Baik Pak Koes ysh, saya coba ketik suku Jawa dan Sunda sebagaimana di bawah.
Kelihatannya di masa lampau banyak penilaian negatif tentang suku-suku
bangsa ini, yang sekarang tentunya sudah tidak demikian. Ini merupakan salah
satu hikmah 64 tahun kemerdekaan kita, yang telah mentransformasikan social
engineering bagi masyarakat kita. Adapun untuk hal-hal positif akan kita
pertahankan. Kita jadikan pelajaran untuk kedepan lebih baik.
Mengenai bukunya, boleh saja difotokopi, karena saya rasa sudah melewati
masa hak cipta (50 tahun), apalagi bukan untuk komersial.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-64.
Merdeka!

-ekadj


*Bangsa Jawa*

Pada umumnya bangsa Jawa itu sangat cinta dan manja pada tempat tumpah-darah
dan sekitarnya, mereka tertarik pada pertanian dan oleh karena itu - menurut
anggapannya - tak adalah yang lebih bahagia dari pada mengusahakan tanah
atau ladangnya.

Sekalipun tidak berbadan kuat, tetapi karena sifatnya yang bersahaja itu,
orang Jawa mempunyai cukup tenaga untuk memenuhi syarat-syarat berat yang
dituntut dari tiap prajurit untuk melakukan kewajibannya dalam medan
pertempuran.

Pada pokoknya watak bangsa Jawa adalah baik. Ia tidak mempunyai sifat-sifat
yang nyata sekali, artinya, sifat-sifat itu hanya kadang-kadang saja
terlihat. Kebanyakannya mempunyai hati lemah, yakni lekas menaruh belas
kasihan dan lekas memberi hati (misalnya mengabulkan permintaan yang
sebenarnya harus ditolak).

Biasanya ia bersifat tenang dan tegur sapa, keperluannya sedikit serta sejuk
hati. Ia tidak bersifat riuh, walaupun sekali-sekali terjadi demikian;
senda-guraunya beraturan dan biasanya tak banyak bicara.

Kelalaian dan kekurangan pikiran jelas terlihat kalau beramai-ramai; hal ini
merupakan saat yang terpenting dalam kehidupannya. Ia suka sekali berpesta
dan untuk itu ia sanggup mengorban apapun juga.

Karena kelalaiannya ia tak rajin mengerjakan sesuatu pekerjaan, yang ia
dapat kerjakan esok harinya. Acap kali kelalaian itu dianggap sifat malas,
akan tetapi siapa yang pernah melihat bagaimana orang Jawa bekerja di sawah
atau bagaimana seorang murid bangsa Jawa mengikuti pelajaran di sekolah,
tentu akan sependapat, bahwa bangsa Jawa itu tidak bersifat malas.

Barangkali tak ada suatu suku bangsa yang begitu lembut, tenang dan suka
menurut seperti bangsa Jawa, seringkali kelembutannya itu menyerupai
ketakutan, sehingga ia menjauhi segala apa yang mungkin tidak dapat
persetujuan pembesar atau atasannya. Sifat itu acapkali membujuknya untuk
berbicara tidak sebenarnya. Apabila kita faham benar akan bahasanya serta
kehidupan lahir dan bathinnya, maka hal tersebut dapat mudah dimengerti.

Oleh karena orang Jawa itu aslinya memang bersifat tenang, maka sifat gusar
dan lekas marah jarang sekali terdapat padanya, kecuali jika ia sudah tidak
dapat lagi menahan hawa nafsunya, misalnya kalau ia sedang bermain judi yang
sangat disukainya. Oleh sebab sering makan hati serta sering menahan
marahnya, maka ada kalanya ia menjadi mata gelap lalu mengamuk. Kalau
mengamuk tiap-tiap orang yang dekat padanya dibunuhnya.

Apabila ia mendapat perlakukan yang tidak adil, maka timbullah padanya
perasaan ingin membalas dendam, akan tetapi perasaan itu seringkali tidak
dilahirkan secara terang-terangan.

