--- In [email protected], muhammad koeswadi <m_koesw...@...>
wrote:
>
> asw Pro Rekans
>
>
>
> Jagad Jawa sudah mulai digelar, maka sekalian kita terus menggelar
simpanan Jagad-jagad nusantara lainnya. Mana jagad Banjar… Yang
saya
> ketahui masyarakat Banjar menyebar ke wilayah lainnya sembari mereka
meluaskan perannyaÂ
> sebagai saudagar tangguh, antara lain di kota Solo, sekitar pasar
Klewer
> ada sekelompok pemukiman masyarakat Banjar.
>
>
> Juga jagad Ambon, yang telah menyebar ke banyak kota di
> Indonesia, dengan sebutan kampong Ambon. Bahkan masyarakat Ambon juga
menyebar
> hingga manca Negara, khususnya di Belanda. Apakah ada karakter
pemukiman yang
> bercorak Ambon di sana? Mungkin rekans boleh mengulas pengalaman
bersama mereka
> di mancanegara ini.
> Salam Koes, JKT.


Pak Koes ysh,

Saya sebenarnya menyimpan satu buku tua yaitu "Ilmu Bumi Militer
Indonesia" karya Kol (inf) R. Soegondo. Menurut penuturan seorang
purnawirawan, penulis tersebut adalah bekas KNIL namun buku itu menjadi
bahan ajar di sekolah-sekolah militer terutama pada tahun 1960-an.
Beberapa penggambaran suku bangsa disampaikan dalam buku secara lugas,
dan sebagian telah saya sampaikan di milis Kebudayaan tahun lalu, yaitu
:

- Umum <http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/337>  (juga
saya quote di bawah)

- Minangkabau, Palembang, Jambi, dan Melayu
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/338>

- Bali dan Sasak <http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/339>

Sebentar akan saya coba ketikkan kembali untuk suku Jawa. Sementara
demikian dulu. Salam.

-ekadj



Rekan-rekan ysh,

Dari perpustakaan pribadi almarhum orangtua di Medan, saya menemukan
sebuah buku. Saya teringat dulu pernah ingin membawa buku itu ke
Jakarta, namun dilarang, karena almarhum masih menggunakan buku tersebut
untuk referensi beliau.

Buku tersebut "Ilmu Bumi Militer Indonesia, Djilid II", karya R.
Soegondo (Kolonel Inf), diterbitkan oleh Penerbit Pembimbing tahun 1954.
Saya mencari-cari jilid I-nya, namun tidak ketemu. Buku jilid II ini
terdiri atas 2 bagian, yaitu 1 pemerintahan atas penduduk, dan 2
penduduk Negara Indonesia. Bagian pertama terdiri atas 9 bab: menyangkut
mengenai daerah, pembagian daerah untuk kepentingan angkatan perang,
pemerintah, dpr, pengadilan, keuangan, perundang-undangan, pertahanan
Negara, serta pemeliharaan ketertiban dan keamanan umum. Sedangkan untuk
bagian kedua  terdiri atas 10 bab: yaitu pemandangan umum, penduduk
Negara Indonesia, rumah-rumah dan tempat-tempat diam, senjata-senjata,
alat-alat, sifat-sifat pelbagai suku bangsa Indonesia, adat-istiadat dan
kebiasaan, Hinduisme, agama Islam, dan agama Kristen.

Buku ini sangat menarik hati, mengingat informasi yang disajikan cukup
lengkap dan jujur, suatu bahan untuk mengembangkan kajian spatial
culture kita. Acuan referensi yang digunakan penulis cukup lengkap, pada
umumnya merupakan literatur Belanda dari berbagai generasi. Saya ingin
menulis ulang beberapa bagian dari buku itu sebagai informasi kita
bersama. Sebelumnya agar dimaklumi bila buku ini ditulis pasca perang
kemerdekaan dengan referensi yang tertentu pula, dan sepertinya
ditujukan untuk pembekalan pengetahuan untuk perwira militer pada masa
itu. Saya berharap informasi ini dapat dimaklumi dengan kearifan, tiada
maksud lain selain memperkaya pengetahuan tentang masyarakat nusantara
dari referensi-referensi tua kita. Bilamana diperlukan diskusi,
mudah-mudahan para pakar antropologi dapat membantu mengarahkan.

Saya loncat dulu ke bagian kedua Bab VI tentang Sifat-sifat Pelbagai
Suku Bangsa Indonesia. Mengingat isi bab cukup banyak, saya coba
memilah-milah bahan ini dalam postingan, dan tentunya tidak keseluruhan
akan disampaikan mengingat waktu dan kesempatan. Saya lakukan sedikit
perbaikan redaksi agar sesuai dengan EYD. Demikian sementara waktu.
Salam.

-ekadj



"Umum

Seorang perwira yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang terdiri
dari pelbagai suku bangsa, perlu sekali mengetahui sifat-sifat tabiat,
adat-istiadat, kebiasaan, agama dan kebudayaan serta pengetahuan dari
suku-suku bangsa itu.

