Milisters ysh, 
Terobsesi ingin memiliki gitar yang bagus justru membuatnya menjadi seorang 
maestro pembuat gitar. 
Tiga puluh tujuh tahun sejak gitar pertamanya terjual, kini karya Witirto sudah 
tersebar ke seluruh penjuru tanah air. Dewa Bujana, Piyu, Bahlawan, Ahmad Dani, 
Ernest Coklat, dan Ridho Slank adalah sebagian dari deretan artis yang jadi 
langganannya. Gitar buatannya dapat diadu kualitasnya dengan gitar merek-merek 
ternama. Bisnisnya mulai dikenal luas saat  krisis moneter melanda tahun 1998. 
”Orang tak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk dapat memiliki gitar yang 
bagus,” ujar Witirto, 61 tahun, yang akrab dipanggil Tirto ini. 
Belum lama ini, seorang pengusaha dari Malaysia menawarkan suatu bentuk kerja 
sama pembuatan gitar yang berskala besar. Tapi Tirto masih mempertimbangkannya. 
Ia takut nanti gitarnya akan dicap buatan Malaysia. 
Tirto mengatakan bahwa ia mulai mengenal gitar sejak duduk di bangku kelas 2 SD 
di Magelang ketika seorang tetangga mengajarinya memainkan lagu-lagu The 
Beatles. ”Saya juga dipinjami gitarnya. Gitar buatan Eropa memang bagus 
suaranya. Itulah yang memicu saya untuk bisa memiliki gitar yang berkualitas,” 
ujarnya. 
Ia merasa tidak puas dengan gitar buatan lokal yang ada waktu itu, tapi 
koceknya tak cukup tebal untuk membeli gitar idaman. Hingga menginjak kelas 1 
SMP, kakaknya, yang memang menguasai teknik pengolahan kayu, mengajarinya 
membuat gitar. Dengan modal sebuah gitar tua milik paman yang sudah tak 
terpakai lagi, Tirto mulai bereksperimen. ” Biar rusak, itu gitar dari luar 
negeri. Saya mau lihat jeroan-nya seperti apa? Saya rendam di bak mandi sampai 
lepas semuanya,” katanya. 
Setelah bagian-bagian gitar itu lepas semua, Tirto akhirnya tahu bahwa kayu 
yang dipakai berasal dari jenis yang bagus. ”Pantesan suaranya enak,” imbuhnya. 
Sejak saat itulah, tepatnya tahun 1961, ia lebih fokus untuk belajar membuat 
gitar daripada memainkannya. 
Hobi ini tetap dibawanya serta ketika ia hijrah ke Jakarta setelah kenaikan 
kelas 1 SMP. Lulusan SMA 8 Bukit Duri ini kemudian melanjutkan pendidikan di 
Universitas Tujuh Belas Agustus di jurusan Tata Niaga. 
”Selama tahun 1961 sampai 1971 saya sering bikin gitar. Tiap selesai membuat 
saya pajang di rumah. Teman-teman saya maunya gratisan, maen bawa aja,” seloroh 
Tirto mengenang sikap sobat-sobatnya dulu. 
Kepercayaan sebagai seorang guitar maker mulai muncul ketika seorang temannya 
datang berkunjung ke rumah. Kebetulan ada sebuah gitar yang baru selesai 
dibuat. Sang teman kemudian memainkan dan terpesona oleh suaranya. Tanpa ragu, 
ia menulis cek sebesar US$ 75 untuk membeli gitar Tirto. Dengan kurs sekitar Rp 
2.000,- di tahun 1971, berarti gitarnya laku Rp150.000. Padahal di Pasar Rumput 
waktu itu, sebuah gitar hanya dibandrol Rp 7.500 sampai Rp15.000.
”Percaya diri saya timbul karena teman saya itu seorang pemain betulan yang 
sudah sering manggung di mana-mana. Sejak tahun 1971 itulah saya merasa gitar 
saya sudah layak jual,” tambahnya. 
 
 
 


      

Kirim email ke