Pada umumnya ia tidak berlekat pada madat atau minuman keras. Rupa-rupanya
rokok menyan atau cengkih yang sedikit mengandung obat bius itu sudah
memberi kepuasan yang cukup padanya.

Sifat hemat dan ekonomis tak ada padanya. Ia suka hidup berutang, biasanya
sukar untuk dapat membayarnya kembali.

Orang Jawa cinta kepada kanak-kanak dan mempunyai bakat untuk menyesuaikan
dirinya dalam dunia kanak-kanak.

Terlihatnya ia tidak begitu tertarik oleh agama Islam, ia lebih menyukai
agama Buddha atau pengertian-pengertian animis, seperti ternyata dalam
beberapa hal (selamatan, upacara menanam dan memotong padi, kepercayaan pada
Dewi Sri, Nyai Roro Kidul, dsb). Perasaan kolot ada padanya. Sukar sekali
baginya untuk memindahkan dirinya ke dalam keadaan dan pengertian baru.

Seperti juga halnya dengan kebanyakan suku bangsa Indonesia lainnya, dapat
dikatakan, bahwa bangsa Jawa itu termasuk dalam golongan: pelihat dekat,
artinya orang yang baru insaf akan adanya kecelakaan misalnya, apabila ia
telah dekat sekali pada bahaya itu, sehingga sudah tak dapat menolaknya
lagi. Sifat tenangnya menyebabkan, bahwa jarang sekali atau samasekali tidak
pernah ia dengan segera menjerumuskan dirinya dalam sesuatu hal atau
kejadian. Pada umumnya ia berpendirian: sudah nasibnya. Agama Islam
memperkuat pendirian itu dan segala yang terjadi dianggap dan diterima
dengan takdir Allah. Bertawakkal pada hikmat menimbulkan kesan, bahwa ia
adalah kurang aktip dan kurang mempunyai inisiatip.

Suatu adat atau kebiasaannya ialah memberi pertolongan kepada
sanak-saudaranya. Saling memelihara anak dari sanak-saudara merupakan suatu
keharusan baginya. Memberi makan, perumahan dsb. kepada sanak-saudaranya
yang miskin adalah suatu hal, yang oleh para hartawan dianggap sebagai suatu
kewajiban, meskipun pendirian itu kini sudah mulai berkurang. Selain dari
sanak-saudaranya ia hanya mau menolong orang jika diperintahkannya. Lebih
suka ia menjadi penonton saja. Karena gentingnya keadaan, boleh jadi hal ini
tidak segera diinsafi olehnya.

Berhubung dengan sifat tolong-menolong itu, terkenallah pula sifat
gotong-royong, yang diwujudkannya dalam kehidupan di kampung dan di desanya.
Misalnya mendirikan rumah, membuat jalan, mengerjakan tanah atau sawah dsb.

Oleh karena sifat-sifatnya, yaitu sifat suka menurut, cinta akan perdamaian,
tidak riuh, lekas puas dan sabar, maka bangsa Jawa itu adalah suatu bangsa
yang mudah dipegang dan dipimpin.

Bangsa Jawa dapat mudah ditipu dan lekas menaruh kepercayaan pada orang
lain. Inilah sebabnya ia mudah dipengaruhi oleh lintah-lintah darat,
pengasut-pengasut dan orang-orang yang bertabiat buruk.

Pada umumnya sebagai prajurit ia mudah dituntun dan tidak menyukarkan
atasannya. Ia memenuhi syarat-syarat ketertiban dan disiplin, menunjukkan
kerendahan dan hormat terhadap atasannya. Ia pandai sekali menyembunyikan
perasaannya.

Pemimpin yang tidak sabar, lekas marah dan bertindak bengis segera
menimbulkan kebingungan pada prajurit-prajurit bangsa Jawa. Pemimpin pasukan
yang membuktikan rasa hatinya dengan perkataan-perkataan kasar atau dengan
berteriak-teriak, dianggapnya sebagai orang gila atau mabuk. Prajurit bangsa
Jawa yang sudah bingung akan terus-menerus membuat kesalahan; lama sekali
sebelum ia menjadi biasa lagi.

Bilamana diberi pendidikan dan latihan yang tepat, prajurit bangsa Jawa
dapat menjadi penembak yang baik. Ini bertentangan sekali dengan pendapat
lama, yaitu bahwa ia terkenal sebagai penembak buruk. Kepandaian menembak
itu tergantung kepada kecerdasan otak. Pada umumnya, terutama pada waktu
sekarang, prajurit bangsa Jawa adalah cukup cerdas, sehingga latihan
menembak yang diberikan kepadanya niscaya membawa hasil yang memuaskan.

Selanjutnya ia cukup mempunyai semangat untuk beranggar, bersenam dan
berolah-raga; oleh karena keadaan badannya, ia dapat menderita segala
kelelahan dan kekurangan yang bersangkut-paut dengan dinas ketentaraan. Ia
kuat berjalan, pandai bersaba dengan kuda, walaupun ia tidak terkenal
sebagai penunggang kuda yang baik.

Biasanya ia kurang mengindahkan pakaiannya, seringkali ia terlihat
berjalan-jalan seperti orang bacul atau menyelendang anaknya. Hal-hal yang
demikian memberi kesan, seakan-akan ia tak mengindahkan baik-baik
kedudukannya sebagai tentara.

Tentang sifat keberanian dapat dikatakan, bahwa, meskipun sifat itu tidak
terlihat nyata benar, bangsa Jawa itu dapat berjuang dengan giat dan
bersemangat, kalau ia sudah berhadap-hadapan dengan bahaya maut.

Jika komandannya dapat memimpinnya dengan baik, maka bangsa Jawa itu
merupakan prajurit yang dapat dipercaya dalam pertempuran.


*Bangsa Sunda*

Derajat bangsa Sunda yang diam di Jawa Barat ada di antara bangsa Jawa yang
rendah perasaannya dan bangsa Melayu dari Sumatera yang besar hatinya. Pada
umumnya sifat-sifat bangsa Sunda itu adalah sama dengan sifat-sifat bangsa
Jawa.

Bedanya dengan bangsa Jawa ialah, bangsa Sunda adalah lebih riang gembira
dan oleh karena itu kadang-kadang seperti yang kurang sopan-santun; biasanya
ia berani mengemukakan pendiriannya; badannya lebih kuat, sehingga ia tak
begitu dipengaruhi oleh hawa dan iklim; wajah mukanya lebih tajam dan warna
kulitnya kekuning-kuningan.

Melakukan agamanya sebagai orang Islam, bangsa Sunda itu boleh dikatakan
lebih rajin dari pada bangsa Jawa.

Sifat-sifatnya sebagai prajurit hampir sama dengan bangsa Jawa, terutama
dalam gerakan di medan pertempuran. Kegiatannya dalam latihan kemiliteran
adalah sedikit lebih besar.

Perasaan bangsa Sunda terhadap tanah tumpah-darahnya, kampung halamannya,
desanya adalah lebih kekal. Oleh sebab itu biasanya ia kurang merasa senang
ditempatkan di tempat lain, lebih-lebih kalau keluar dari tanah Pasundan.
Rindu akan negerinya seringkali menyebabkan, ia melarikan diri dari
pasukannya. Hal ini mudah dimengerti, apabila dipikirkan, bahwa bangsa Sunda
itu - oleh karena tipisnya penduduk di dalam daerahnya - tidak perlu pindah
ke tempat-tempat atau daerah lain, seperti bangsa Jawa.