Lagi pula ia harus paham akan cara hidup, pendapat-pendapat dan
pengertian tentang agama dan kemasyarakatan dari orang-orang yang ada di
bawah perintahnya. Dengan lain kata, ia harus mempelajari dengan teliti
ilmu tanah (sebagian telah dimuat dalam jilid I) dan ilmu bangsa dari
Indonesia (sebagian dikupas dalam jilid ini). Dengan jalan demikian ia
tak akan membuat tindakan-tindakan atau tak akan mempunyai
pendirian-pendirian yang salah dan sangat merugikan, baik untuk
kepentingan Negara, maupun untuk kepentingan dirinya sendiri.

Syarat-syarat untuk menjadi perwira harus lebih berat lagi, apabila ia
harus melakukan kewajibannya dalam tentara yang modern, yaitu tentara
yang sebagian besar terdiri dari wajib tentara. Dalam hal itu semua
wajib tentara dipaksa harus mengikuti latihan militer. Mereka berasal
dari pelbagai lapisan masyarakat; derajatnya, kedudukannya, corak
politiknya, dsb sangat berbeda.

Berhubung dengan uraian di atas ini, maka saya menyediakan tempat untuk
mengupas soal-soal yang disebut dalam permulaan bab ini.

Mengenai sifat-sifat tabiat, dapat dikatakan, bahwa dengan mengenal
betul-betul sifat-sifat tabiat prajurit-prajuritnya, seorang perwira
akan mengetahui juga cacat-cacatnya, sehingga ia akan dapat menggunakan
sifat-sifat baik yang tersembunyi dalam dada mereka.

Kalau seorang perwira telah paham akan sifat tabiat itu, maka ia akan
mengerti bahwa, oleh karena sifat-sifat dari pelbagai suku bangsa, yang
tentu sangat berlainan itu, tidak pada tiap-tiap prajurit akan terdapat
kesukaan dan bakat untuk menjadi prajurit. Beberapa suku bangsa
mempunyai sifat gagah berani, oleh karena itu mudahlah baginya untuk
menyesuaikan dirinya dalam ketentaraan; beberapa suku bangsa lainnya
bersifat pasif, lebih banyak minta perhatian si pendidik.

Maka oleh karena itu harus dianggap sebagai syarat mutlak bagi tiap-tiap
perwira untuk mempunyai pengertian dalam tentang sifat-sifat tabiat dari
pelbagai suku bangsa, terutama sifat-sifat yang penting dipandang dari
sudut kemiliteran.

Sayang sekali bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk meninjau
sifat-sifat tabiat ini, pada umumnya diambil dari sumber-sumber asing,
khususnya dari sumber Belanda, seperti juga halnya dengan bahan-bahan
lain mengenai ilmu tanah dan ilmu bangsa Negara kita.

Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad, telah beberapa
kali bertempur menghadapi pelbagai suku bangsa Indonesia. Dalam
pertempuran-pertempuran itu Belanda menggunakan beberapa suku bangsa
Indonesia juga (Jawa, Sunda, Madura, Timor, pelbagai suku bangsa Maluku,
Minahasa, Batak, Bugis, Melayu). Oleh karena itu Belanda banyak
mempunyai kesempatan untuk mempelajari dan mengumpulkan catatan-catatan
mengenai sifat tabiat tiap-tiap suku bangsa Indonesia yang masuk dalam
tentaranya.

Apabila pembaca merasa, bahwa sifat tabiat mengenai suku bangsanya
kurang tepat, maka janganlah dilupakan, bahwa yang diuraikan dalam kitab
ini adalah merupakan pendapat-pendapat yang berdasarkan penyelidikan dan
pengalaman dalam waktu yang berabad-abad lamanya dan yang termasuk dalam
pertanggungan jawab si penimbang.

Lagi pula seperti hal-hal lainnya, sifat-sifat tabiat itu dapat berubah
juga, menjadi baik atau menjadi buruk, semuanya berhubung dengan
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kemerdekaan yang telah kita capai
misalnya, dapat membawa sifat perasaan tanggung jawab yang lebih besar,
akan tetapi dapat pula mengurangi sifat baik bangsa Indonesia pada
umumnya, ialah rajin bekerja. Oleh karena masuknya ideologi baru, maka
sifat takut berubah menjadi sifat berani, sehingga timbul semangat untuk
berjuang mati-matian.

Uraian sifat-sifat tabiat itu, mengenai suku bangsa sebagai satu
golongan masing-masing dan tentulah di antaranya banyak orang-orang yang
mempunyai sifat sebaliknya. Jika misalnya bangsa Aceh terkenal sebagai
bangsa yang gagah berani, maka dengan sendirinya di antaranya terdapat
juga orang-orang yang bersifat penakut. Kalau bangsa Minahasa dianggap
sebagai bangsa yang baik sebagai prajurit, maka tentu di antaranya
banyak orang-orang yang tidak mempunyai sifat demikian.

Akhirnya perlu dikemukan, bahwa dengan meninjau sifat-sifat itu, buku
ini tidak mengandung maksud untuk menimbulkan silang-selisih antara
suku-suku bangsa Indonesia, akan tetapi sebaliknya untuk memenuhi
kepentingan bangsa dan Negara. "

Kirim email ke