Pak Aby ysh., Saya forwardkan imel Bapak ini ke milis IKA-UI... Semoga kita dapat tanggapan lebih lanjut dari Prof. Amri. Semuanya tak lebih dari upaya kita bersama untuk mencari sesuatu yang mudah-mudahan berharga bagi kehidupan bersama kita.
Salam, ryz From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of hengky abiyoso Sent: 19 Agustus 2009 8:18 To: [email protected] Cc: [email protected] Subject: [referensi] Re: Dari de Soto Sampai ke Kemiskinan Indonesia Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Menguji Tesis de Soto: Mau? Milisters ysh, Saya sebenarnya tertarik utk menanti tanggapan balik prof. Amri Marsali atas tanggapan panjenenganipun pak BSP sehubungan dgn posting prof. Amri Marsali 16/8 Re: [IKA-UI] Menguji Tesis de Soto: Mau?.... dimilis IKA-UI yg dikutip oleh rekan Yando dgn judul ttg : TENTANG KEMISKINAN INDONESIA…. Tapi sayang bhw selain milis IKA-UI sudah lain kamar… iapun milis eksklusif wa bil khusus pula dan tak terbuka seperti referensi….. sehingga komunikasi hanya dpt dilakukan melalui mediasi rekan Yando yg baik yg kebetulan memiliki kemampuan dpt hidup didua alam tsb..…… tapi walau begitu demi obyektivitas kiranya boleh juga ya kalau kita msh dpt membahas materi diskusi dari kedua beliau tsb dimilis kita ini….…. Intinya… dari 8 poin kesimpulan prof. Amri, pak BSP tak setuju dan nyampaikan tgpnya utk poin no 2, 3 dan 8……..… Dari poin no. 2 (tapi agar utk lengkapnya mari kita cantumkan juga poin no. 1): ++++ : AM :……… 1. Pengalaman pertama saya bekerja sebagai applied anthropologist bersama NGO, memajukan masyarakat terbelakang Indonesia, adalah pada tahun 1974, ketika kami Tim LP3ES berusaha mendorong para entrepreneur Serang untuk membuka mata dan menangkap peluang usaha (opportunities) yang terbuka sebagai dampak multiplier effect dari Rehabilitasi Pabrik Baja PT Krakatau Steel. 2. Apa jawab para entrepreneur pribumi tsb? Kita kurang modal, pak. Kita kurang dibantu pemerintah, pak. Dalam hati saya bergumam, inilah entrepreneur berjiwa hamba sahaya. Tergantung kepada pihak lain! Tidak punya jiwa independent! Tidak memaksa diri untuk berusaha sendiri sekuat tenaga. Kalau anda kebetulan seorang entrepreneur keturunan Cina, apakah anda juga akan mengeluarkan keluhan yang serupa?.............. ------ BSP: …….….. Kalau dikatakan bahwa masyarakat itu tidak berjiwa entrepreneur saya kira tidak akan mungkin muncul demikian banyak sektor informal. 14 hari setleah gempa di Bantul sudah timbul warung2 kecil jualan es. Bahkan demikian "tingginya" jiwa entrepreneurship masyarakat dapat dilihat dari pemilu terakhir. Bagaimana masyarakat mengambil keuntungan dari kegilaan orang2 yang mau nyaleg .... ini adalah jiwa kewirausahaan meskipun salah kaporah. Kalau tergantung pada yang lain saya juga kurang setuju. Mereka saat ini sudah tumbuh dan berkembang. Hanya karena tidak adanya akses terhadap fasilitas saja yang menyebabkan mereka tertekan seperti sekarang. Dan program yang ndakik2 dibangun oleh para cerdik pandai sering tidak melihat kenyataan lapangan…….. >>>>>: Prof. Amri menceritakan pengalaman nyatanya masa 1974 atas masyarakat >>>>>tertentu (terbatas pada para/ bbrp entrepreneur diwilayah Serang) atas >>>>>lokasi penelitian tertentu (somewhere didaerah Serang pula)… tapi pak BSP >>>>>menanggapinya dgn mengatakan ttg ‘sikap umum masyarakat’…… sudah begitu >>>>>apa pengalaman yg diceritakan dari masa 1974 ditanggapi dgn >>>>>membandingkannya dgn kejadian pasca gempa di Bantul (2006)…… ++++ AM: ….. 3. Rakyat pedesaan pribumi yang bermental hamba-sahaya, tidak jujur, santet, di depan sangat sopan tapi di belakang main dukun, pengemplang hutang, pinjam modal dari bank dipakai untuk kawin lagi-beli motor- atau betulin rumah, dll ini saya temukan lagi di daerah penelitian saya Cianjur, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dll. Bgm mengajak maju manusia dgn mental seperti ini?........ -------BSP:….Wuaduh-wuaduh saya kasihan dengan masyarakat pedesaan yang dicap seperti itu mas Yando. Dari pengalaman saya melihat Seluas (Kalimantan Barat), Kefamenanu (NTT), Sentani (Papua), Gunung Kidul (DIY), Talang Padang, dan Krui (Lampung), Bantaeng (Sulsel), Kolonedale (Jatim) justru saya menangkap kejujuran mereka dan kepolosan mereka. Yang sudah rusak justru yang saya temui di pinggiran kota-kota besar dan metropolitan. Ini saya lihat dibanyak kesempatan dan program. Sampai dengan pemilu. Program saya yang diinisasi untuk membantu masyarakat Bantul dan Gunung Kidul dalam kredit sapi ternyata tingkat defaultnya atau kredit bermasalahnya (-0,13%) selama 6 th program!!! Hal ini juga saya temui di NTB. Mereka taat sekali dalam membayar. Tetapi masyarakat pinggir kota besarlah yang sudah diinfiltrasi oleh paham atau nilai2 penduduk urban yang cenderung seperti itu……... >>>>>: Prof. Amri (tentunya bersama tim/kelompoknya/ serta dgn metoda >>>>>antropologis/ sosiologisnya yg dpt dipertgg-jawabkan) menceritakan fakta >>>>>pengalaman/ temuannya ttg penelitian didaerah2 tertentu dari CIanjur, >>>>>SulSel, SumBar. KalTeng dsb…. sebaliknya pak BSP (entah dgn tim/ >>>>>sendirian dan entah sekian lama atau hanya dgn 1 atau 2 hari turba dan dgn >>>>>metoda apa) menanggapinya dgn ‘temuan2’ dari SulSel (wilayah sama, tapi >>>>>desa mungkin beda) dan wilayah lain (KalBar, Kefamenanu, Papua, DIY, >>>>>Lampung, Jatim…….. Apa yg diceritakan oleh pak BSP tentunya adalah fakta… tapi temuan prof Amri saya kira juga fakta…. Apa yg dikatakan oleh prof Amri adalah ttg “manusia dgn mental spt itu” (Amri tdk katakan ttg semua orang desa secara umum spt itu)… mungkin dimaksud agar didapat agenda2 kerja yg fokus ttg bgmn memperbaiki sikap2 yg tdk positip itu selanjutnya… namun sayang itu ditanggapi dgn sikap2 yg terkesan menolak temuan2 faktual spt itu… lalu ganti dicounter dgn sikap2 memuji2 dgn penuh semangat tentang temuan sebaliknya…. Padahal bukankah keduanya dpt disandingkan sebagai dua fakta yg saling melengkapi………. Pengalaman pribadi saya….. dithn 1985 sbg migran dilokasi transmigrasi saya menjual cabe merah hasil tani saya kpd 2 orang ibu2 pedagang dipasar desa Batumarta masing 11kg dan14 kg danmereka janjikan pembayarannya pada pekan berikutnya…. Tapi sampai bbrp pekan sesudahnya mereka terus saja ingkar janji…. Dan ketika pola tagihan saya ubah dgn permintaan bukan lagi uang tapi cicilan barang dagangan yg mereka punyai spt bawang merah 1 kg per pekan misalnya… tetap saja mereka