2009/8/18 muhammad koeswadi <[email protected]>

>
>
>   Mas Ekadj
>
> Asw, Saya sangat menaruh minat isi buku tua ini. Boleh saya mendapatkan
> copynya? Bagaimana caranya ya..mohon kabar. Syukur bila ada kesempatan saya
> berusaha mencari buku jilid I yang belum ketemu. Saya agak sering keluyuran
> di pasar loak buku, mungkin ada di Tunjungan Surabaya, di pasar besar
> Malang, di pertokoan buku lama di Semarang, di dkt taman pintar Jogja,
> Palasari Bandung, atau di Senen dan TMII JKT.
>
> Mohon bila ada waktu, boleh mas Ekadj postingkan bab-bab tabiat dari
> penuturan Kol (inf) R. Soegondo (1960an) yang tetntunya dia rekam semasa
> pengalaman kolonial. Seperti mas Ekadj sampaikan, mungkin saja untuk ukuran
> sekarang telah mengalami perubahan tabiat. Menurut hemat saya, buku ini
> boleh menjadi informasi berguna bagi pelaku tata ruang dan pembangunan, dan
> agaknya bersesuaian dengan apa yang telah diramaikan dalam milis akhir-akhir
> ini: kearifan lokal, budaya, keyakinan, bahasa daerah, dan unggah-ungguh
> (budi pekerti). Salam, Koes,JKT
>
> --- On *Tue, 18/8/09, ffekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: ffekadj <[email protected]>
> Subject: [referensi] Re: Jagad Banjar - Ambon
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, 18 August, 2009, 5:05 PM
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi <m_koesw...@. ..>
> wrote:
> >
> > asw Pro Rekans
> >
> >
> >
> > Jagad Jawa sudah mulai digelar, maka sekalian kita terus menggelar
> simpanan Jagad-jagad nusantara lainnya. Mana jagad Banjar… Yang saya
> > ketahui masyarakat Banjar menyebar ke wilayah lainnya sembari mereka
> meluaskan perannyaÂ
> > sebagai saudagar tangguh, antara lain di kota Solo, sekitar pasar Klewer
> > ada sekelompok pemukiman masyarakat Banjar.
> >
> >
> > Juga jagad Ambon, yang telah menyebar ke banyak kota di
> > Indonesia, dengan sebutan kampong Ambon. Bahkan masyarakat Ambon juga
> menyebar
> > hingga manca Negara, khususnya di Belanda. Apakah ada karakter pemukiman
> yang
> > bercorak Ambon di sana? Mungkin rekans boleh mengulas pengalaman bersama
> mereka
> > di mancanegara ini.
> > Salam Koes, JKT.
>
> Pak Koes ysh,
>
> Saya sebenarnya menyimpan satu buku tua yaitu "Ilmu Bumi Militer Indonesia"
> karya Kol (inf) R. Soegondo. Menurut penuturan seorang purnawirawan, penulis
> tersebut adalah bekas KNIL namun buku itu menjadi bahan ajar di
> sekolah-sekolah militer terutama pada tahun 1960-an. Beberapa penggambaran
> suku bangsa disampaikan dalam buku secara lugas, dan sebagian telah saya
> sampaikan di milis Kebudayaan tahun lalu, yaitu :
>
> - Umum <http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/337> (juga saya
> quote di bawah)
>
> - Minangkabau, Palembang, Jambi, dan 
> Melayu<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/338>
>
>
> - Bali dan Sasak <http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/339>
>
> Sebentar akan saya coba ketikkan kembali untuk suku Jawa. Sementara
> demikian dulu. Salam.
>
> -ekadj
>
>
>
> *Rekan-rekan ysh,*
>
> *Dari perpustakaan pribadi almarhum orangtua di Medan, saya menemukan
> sebuah buku. Saya teringat dulu pernah ingin membawa buku itu ke Jakarta,
> namun dilarang, karena almarhum masih menggunakan buku tersebut untuk
> referensi beliau.*
>
> *Buku tersebut "Ilmu Bumi Militer Indonesia, Djilid II", karya R. Soegondo
> (Kolonel Inf), diterbitkan oleh Penerbit Pembimbing tahun 1954. Saya
