Milisters ysh,
Tumbenan nih, kok Media Indonesia spt nampak sedang pakai kacamata kuda……… MI 
sepertinya sedang ingin memblame dan menimpakan kesalahan masalah pengangguran 
pada sistem pendidikan di indonesia sambil pada saat yg sama  menutup mata 
terhadap masalah kependudukan dan keluarga berencana kita…….
Apalah artinya kemampuan pemerintah utk menciptakan kesempatan kerja baru 
sebanyak 2 juta tenaga kerja per tahun kalau tiap tahun angka kelahiran kita 
adalah 3-4 juta jiwa atau sama dengan jumlah penduduk negeri Singapura?....... 
Pemerintah tak hanya pusing dgn masalah perluasan kesempatan kerja saja.. namun 
juga dipusingkan dgn urusan harus menambah jumlah sekolah serta jumlah guru 
tiap tahunnya..… dan entahlah bagaimana akan sempat  meningkatkan mutu 
pendidikan.......
Maka sebenarnya yg salah itu sistem pendidikannya atau sistem KBnya sih 
ya?....... 
Salam,
 


--- On Fri, 8/21/09, Elkana Catur H <elkana.ca...@.........> wrote:


From: Elkana Catur H <elkana.ca...@.........>
Subject: [referensi] Editorial media indonesia-21 agustus 2009
To: "Milis plano" <[email protected]>, "Milis pns O8" 
<[email protected]>, "Milis refensi" <[email protected]>, 
"Milis hmp" <[email protected]>
Date: Friday, August 21, 2009, 4:50 AM



Pendidikan yang Menghina Pendidikan
Jumat, 21 Agustus 2009 00:01 WIB 

JUMLAH sarjana yang menganggur di Indonesia terus meningkat dari tahun ke 
tahun. Pada Februari 2005, jumlah sarjana yang menganggur masih 385.400 orang. 
Empat tahun kemudian, yakni pada Februari 2009, jumlahnya sudah melonjak dua 
kali lipat menjadi 626.600 orang. Angka pengangguran terdidik bertambah besar 
lagi jika digabungkan dengan pengangguran lulusan diploma yang mencapai 486.400 
orang. Para penganggur terdidik itu merupakan bagian dari pengangguran terbuka 
secara nasional yang pada Februari 2009 mencapai 9,26 juta atau setara dengan 
8,14% dari total angkatan kerja. Pertambahan jumlah pengangguran tingkat 
sarjana mesti diwaspadai. Sebab setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 
300.000 sarjana dari 2.900 perguruan tinggi. Semakin besarnya angka 
pengangguran terdidik tentu saja berdampak buruk, yakni berpotensi menimbulkan 
masalah sosial. Mereka, para penganggur terdidik, bisa saja menjadi aktor 
intelektual kejahatan yang ada di tengah
 masyarakat. Selain itu, pengangguran terdidik adalah sebuah pemborosan. 
Bukankah negara sudah mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan? Alokasi 
anggaran yang begitu besar hanya untuk memproduksi penganggur sehingga jelas 
sebuah pemborosan. Dampak buruk lainnya, ini paling serius, adalah hilangnya 
penghargaan dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi. Bukan 
rahasia lagi, untuk masuk ke perguruan tinggi dibutuhkan biaya selangit. 
Semakin jelas sudah bahwa perguruan tinggi masih menghasilkan manusia pencari 
kerja. Celakanya, perencanaan pembangunan pendidikan tinggi tidak selaras 
dengan perkembangan lapangan kerja sehingga lulusannya tidak bisa terserap di 
lapangan kerja. Perguruan tinggi harus kreatif sebab kesempatan kerja 
sesungguhnya masih terbuka lebar. Sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan 
perikanan adalah contoh bidang-bidang yang masih membutuhkan tenaga ahli. 
Perguruan tinggi mesti mewujudkan pendidikan yang berbasis pada
 pasar kerja. Selain itu, untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja, perguruan 
tinggi sudah saatnya menambah keterampilan mahasiswa di luar bidang akademik 
yang mereka kuasai. Terutama keterampilan yang berkaitan dengan kewirausahaan. 
Dengan demikian, perguruan tinggi bisa menghasilkan manusia pencipta lapangan 
kerja. Pemerintah tentu saja tidak bisa mencuci tangan atas membengkaknya 
pengangguran terdidik. Pemerintah harus menciptakan lapangan kerja yang bermutu 
sehingga menarik minat kaum penganggur intelektual. Jangan pula para sarjana 
itu disuruh menjadi buruh bangunan. Pernyataan ini, tentu, tidak dimaksudkan 
untuk menganggap buruh bangunan atau tukang becak sebagai pekerjaan tidak 
bermakna. Hanya, bila ingin menjadi tukang becak atau buruh bangunan, mengapa 
harus menghabiskan waktu dan dana begitu besar di perguruan tinggi? Pemerintah, 
sejak dulu, tidak pernah memiliki konsep yang tegas dan terencana tentang 
keterkaitan antara pendidikan dan
 lapangan kerja. Pendidikan dilaksanakan sebagai amanat konstitusi semata. 
Tidak ada mata rantai yang mengikat antara tamatan perguruan tinggi dan 
lapangan kerja. Kita pernah gencar dengan program link and match, sebuah konsep 
yang sangat betul, tetapi mati dari aplikasi. Meningkatnya angka pengangguran 
tamatan perguruan tinggi mencerminkan dengan sangat jelas tentang ketersesatan 
program penanggulangan kemiskinan kita. Memerangi kemiskinan haruslah ditempuh 
melalui perluasan lapangan kerja karena pertumbuhan investasi. Kemiskinan tidak 
bisa dihapus melalui bantuan langsung tunai dan sedekah negara. Pada akhirnya 
lonjakan pengangguran orang-orang terdidik menghina pendidikan itu sendiri
Sent from caturberry® nya  XL

------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links






      

Kirim email ke