tolak alias walhasil mereka mengemplang 100% piutang saya………… ++++ AM :….8. Untuk level nasional, menurut saya, kita membutuhkan kebijakan pemerintah yang pro rakyat (Robert Bates) dan rakyat modern dan terdidik yang berjiwa entrepreneur tinggi ( Rogers, McClelland, Inkeles, Harrison, Huntington, dll). Yang pertama adalah pendekatan politiko-institusional, dan yang kedua adalah pendekatan psiko-kultural. Kedua-duanya mestinya merupakan tantangan bagi antropolog yang sadar……… ------ BSP: ……. Saya agak kurang paham tentang kata masyarakat modern. Sebenarnya masyarakat modern itu yang bagaimana? Karena saat ini sudah muncul gejala masyarakat yang katanya modern kembali lagi menengok kepada tradisionalitas. Mungkin mas Djarot bisa menjelaskan lebih bagus tentang fenomenologi itu sebenarnya muncul dari sebuah kegelisahan apa? Weber? Habermass?? atau ... ??? Saya justru mengajak kita menengok lebih dalam pada tradisionalitas karena disanalah terdapat kearifan lokal yang sudah terbukti bertahun2 mampu menjawab permasalahan……. >>>>>: Menyangkut pola pemerintahan…. Jelas bhw yg dimaksud dgn modernitas adlh >>>>>demokrasi…. Sedangkan tradisionalitas kita…. apalagi kalau bukan >>>>>kerajaan2, rojo2, para priyayi dan kawulo2?.... Modernitas adalah pola >>>>>pikir nasional dari sabang lewat rawabangke, senayan lalu ke merauke….. >>>>>sedangkan pola pikir tradisionalitas apalagi kalau bukan majapahit, >>>>>srivijaya, tarumanegara, mataram, pajang?......... Modernitas dan entrepreneurship tingkat tinggi adalah industri high value added dan industri kreatif.. dan sebelum itu saya kira pola perekonomian tradisional kita adalah pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, perdagangan, peternakan……lalu mulai ada pertambangan dan permesinan/ pabrikasi…….. Saya kira pemikiran2 lintas disipliner sebaiknya dpt saling menimba masukan…..Saya pikir alangkah baiknya kalau masyarakat planologi dpt secara arif menyerap masukan2 lintas disipliner lain seperti antropologi dan sosiologi dan bukannya menolaknya mentah2….. sebab bagi masyarakat antropologi dan sosiologi apa susahnya sih utk mereka ganti balik melecehkan pemikiran2 planologis… apalagi kalau mereka punya narasumbernya utk bolong2nya planologi?........... Salam, aby Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Menguji Tesis de Soto: Mau? Monday, August 17, 2009 9:53 AM From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Mas Yando ysh, Mohon maaf yang sebesar-besarnya bila saya agak berbeda dengan thesa yang mas Yando sampaikan yaitu : TENTANG KEMISKINAN INDONESIA. 2. Apa jawab para entrepreneur pribumi tsb? Kita kurang modal, pak. Kita kurang dibantu pemerintah, pak. Dalam hati saya bergumam, inilah entrepreneur berjiwa hamba sahaya. Tergantung kepada pihak lain! Tidak punya jiwa independent! Tidak memaksa diri untuk berusaha sendiri sekuat tenaga. Kalau anda kebetulan seorang entrepreneur keturunan Cina, apakah anda juga akan mengeluarkan keluhan yang serupa? Tanggapan saya : Saya sebagai bagian dari birokrat meskipun saat ini berada dipinggiran, harus mengakui bahwa pemerintah belum membantu masyarakat. Salah satu contoh yang menarik adalah pada waktu program anak asuh dan penggunaan dana 2,5% keuntungan BUMN ternyata memang benar2 sukar sekali untuk dipahami masyarakat kecil. BAHASANYA ADALAH BAHASA DEWA2 YANG MUNGKIN UNTUK REKAN2 MILIST DISINI TIDAK KESULITAN TAPI BAGI MASYARAKAT SANGAT SUKAR. Kalau dikatakan bahwa masyarakat itu tidak berjiwa entrepreneur saya kira tidak akan mungkin muncul demikian banyak sektor informal. 