Forwarded
From: wapra...@rad. net.id
Date: Sat, 22 Aug 2009 02:13:31 +0000
Subject: Fw: Mudik 2009 Selamatkan Suramadu
From: Haryono
Date: Fri, 21 Aug 2009 22:03:25 +0700
Subject: Mudik 2009 Selamatkan Suramadu
---------- Forwarded message ----------
Selamatkan Suramadu
Sabtu, 15 Agustus 2009 | 00:43 WIB
Ulah para pencuri besi Jembatan Suramadu sungguh tak lagi
bisa dianggap remeh. Mereka tidak hanya mencuri baut dan
lampu penerang seperti terjadi saat jembatan ini baru
diresmikan Juni lalu. Yang dilakukan sekarang jauh
lebih berbahaya. Mereka juga mencopoti satu demi satu
struktur besi pemecah ombak. Aksi ini bisa berakibat fatal.
Besi pemecah ombak itu melindungi pilar utama jembatan
dari gerusan ombak dan arus Selat Madura, yang tergolong
kuat. Bila pemecah ombak lenyap, pilar akan rentan
terhadap hantaman arus dan ombak.
Pada akhirnya, pilar beton itu mudah goyah dan
membahayakan seluruh struktur jembatan.
Itu sebabnya, penanganan terhadap para penjarah besi harus
jauh lebih serius. Yang mereka lakukan bukan lagi
sekadar vandalisme, melainkan sebuah perbuatan
kriminal berbahaya.
Berbahaya bukan hanya karena mereka merusak jembatan
senilai Rp 4,5 triliun itu, tapi juga mengancam nyawa ribuan
orang yang setiap hari melintasi jembatan tersebut.
Memang tidak mudah mengatasi aksi para penjarah.
Para pencuri itu sudah biasa berburu besi tua kapal karam
di kedalaman laut.
Berbekal alat selam dan alat potong besi sederhana,
dalam sekali operasi mereka bisa mendapatkan satu atau dua
ton besi. Besi-besi ini kemudian sedikit demi sedikit
mereka pindahkan ke truk yang telah menunggu untuk dibawa
ke para penadah. Dalam dua bulan terakhir,
polisi setidaknya sudah menangkap tiga truk pengangkut
besi jembatan dengan jumlah total mencapai tujuh ton
besi. Karena terbatasnya tenaga patroli polisi, yang bisa
dilakukan hanya menangkap truk pengangkut
tersebut.
Melihat keterampilan dan kegigihan para pencuri ini,
menambah frekuensi patroli di jembatan seperti yang
sekarang dilakukan tak akan cukup. Polisi hanya
mampu mengawasi area sekitar jembatan, sedangkan area
pilar, yang sebagian besar terendam laut, tak bisa dikontrol.
Agar lebih efektif, pengawasan polisi seharusnya mencakup
area bawah jembatan. Sekarang kapal TNI sesekali
terlihat melakukan patroli di area pilar.
Tapi mengandalkan bantuan TNI terus-menerus tentu
tidak memungkinkan. Tugas pengawasan rutin harus
dilakukan oleh Polri sendiri dengan mengerahkan Satuan
Polisi Air, yang biasanya bertugas mencegah penyelundupan.
Tapi sehebat apa pun pengawasan oleh polisi,
tanpa dukungan masyarakat di sekitar jembatan, itu akan
percuma. Jembatan ini dibangun dengan proses panjang
dan biaya begitu besar. Ketika jembatan sudah
berfungsi, masyarakat sekitarlah yang menikmati
keberadaan jembatan. Maka sudah sepantasnya
masyarakat sekitar memiliki tanggung jawab moral
menjaga keutuhan Suramadu. Inilah sesungguhnya masalah
yang lebih sulit dari sekadar mengawasi keutuhan
jembatan. Bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa
yang bisa membangun tapi tidak mampu memelihara.
Maka Suramadu sesungguhnya menjadi ujian bagi
masyarakat sekitar. Ujian itu tidak hanya mencegah
perusakan, tapi juga membangkitkan rasa
memiliki.