Pak Risfan ysh, sekarang tentang puisi. Apa yang saya tangkap dari puisi itu adalah 'culture shock' yang tidak bisa dihindarkan. Anak Rangkasbitung itu berada dalam persimpangan, setelah terbiasa dengan locality kemudian menatap sistem budaya yang jauh berbeda. Keinginannya sih pengen tetap menjadi anak kampung, namun godaan untuk menjadi Malin Kundang <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/187> juga cukup besar. Saya kira fenomena ini dihadapi oleh siapa pun yang pernah 'merantau', termasuk seorang sahabat saya yang lagi nongkrong di Champs-Élysées dsk.
Mungkin perbenturan budaya bisa melahirkan kreativitas, siapapun yang pergi merantau cenderung lebih kreatif, seperti Shibusawa Eeichi <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3433> . Nah ini menarik dalam kajian budaya kita. Beberapa sistem budaya kita juga menyuruh anak-anak muda untuk pergi merantau : kerakap madang di hulu - berbuah berbunga belum - merantaulah bujang dahulu - di rumah berguna belum. Ah bicara merantau, saya melihat di bioskop ada poster baru : film "Merantau <http://www.youtube.com/watch?v=jPEOXiXVlbI&feature=related> ". Teringat ajakan Pak Onnos untuk kopi darat, bagaimana kalau kali ini kita nonton bareng. Yuuk. -ekadj --- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote: > > Rekans ysh, > > Mungkin untuk merasakan benturan budaya "desa vs global" dalam pemahaman seseorang bisa dirasakan dalam potongan Sajak WS Rendra berjudul "Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam" (Kompas, 9 Agustus 2009). Dalam kajian kualitatif pengalaman seseorang kan jadi obyek observasi juga (?). Sajak yang ditulis tahun 1990 ini bisa juga dianggap sebagai potret yang bisa diproyeksikan ke depan ala futurolog seperti Toffler, Naisbitt, dst. > > "................... > Aku merindukan desaku lima belas kilo dari Rangkasbitung. Aku merindukan nasi merah, ikan pepes, desir air menerpa batu, bau khusus dari leher wanita desa, suara doa di dalam kabut. > > Musna. Musna. Musna. Para turis, motel dan perkebunan masuk desa. Gadis-gadis desa lari ke kota bekerja di panti pijat, para lelaki lari ke kota menjadi gelandangan. Dan akhirnya digusur atau ditangkapi disingkirkan dari kehidupan. Rakyat kecil bagaikan tikus. Dan para cukong selalu siap membekali para penguasa dengan semprotan antihama. Musna. Musna. Musna. > > Kini aku di sini. Di Rotterdam. Menjelang subuh. Angin santer. Jendela tidak terbuka, tapi tirainya aku singkapkan. Kaca basah. Musim gugur. Aku mencium bau muntah. Orang Negro histeri ketakutan dikejar teror orang kulit putih di tanah leluhurnya sendiri di Afrika Selatan. Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan. Dan lantaran ada tambang intan di sana, kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih juga termasuk yang demokrat, memalingkan muka, bergumam seperti orang bego, dan mengulurkan tangan di bawah meja, melakukan kerja sama dagang dengan para penindas itu. Dusta. Dusta. Dusta. Ya, Allah Yang Maharahman! Tanganku mengambang di atas air bersama sampah peradaban. > > Apakah aku akan berenang melawan arus? Langit nampak dari jendela, Ada hujan bulu-bulu angsa. Aku hilang di dalam kegagapan. Ada trem lewat. Trem? Buldoser? Panser? Apakah aku akan menelpon Linde? Atau Adrian? Berapa lama akan sampai kalau sekarang aku menulis surat kepada Makoto Oda di Jepang? Sia-sia. Musna. Dusta. > > Rotterdam! Rotterdam! Hiruk-pikuk suara pasar di Jakarta. Bau daging yang terbakar. Biksu di Vietnam protes membakar diri. Perang saudara di India yang abadi. Aku termangu. Apakah aku akan menyalakan lampu? Terdengar lonceng berdentang. Berapa kali tadi? Jam berapa sekarang? Ayahku di Rangkasbitung selalu bertanya: Kapan kamu akan menikah? Apakah kamu akan menikah dengan perempuan Indonesia atau Belanda? Kapan kamu akan memberiku seorang cucu? Apakah lampu akan kunyalakan? Di Rangkasbitung pasti musim hujan sudah datang. Kenapa aku harus punya anak? Kalau perang dunia ketiga meletus nuklir digunakan, angin bertiup, hujan turun, setiap mega menjadi ancaman. Jadi anakku nanti harus mengalami semua ini? Rambut rontok. Kulit terkelupas. Ampas bencana tidak berdaya. Ah, anakku, sekali kamu dilahirkan tak mungkin kamu kembali mengungsi ke dalam rahim ibumu! > > ......................." > > (selangkapnya bisa diklik di http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/09/02555438/sajak-sajak.rendra ) > > Salam, > Risfan Munir > > --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote: > > > > Rekans, > > > > Kalau gak salah para futurolog juga mendeteksi adanya "global paradox", makin global masyarakat dunia, justru lebih menyukai hal-hal yang berbau lokal, karena bagi mereka yang sering bepergian adanya gejala "seragam" dalam hal musik, fashion, makanan "membosankan" sehingga merindukan hal-hal yang punya nuansa lokal. Toffler juga bilang,justru di tengah globalisasi banyak muncul koran-koran komunitas/lokal. > > Saya pernah mendampingi expatriat yang setiap masuk hotel dan restoran selalu protes ke pengelolanya supaya jangan muter musik itu (Kenny G. waktu itu). Muak katanya, di LA, di Beijing, di Bangkok, di Solo kok semua hotel/cafe musiknya itu. > > > > Masyarakat kita umumnya (termasuk yang di pelosok) pengetahuannya tentang berita global mungkin lebih luas dari mereka yang di negara maju, karena program global disini banyak ditayangkan/ditonton. Sebaliknya masyarakat di negara maju malah cuma nonton acara lokal mereka saja. Pengetahuan global ini bisa membuka pikiran,tapi juga menciptakan harapan berlebihan,sehingga mereka (yang muda) resah dan memilih pindah ke Jakarta/Jawa. > > > > Di sisi lain, kalau mau mengembangkan produk kreatif (lokal), juga pariwisata, selain mengenali dan menonjolkan budaya lokal, harus tahu pula bagaimana "perilaku" pelancong dalam menikmati, menggunakan produk kreatif budaya lokal tersebut. Mungkin cara menikmati/menggunakannya beda dengan komunitas (pemilik) nya. Artinya produk lokal perlu dikemas sesuai selera global. > > > > Pemasar HP misalnya mempelajari (mungkin dengan etnografi) perilaku pengguna HP di Indonesia yang gandrung model baru itu. Sehingga yang ditojolkan adalah hal yang disukai masyarakat disini,misalnya Facebook. Sehingga dalam iklan-iklan sekarang untuk kelas produk tertentu yang ditonjolkan adalah tersedianya fasilitas Facebook,dari pada keunggulan lainnya. Ini produk global yang di"lokal"kan penggunaannya disini. > > > > Ada juga istilah "glocal",nah apapula ini..... > > > > Salam, > > Risfan Munir