14 hari setleah gempa di Bantul sudah timbul warung2 kecil jualan es. Bahkan demikian "tingginya" jiwa entrepreneurship masyarakat dapat dilihat dari pemilu terakhir. Bagaimana masyarakat mengambil keuntungan dari kegilaan orang2 yang mau nyaleg .... ini adalah jiwa kewirausahaan meskipun salah kaporah. Kalau tergantung pada yang lain saya juga kurang setuju. Mereka saat ini sudah tumbuh dan berkembang. Hanya karena tidak adanya akses terhadap fasilitas saja yang menyebabkan mereka tertekan seperti sekarang. Dan program yang ndakik2 dibangun oleh para cerdik pandai sering tidak melihat kenyataan lapangan. 3. Rakyat pedesaan pribumi yang bermental hamba-sahaya, tidak jujur, santet, di depan sangat sopan tapi di belakang main dukun, pengemplang hutang, pinjam modal dari bank dipakai untuk kawin lagi-beli motor- atau betulin rumah, dll ini saya temukan lagi di daerah penelitian saya Cianjur, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dll. Bgm mengajak maju manusia dgn mental seperti ini? Tanggapan saya : Wuaduh-wuaduh saya kasihan dengan masyarakat pedesaan yang dicap seperti itu mas Yando. Dari pengalaman saya melihat Seluas (Kalimantan Barat), Kefamenanu (NTT), Sentani (Papua), Gunung Kidul (DIY), Talang Padang, dan Krui (Lampung), Bantaeng (Sulsel), Kolonedale (Jatim) justru saya menangkap kejujuran mereka dan kepolosan mereka. Yang sudah rusak justru yang saya temui di pinggiran kota-kota besar dan metropolitan. Ini saya lihat dibanyak kesempatan dan program. Sampai dengan pemilu. Program saya yang diinisasi untuk membantu masyarakat Bantul dan Gunung Kidul dalam kredit sapi ternyata tingkat defaultnya atau kredit bermasalahnya (-0,13%) selama 6 th program!!! Hal ini juga saya temui di NTB. Mereka taat sekali dalam membayar. Tetapi masyarakat pinggir kota besarlah yang sudah diinfiltrasi oleh paham atau nilai2 penduduk urban yang cenderung seperti itu. 8. Untuk level nasional, menurut saya, kita membutuhkan kebijakan pemerintah yang pro rakyat (Robert Bates) dan rakyat modern dan terdidik yang berjiwa entrepreneur tinggi ( Rogers, McClelland, Inkeles, Harrison, Huntington, dll). Yang pertama adalah pendekatan politiko-institusio nal, dan yang kedua adalah pendekatan psiko-kultural. Kedua-duanya mestinya merupakan tantangan bagi antropolog yang sadar. Tanggapan saya : Saya agak kurang paham tentang kata masyarakat modern. Sebenarnya masyarakat modern itu yang bagaimana? Karena saat ini sudah muncul gejala masyarakat yang katanya modern kembali lagi menengok kepada tradisionalitas. Mungkin mas Djarot bisa menjelaskan lebih bagus tentang fenomenologi itu sebenarnya muncul dari sebuah kegelisahan apa? Weber? Habermass?? atau ... ??? Saya justru mengajak kita menengok lebih dalam pada tradisionalitas karena disanalah terdapat kearifan lokal yang sudah terbukti bertahun2 mampu menjawab permasalahan. Mohon maaf lho mas Yando kalau saya kurang sopan daloam mengulas. Salam bambang sp From: amri marzali via Yando Zakaria Date: Sun, 16 Aug 2009 23:44:23 -0700 (PDT) To: <ika...