> mencari-cari jilid I-nya, namun tidak ketemu. Buku jilid II ini terdiri atas
> 2 bagian, yaitu 1 pemerintahan atas penduduk, dan 2 penduduk Negara
> Indonesia. Bagian pertama terdiri atas 9 bab: menyangkut mengenai daerah,
> pembagian daerah untuk kepentingan angkatan perang, pemerintah, dpr,
> pengadilan, keuangan, perundang-undangan, pertahanan Negara, serta
> pemeliharaan ketertiban dan keamanan umum. Sedangkan untuk bagian kedua  
> terdiri
> atas 10 bab: yaitu pemandangan umum, penduduk Negara Indonesia, rumah-rumah
> dan tempat-tempat diam, senjata-senjata, alat-alat, sifat-sifat pelbagai
> suku bangsa Indonesia, adat-istiadat dan kebiasaan, Hinduisme, agama Islam,
> dan agama Kristen.*
>
> *Buku ini sangat menarik hati, mengingat informasi yang disajikan cukup
> lengkap dan jujur, suatu bahan untuk mengembangkan kajian spatial culture
> kita. Acuan referensi yang digunakan penulis cukup lengkap, pada umumnya
> merupakan literatur Belanda dari berbagai generasi. Saya ingin menulis ulang
> beberapa bagian dari buku itu sebagai informasi kita bersama. Sebelumnya
> agar dimaklumi bila buku ini ditulis pasca perang kemerdekaan dengan
> referensi yang tertentu pula, dan sepertinya ditujukan untuk pembekalan
> pengetahuan untuk perwira militer pada masa itu. Saya berharap informasi ini
> dapat dimaklumi dengan kearifan, tiada maksud lain selain memperkaya
> pengetahuan tentang masyarakat nusantara dari referensi-referensi tua kita.
> Bilamana diperlukan diskusi, mudah-mudahan para pakar antropologi dapat
> membantu mengarahkan.*
>
> *Saya loncat dulu ke bagian kedua Bab VI tentang Sifat-sifat Pelbagai Suku
> Bangsa Indonesia. Mengingat isi bab cukup banyak, saya coba memilah-milah
> bahan ini dalam postingan, dan tentunya tidak keseluruhan akan disampaikan
> mengingat waktu dan kesempatan. Saya lakukan sedikit perbaikan redaksi agar
> sesuai dengan EYD. Demikian sementara waktu. Salam.*
>
> *-ekadj*
>
> **
>
> "Umum
>
> Seorang perwira yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang terdiri
> dari pelbagai suku bangsa, perlu sekali mengetahui sifat-sifat tabiat,
> adat-istiadat, kebiasaan, agama dan kebudayaan serta pengetahuan dari
> suku-suku bangsa itu.
>
> Lagi pula ia harus paham akan cara hidup, pendapat-pendapat dan pengertian
> tentang agama dan kemasyarakatan dari orang-orang yang ada di bawah
> perintahnya. Dengan lain kata, ia harus mempelajari dengan teliti ilmu tanah
> (sebagian telah dimuat dalam jilid I) dan ilmu bangsa dari Indonesia
> (sebagian dikupas dalam jilid ini). Dengan jalan demikian ia tak akan
> membuat tindakan-tindakan atau tak akan mempunyai pendirian-pendirian yang
> salah dan sangat merugikan, baik untuk kepentingan Negara, maupun untuk
> kepentingan dirinya sendiri.
>
> Syarat-syarat untuk menjadi perwira harus lebih berat lagi, apabila ia
> harus melakukan kewajibannya dalam tentara yang modern, yaitu tentara yang
> sebagian besar terdiri dari wajib tentara. Dalam hal itu semua wajib tentara
> dipaksa harus mengikuti latihan militer. Mereka berasal dari pelbagai
> lapisan masyarakat; derajatnya, kedudukannya, corak politiknya, dsb sangat
> berbeda.
>
> Berhubung dengan uraian di atas ini, maka saya menyediakan tempat untuk
> mengupas soal-soal yang disebut dalam permulaan bab ini.
>
> Mengenai sifat-sifat tabiat, dapat dikatakan, bahwa dengan mengenal
