya: untuk menjadi
> > nagari dibutuhkan sekurangnya 4 suku, dan di dalam setiap suku
> > tersebut telah ada 3 generasi (babuah paruik).
> > Pengertian babuah paruik adalah telah ada 3 lapis garis keturunan
> > keibuan (nenek-ibu-anak perempuan) yang menunjukkan suku tersebut
> > berkembang secara sustain.
> > Dengan demikian kita melihat konsep nagari tidak semata menunjukkan
> > perkembangan maju dari suatu pola permukiman, tetapi juga adanya
> > prasyarat dukungan sistem kemasyarakatan di dalamnya. Walaupun di
> > tempat itu telah tersedia infrastruktur yang mencukupi (balabuah,
> > batapian, babalai, bamusajik, dst), belum tentu tempat tersebut
> > berkembang menjadi nagari. Sistem kemasyarakatan mencakup struktur
> > sosial, tata cara bermasyarakat, sistem pembuatan keputusan, dst,
> > atau yang sering kita kenal sebagai "adat selingkaran nagari".
> >
> >
> > Demikian bu, mudah-mudahan berguna, sekalian izin untuk off dulu
> > beberapa hari ke depan. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [email protected], Reny ansih <renyansih@> wrote:
> > >
> > > Halo p. Eka,
> > > saya tertarik dengan SISTEM keNAGARIan yang anda sampaikan ini.
> > > Saya pikir alangkah indahnya negeri (baca:NEGARA) kita ini kalau
kita
> > bisa sebagai yang mengerti SISTEM PERWILAYAHAN bisa menerjemahkan
> > berbagai istilah yang ada dalam bahasa ibu masing-masing, seperti
yang
> > dicontohkan oleh pak Eka untuk NAGARI MINANGKABAU itu. Saya pernah
> > membaca di Harian Kompas tentang Kamus Minangkabau terbitan KOMPAS,
> > tetapi saya cari diberbagai Toko Buku tidak ada yang jual, bahkan di
> > Padang.Tanya ke KOMPAS katanya cuma mencetak tidak menjual. Mungkin
bisa
> > dibuatkan juga analogi-analogi dengan peristilahan ini. Karena kalau
> > Lingkup Penataan Ruang
> > > (kalau dibaca pada UUPR 26/07 sekarang dibaca Penyelenggaraan
Penataan
> > Ruang) itu bisa disampaikan (baca: disosialisasikan) dengan bahasa
> > pengertian lokal tentulah akan lebih cepat "gayuang basambuik"
(baca:
> > diterima) karena tentu para pemuka adat (baca DPRD) akan mengerti
duluan
> > dan bisa lebih cepat mendorong apa yang diinginkan dalam Rencana
Tata
> > Ruang Wilayahnya. Semua maksud dalam bahasa/pengertian lokal perlu
> > dimasukkan dalam istilah Perda RTR, agar lebih bermakna setempat.
Tentu
> > saja hal ini tanpa mengurangi semangat "satu Nusa Satu Bahasa"
ya.....
> > jangan pula nanti terpeleset....hiiii
> > > Nah ... mungkin yang saya ingin tanya pak Eka adalah:
> > > 1. Apakah betul yang dimaksud dengan SISTEM keNAGARIan itu sama
dengan
> > SISTEM perWILAYAHan ? atau sama dengan TATANEGARA atau mau kita
samakan
> > dengan PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG itu ?
> > > 2. Apa padanan untuk taratak menjadi dusun, dusun menjadi koto,
koto
> > menjadi nagari itu dalam pengertian BAHASA ? apakah bisa kita mulai
> > dengan rumah menjadi perumahan, perumahan menjadi permukiman,
permukiman
> > menjadi perkotaan ? Hehehe... pengalaman saya dalam menyusun
peraturan
> > UU no.4 tahun 1992 dan sampai ke Rancangan perubahannya sekarang itu
> > ternyata BAHASA kita masih miskin dan kusut istilahnya, misalnya
siapa
> > yang tahu mana yang lebih besar ukuran lingkungan perumahan atau
kawasan
> > perumahan ? lingkungan permukiman atau kawasan permukiman,
lingkungan
> > permukiman atau kawasan perumahan? Bingung ga nih ? Kok BASO AWAK
jadi
> > kelihatan lebih "clear" buatku ?
> > > 3. Saya juga mikir apa "taratak" itu mau kita sebut lingkungan
> > perumahan atau rukun tetangga? Dusun sama dengan lingkungan
permukiman
> > atau kelurahan? Koto sama dengan permukiman atau kota atau cuma
> > kecamatan ? Nagari sama dengan perkotaan atau Kabupaten atau Kota ?
Lalu
> > untuk Negara apa kita akan menyebut RANTAU atau Alam Takambang ?
> > Mungkin disini kita harus belajar ilmu biologi yaitu : Kingdom
> > (kerajaan), Filum (Keluarga besar), Class (Kelas), Ordo (bangsa),
Famili
> > (suku), Genus (marga), Spesies (jenis) ..... Dan waktu kuliah di PL
> > jadoel, memang kalau ga salah seorang dosenku bilang ilmu planologi
> > awalnya diturunkan dari ilmu biologi ini, karena bukankah disebut
bahwa
> > : "kota adalah organisme yang hidup", dan kota bukan saja hidup
...kota
> > bisa jadi MONSTER kalau ga dididik baik, ga dikendalikan, artinya
Kota
> > itu bukan organisme yang hidupnya punya batas umur, tetapi juga bisa
> > saling membunuh dengan kota lain ya?
> > > OK .... sudah terlalu jauh ya ngelanturnya.... mudah2an tidak
> > mengganggu sarapan pagi anda2 dengan pemikiran-pemikiran ini.
> > > Btw, pengen juga tahu bagaimana dengan budaya lain dari anak
negeri
> > ini untuk melihat hal yang disampaikan pak Eka misalnya untuk Budaya
> > Jawa, Sunda, Makasar, dll. Kalau Bali saya pernah juga tahu sedikit
> > tentang hasta kosala-kosali, buwana agung, buwana alit dan arah
pemujaan
> > Pura yang ke Gunung Agung.
> > > Selamat pagi Indonesia.
> > > Salam - 2ny


Kirim email ke