@yahoogroups. com> Subject: Re: [IKA-UI] Menguji Tesis de Soto: Mau? Ini diskusi bagus ya. Apapun hasilnya. Pokoknya mengasah otak. Sayangnya kita harus berhemat kata karena ruangan yg terbatas. Krn itu hrs pilih kata-kata yg tepat, meski agak sedikit keras. Ini saya sambung omongan saya. TENTANG KEMISKINAN INDONESIA. 1. Pengalaman pertama saya bekerja sebagai applied anthropologist bersama NGO, memajukan masyarakat terbelakang Indonesia, adalah pada tahun 1974, ketika kami Tim LP3ES berusaha mendorong para entrepreneur Serang untuk membuka mata dan menangkap peluang usaha (opportunities) yang terbuka sebagai dampak multiplier effect dari Rehabilitasi Pabrik Baja PT Krakatau Steel. 2. Apa jawab para entrepreneur pribumi tsb? Kita kurang modal, pak. Kita kurang dibantu pemerintah, pak. Dalam hati saya bergumam, inilah entrepreneur berjiwa hamba sahaya. Tergantung kepada pihak lain! Tidak punya jiwa independent! Tidak memaksa diri untuk berusaha sendiri sekuat tenaga. Kalau anda kebetulan seorang entrepreneur keturunan Cina, apakah anda juga akan mengeluarkan keluhan yang serupa? 3. Rakyat pedesaan pribumi yang bermental hamba-sahaya, tidak jujur, santet, di depan sangat sopan tapi di belakang main dukun, pengemplang hutang, pinjam modal dari bank dipakai untuk kawin lagi-beli motor- atau betulin rumah, dll ini saya temukan lagi di daerah penelitian saya Cianjur, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dll. Bgm mengajak maju manusia dgn mental seperti ini? 4. Kita boleh gunakan strategi de Soto, Korten, atau Yunus Bangladesh dll untuk membasmi kemiskinan. Bagi saya ini semua adalah pendekatan institusional pada level mikro. Masalah bangsa-bangsa terbelakang, kata Robert Bates, seorang ahli pedesaan Afrika, bukan rakyat yang bodoh atau malas atau kurang terbantu, tapi adalah kebijakan pemerintah (government policy) yang tidak benar. 5. Zaman merdeka dari 1950 – 1959 kita trial and error dengan demokrasi parlementer. Gagal. Tahun 1959 -1965 kita diperintah oleh seorang diktator keras (hard dictator) yang gila perempuan: Soekarno. Gagal lagi. Tahun 1965 – 1998 kita diperintah oleh seorang diktator lunak (soft dictator), yang gila KKN: Soeharto. Lagi-lagi gagal. 6. Sejak lama kita haus akan kebijakan pemerintah yang pro rakyat, yang tidak pernah kita peroleh dari kedua pemimpin tersebut. 7. Kita juga tidak dapatkan kebijakan seumpama itu dari Gus Dur maupun Megawati (Hitung saja sudah berapa banyak mantan Menteri Megawati yg masuk penjara. Itu masih belum terhitung yg inpunity). Karena itulah mereka kalah. Tidak dipilih orang lagi. 8. Untuk level nasional, menurut saya, kita membutuhkan kebijakan pemerintah yang pro rakyat (Robert Bates) dan rakyat modern dan terdidik yang berjiwa entrepreneur tinggi ( Rogers, McClelland, Inkeles, Harrison, Huntington, dll). Yang pertama adalah pendekatan politiko-institusio nal, dan yang kedua adalah pendekatan psiko-kultural. Kedua-duanya mestinya merupakan tantangan bagi antropolog yang sadar. 9. Salam.
<<image001.jpg>>
<<image002.jpg>>