> betul-betul sifat-sifat tabiat prajurit-prajuritny a, seorang perwira akan
> mengetahui juga cacat-cacatnya, sehingga ia akan dapat menggunakan
> sifat-sifat baik yang tersembunyi dalam dada mereka.
>
> Kalau seorang perwira telah paham akan sifat tabiat itu, maka ia akan
> mengerti bahwa, oleh karena sifat-sifat dari pelbagai suku bangsa, yang
> tentu sangat berlainan itu, tidak pada tiap-tiap prajurit akan terdapat
> kesukaan dan bakat untuk menjadi prajurit. Beberapa suku bangsa mempunyai
> sifat gagah berani, oleh karena itu mudahlah baginya untuk menyesuaikan
> dirinya dalam ketentaraan; beberapa suku bangsa lainnya bersifat pasif,
> lebih banyak minta perhatian si pendidik.
>
> Maka oleh karena itu harus dianggap sebagai syarat mutlak bagi tiap-tiap
> perwira untuk mempunyai pengertian dalam tentang sifat-sifat tabiat dari
> pelbagai suku bangsa, terutama sifat-sifat yang penting dipandang dari sudut
> kemiliteran.
>
> Sayang sekali bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk meninjau sifat-sifat
> tabiat ini, pada umumnya diambil dari sumber-sumber asing, khususnya dari
> sumber Belanda, seperti juga halnya dengan bahan-bahan lain mengenai ilmu
> tanah dan ilmu bangsa Negara kita.
>
> Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad, telah beberapa kali
> bertempur menghadapi pelbagai suku bangsa Indonesia. Dalam pertempuran-
> pertempuran itu Belanda menggunakan beberapa suku bangsa Indonesia juga
> (Jawa, Sunda, Madura, Timor, pelbagai suku bangsa Maluku, Minahasa, Batak,
> Bugis, Melayu). Oleh karena itu Belanda banyak mempunyai kesempatan untuk
> mempelajari dan mengumpulkan catatan-catatan mengenai sifat tabiat tiap-tiap
> suku bangsa Indonesia yang masuk dalam tentaranya.
>
> Apabila pembaca merasa, bahwa sifat tabiat mengenai suku bangsanya kurang
> tepat, maka janganlah dilupakan, bahwa yang diuraikan dalam kitab ini adalah
> merupakan pendapat-pendapat yang berdasarkan penyelidikan dan pengalaman
> dalam waktu yang berabad-abad lamanya dan yang termasuk dalam pertanggungan
> jawab si penimbang.
>
> Lagi pula seperti hal-hal lainnya, sifat-sifat tabiat itu dapat berubah
> juga, menjadi baik atau menjadi buruk, semuanya berhubung dengan
> faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kemerdekaan yang telah kita capai
> misalnya, dapat membawa sifat perasaan tanggung jawab yang lebih besar, akan
> tetapi dapat pula mengurangi sifat baik bangsa Indonesia pada umumnya, ialah
> rajin bekerja. Oleh karena masuknya ideologi baru, maka sifat takut berubah
> menjadi sifat berani, sehingga timbul semangat untuk berjuang mati-matian.
>
> Uraian sifat-sifat tabiat itu, mengenai suku bangsa sebagai satu golongan
> masing-masing dan tentulah di antaranya banyak orang-orang yang mempunyai
> sifat sebaliknya. Jika misalnya bangsa Aceh terkenal sebagai bangsa yang
> gagah berani, maka dengan sendirinya di antaranya terdapat juga orang-orang
> yang bersifat penakut. Kalau bangsa Minahasa dianggap sebagai bangsa yang
> baik sebagai prajurit, maka tentu di antaranya banyak orang-orang yang tidak
> mempunyai sifat demikian.
>
> Akhirnya perlu dikemukan, bahwa dengan meninjau sifat-sifat itu, buku ini
> tidak mengandung maksud untuk menimbulkan silang-selisih antara suku-suku
> bangsa Indonesia, akan tetapi sebaliknya untuk memenuhi kepentingan bangsa
> dan Negara. "
>
>  .
>
> 
>

Kirim email ke