Milisters semuanya ysh, Sebenarnya saya tak mau ikutan diskusi ttg keblat papat limo pancer (k45p) ini…… tapi apa boleh buat host postingtainment kita kemarin menyinggung jg masalah penerapan oleh orang2 Jawa diluar Jawa dan kawasan transmigrasi dan beliau nunjuk, maka terpaksa saya ikutan sedikit…… Tak banyak mengerti soal keblat 4-5 pancer itu…. Tapi setidaknya model tata ruang k45p ini adalah model mistikasi tata ruang peruntukan bagi raja atau especially raja Mataram/ Yogya (walau sblmnya malah sudah ada sejak Majapahit atau lbh lama lagi)…. maka ia bersifat aristosentrik….dan benar spt kata rekan Djarot bhw k45p lbh banyak mengandung dan mengutamakan dimensi spiritual berikut aspek energi gaibnya… dan barulah sesudahnya dimensi sosial ekonomi sekedar menempel dibelakangnya……. Sementara itu proyek transmigrasi (kecuali yg pertama 1904, di Lampung) adalah model tata ruang pemerintah republik/ planologik/ demokratik…. Yg lbh mengandung dimensi ekonomi dan sosial dan tak lagi berkait dgn masalah hubungan rakyat dan raja atau bahkan antara raja dan Tuhan……. Apalagi semasa orde baru kita tahu sendiri… selain recruitnya tak melulu orang jawa saja lagi…. target2 recruitnya jg kuantitatip dan sementara itu tak semua orangsuka transmigrasi…… maka program transmigrasi menjangkau targetnya dgn cara a.l. membujuk orang2 susah di Jawa termasuk spt pemulung, tunawisma dsb agar pindah keluar Jawa yg padat….. atau kalau di Deli menjadi kuli kontrak..… jelas bhw tak ada kedekatan migran dgn pemikiran2 filosofi keruangan model apapun ditempat mereka yg baru….. Bahwa tak lagi seperti masa 1904 dimana transmigrasi (kolonisasi) lbh merupakan resettlement yg benar2 bedol desa dgn keleluasan replikasi budaya dari tempat asal….. transmigrasi pasca kemerdekaan tak lagi memiliki banyak keleluasan keruangan…..tak hanya dalam satu unit pemukiman… bahkan dalam satu blok pemukiman pun transmigran bisa berasal dari bbrp suku…. atau kalau yg dari jawapun juga berasal campuraduk dari kabupaten pedalaman maupun pesisiran….jg campuraduk bahasa baik Jawa maupun Banyuwangi/ Madura dsb…. Sehingga budaya mistik keruangan k45p itu semakin tak lagi terpikirkan…… paling2 dilokasi transmigrasi sisa2 nostalgia budaya ditempat asal sekedar diwujudkan berupa bahasa sehari2 serta pemberian nama-nama jalan lokal diblok2 pemukiman dgn nama2 pewayangan spt Samiaji, Werkudoro (Bima), Madukara, Kresno, Abimanyu, Gatotkaca dan tak kurang ada juga jalan Abiyoso di lokasi transmigrasi Batumarta SumSel sana….. Tapi kembali ke spatial planning mistis yg mengandung unsur enenrgi gaib Jawa k45p tadi itu….. Falsafah Kiblat 4-5 pancer yg lalu memiliki aspek energi di 4 arah mata angin yg semula berasal dari pengertian Dulur 4-5 Pancer (4 saudara/air ketuban, ari2, darah persalinan, potongan pusar - dan 1 diri kita sendiri) dimana dgn kita mengaktifkan ritual tertentu orang lain lalu setidaknya dapat melihat halusinasi kembaran sosok dari diri kita…. K45p ini juga dihubungkan pula dgn hitungan hari2 pasaran yg jumlahnya 5 pula, bahkan juga energi sinar serta warnanya…. Seperti Legi/ timur/ udara/ sinar putih…. Paing/ selatan/ api/ sinar merah….Pon/ barat/ air/ kuning….. Wage/utara/ tanah/ sinar hitam… dan terakhir Kliwon dipandang sbg ‘pusatnya’/ jiwa/ bermacam warna sinar….. Tak hanya itu… k45p bahkan ada yg menghubungkan dgn sosok 4 punakawan dan 1 ksatria yg kemana2 selalu ber-5 pergi bersama2…. Sebenarnya para advanced learners ilmu Kejawen yg melingkupi k45p itu banyak mengatakan bahwa k45p yg asalnya adalah dulur4 5 pancer itu belumlah apa2….. yg jauh lebih canggih lagi adalah energi ke 6 dan ke-7 yg berasal dari udara yg dihirup dan dikeluarkan ketika siibu mengejan dalam melahirkan kita… yg ia bahkan dpt berkomunikasi dgn kita dan menjaga kita… namun mungkin itu dipandang sebagai tak kebanyakan orang mampu menggalinya dan memahaminya….. sehingga brkali yg lbh sederhana dan mudah dan orang kebanyakan lbh dapat memahaminya lalu adalah filosofi k45p tadi itu…… dan barangkali juga konstelasi angka 4 dan 1 itu kompatibilitas dgn banyak sekali fenomena alam yg konkrit disekitar kita jauh lbh luas dan luwes …..maka lalu berkembanglah falsafah tata ruang mistik aristosentrik k45p itu…….. Dimata orang Jawa, keraton itu dipandang keramat. Kawula takut kuwalat jika berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu berasumsi bahwa raja itu memiliki kuluk kanigara, yaitu mahkota yg esensinya memuat kewibawaan. Mahkota/ makutha menyimpan hal-hal yang "the seen" dan "unseen worlds". Yang kasatmata, makutha itu benda berharga, yg ada di balik barang itu, adalah lambang kesaktian, kekuasaan, sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Maka ketika dipimpin raja, kawula merasa adhem ayem, tenang. Kosmologi keraton Yogya tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen. Masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui jenjang ciptaan Yg Maha Kuasa yang disebut Tribuwana, terdiri atas Guru loka (baitul makmur), Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul muqadas). Guru loka dalam posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi. Gunung berada utara (lor, utama), luhur. Posisi tengah yaitu Endra loka. Endra artinya raja. Raja kehidupan tidak lain hati (rasa sejati). Adapun Jana loka adalah gambaran kawula, rendah, dan bawah. Ketiga ranah filosofi-kosmis ini lalu memposisikan keraton sebagai sentral/ pustnya. Pemikiran kosmologi Jawa kemudian berkembang lagi, dari Tribuwana menjadi Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan keraton sebagai pusat. Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer. Artinya, bahwa buwana manusia selalu dilingkupi oleh empat anasir dan keraton sebagai sentral (pancer) kehidupan. Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat, yaitu Kampung Gandamanan (Timur), Kampung Krapyak (selatan), Barat (Wirabrajan), Utara (Jetis). Makna filosofi Kampung Gandamanan ini jika ditarik ke utara lurus, simetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu). Adapun Kampung Wirabrajan jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung Pingit, sebelah barat Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai bahwa keraton itu diapit oleh dua nama kampung yang melambangkan hidup (Pingit, berarti suci) dan mati (Gandalayu, artinya bau bangkai). Hal ini ditandai pula, bahwa Kampung Pingit itu dialiri sungai Winanga dan Kampung Gandalayu dialiri Sungai Code. Winanga, berasal dari bahasa Jawa winong, artinya paham, ketahuilah, dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu Tuhan. Sebaliknya, jauhilah yang buruk, berbau bangkai, yang dilambangkan Sungai Code (dalam bahasa Jawa, cocode, kejelekan). Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu menyebarkan ruh kosmis, yaitu: (1) memberi perlindungan (hangayomi), (2) memberi rasa aman, tenang, dan tenteram (hangayemi), (3) memberi berkah berbagai hal (hamberkahi). Ketiganya tergambar pada watak raja yang mahambeg paramarta. Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan kepada kawula. Kawula memandang sultan sebagai figur yang mampu amangku-amengku. Amangku, artinya bisa menciptakan suasana tenang, adhem ayem, memahami aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang ibu memangku anaknya. Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak semena-mena, penuh kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti halnya sayap ayam melindungi anaknya. Among-momot, artinya mampu memimpin dengan kultur kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi segala keinginan kawula. Rekan H. Ekadj yg adalah raja dan pemimpin adat disalah satu kawasan Sumatera Barat kiranya boleh juga kalau mau coba menerapkan filosofi keblat 4 5 pancer itu utk tata ruang disana…… konsultasi lengkapnya bisa ke mas Djarot dan pak BSP…..… Salam, aby On Wed, July 22, 2009 4:27 AM "ffekadj" <4ek...@......> wrote : Pak Djarot ysh, sebenarnya ada dua hal yang ingin saya tanyakan, yaitu : 1 Bagaimana konsep keblat papat limo pancer itu diterapkan di luar Jawa? Saya sering memperhatikan bagaimana orang Jawa yang berada di luar Jawa menentukan orientasinya, dan kelihatannya agak 'miss' gitu. Atau ada orientasi bentukan baru? Untuk permukiman yang dominan seperti transmigrasi, kelihatannya belum terlalu terlihat, atau malah lebur. Yang tertinggal hanya 'bahasa Jawa'-nya saja? Mungkin Pak Aby bisa sekalian membantu. Namun ada yang mewujud seperti Lampung, ada kreativitas membangun orientasi sendiri. Untuk 'Jawa Deli', saya kira sudah lebur. Dulu saya sempat bergaul dengan keluarga-keluarga Jawa Suriname di Belanda, tidak terlalu 'kontak', namun komunikasi bisa intens bila menggunakan basa Jawi. 2 Untuk aspek 'saudara bayangan' (9 unsur) dll sebenarnya dapat terjawab secara Islamologi, namun kelihatannya hal ini sangat nyata dalam pandangan Katholik sebagai diskusi yang dulu ? Sehingga saya ingin menanyakan sedikit tentang konsep 'Roh Kudus' secara Christology bila berkesempatan ? Salam. -ekadj

