Pendidikan yang Menghina Pendidikan
 Jumat, 21 Agustus 2009 00:01 WIB 

JUMLAH sarjana yang menganggur di Indonesia terus meningkat dari tahun ke 
tahun. Pada Februari 2005, jumlah sarjana yang menganggur masih 385.400 orang. 
Empat tahun kemudian, yakni pada Februari 2009, jumlahnya sudah melonjak dua 
kali lipat menjadi 626.600 orang. Angka pengangguran terdidik bertambah besar 
lagi jika digabungkan dengan pengangguran lulusan diploma yang mencapai 486.400 
orang. Para penganggur terdidik itu merupakan bagian dari pengangguran terbuka 
secara nasional yang pada Februari 2009 mencapai 9,26 juta atau setara dengan 
8,14% dari total angkatan kerja. Pertambahan jumlah pengangguran tingkat 
sarjana mesti diwaspadai. Sebab setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 
300.000 sarjana dari 2.900 perguruan tinggi. Semakin besarnya angka 
pengangguran terdidik tentu saja berdampak buruk, yakni berpotensi menimbulkan 
masalah sosial. Mereka, para penganggur terdidik, bisa saja menjadi aktor 
intelektual kejahatan yang ada di tengah masyarakat. Selain itu, pengangguran 
terdidik adalah sebuah pemborosan. Bukankah negara sudah mengalokasikan 20% 
APBN untuk pendidikan? Alokasi anggaran yang begitu besar hanya untuk 
memproduksi penganggur sehingga jelas sebuah pemborosan. Dampak buruk lainnya, 
ini paling serius, adalah hilangnya penghargaan dan kepercayaan masyarakat 
terhadap dunia pendidikan tinggi. Bukan rahasia lagi, untuk masuk ke perguruan 
tinggi dibutuhkan biaya selangit. Semakin jelas sudah bahwa perguruan tinggi 
masih menghasilkan manusia pencari kerja. Celakanya, perencanaan pembangunan 
pendidikan tinggi tidak selaras dengan perkembangan lapangan kerja sehingga 
lulusannya tidak bisa terserap di lapangan kerja. Perguruan tinggi harus 
kreatif sebab kesempatan kerja sesungguhnya masih terbuka lebar. Sektor 
pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan adalah contoh bidang-bidang yang 
masih membutuhkan tenaga ahli. Perguruan tinggi mesti mewujudkan pendidikan 
yang berbasis pada pasar kerja. Selain itu, untuk menghasilkan lulusan yang 
siap kerja, perguruan tinggi sudah saatnya menambah keterampilan mahasiswa di 
luar bidang akademik yang mereka kuasai. Terutama keterampilan yang berkaitan 
dengan kewirausahaan. Dengan demikian, perguruan tinggi bisa menghasilkan 
manusia pencipta lapangan kerja. Pemerintah tentu saja tidak bisa mencuci 
tangan atas membengkaknya pengangguran terdidik. Pemerintah harus menciptakan 
lapangan kerja yang bermutu sehingga menarik minat kaum penganggur intelektual. 
Jangan pula para sarjana itu disuruh menjadi buruh bangunan. Pernyataan ini, 
tentu, tidak dimaksudkan untuk menganggap buruh bangunan atau tukang becak 
sebagai pekerjaan tidak bermakna. Hanya, bila ingin menjadi tukang becak atau 
buruh bangunan, mengapa harus menghabiskan waktu dan dana begitu besar di 
perguruan tinggi? Pemerintah, sejak dulu, tidak pernah memiliki konsep yang 
tegas dan terencana tentang keterkaitan antara pendidikan dan lapangan kerja. 
Pendidikan dilaksanakan sebagai amanat konstitusi semata. Tidak ada mata rantai 
yang mengikat antara tamatan perguruan tinggi dan lapangan kerja. Kita pernah 
gencar dengan program link and match, sebuah konsep yang sangat betul, tetapi 
mati dari aplikasi. Meningkatnya angka pengangguran tamatan perguruan tinggi 
mencerminkan dengan sangat jelas tentang ketersesatan program penanggulangan 
kemiskinan kita. Memerangi kemiskinan haruslah ditempuh melalui perluasan 
lapangan kerja karena pertumbuhan investasi. Kemiskinan tidak bisa dihapus 
melalui bantuan langsung tunai dan sedekah negara. Pada akhirnya lonjakan 
pengangguran orang-orang terdidik menghina pendidikan itu sendiri
Sent from caturberry® nya  XL

------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke