selamat pagi pak nurul. -menarik sekali membaca tulisan bpk terkait rantai nilai industri maritim di kepulauan riau. kebetulan sekali saya warga (KTP) di Batam_kepri selama ini melihat bahwa industri maritim di BBK/Kepri sangat berkembang pesat. berkembang pesat yang saya maksud adalah adanya indikator multiplier effect dari kegiatan maritim yang dulu hanya sebagai pangkalan minyak menjadi industri maritim seperti; 1. tumbuhnya lembaga-lembaga training untuk industri maritime (kapal, oil and gas) 2. banyaknya lembaga sertifikasi ISO dll yang dilaksanakan di BBK. 3. Meningkatnya pelaku-pelaku usaha dibidang industri maritim seperti piping, peralatan safety dll.
selama 2tahun terakhir saya melihat bahwa, salah satu peluang yang paling besar adalah menjadikan BBK sebagai tempat labuh jangkar kapal-kapal besar (kontainer) yang antri menuju pelabuhan singapura. walaupun singapura memiliki teknologi yang canggih dan cepat dalam usaha pemindahan container ke pelabuhan peti kemasnya, namun singapura menerapkan 'clean ocean'nya sangat tinggi, sehingga tahun belakangan ini banyak kapal-kapal besar yang berlabuh di pesisi barelang. so peluangnya adalah menangkap biaya labuh jangkar sebelum tiba di singapura dan atau setelah kapal2 tersebut unloading dan menunggu loading. Persoalan; persoalan yang paling mendasar di BBK saya kira adalah persoalan infrastruktur listrik terutama di Bintan dan Karimun. 2 bulan lalu saya di batam Bintan dan Karimun masih mengalami persoalan yang sama. selain itu adalah persoalan pemenuhan kebuthan air bersih. Hutan di Bintan tidak dijaga sehingga daerah tangkapan air berkurang dan implikasinya masyarakat kekurangan air bersih. jadi hal-hal yang mendasar di BBK (terutama Bintan dan karimun) belum terselesaikan. saya jadi teringat China, bagaimana mereka membendung Sungai Besar Yangtse, walaupun banyak masyarakat yang tidak setuju terhadap program tersebut (terutama masyarakat di pinggir sungai) tapi visi mereka menjadi negara berpengaruh di dunia terwujud. bahkan pelaksanaan Olimpiade mereka sukses besar. Kembali kepada Rantai Industri Maritime kepulauan Riau, pertumbuhan industri maritim di Kepulauan Riau, saya berharap dapat melebihi Surabaya, karena peluang sudah ada, dan kita memiliki tenaga kerja murah dan Engineer industri maritime yang berkualifikasi international. salah satu perusahaan yang terkenal di Batam yaitu Mc.Dermot kemudian ada Drydock, juga ada beberapa yang baru tumbuh seperti di Utara Pulau Bintan. perusahaan-perusahaan besar ini telah mampu membuat Jacket dan Rig2 untuk pengeboran lepas pantai di Dunia. dan tenaga-tenaga yang membuat peralatan besar itu adalah anak-anak negeri. saya kembali teringat ketika McDermot meresmikan Jacket pengeboran lepas pantai untuk negara Vietnam (saat itu dihadiri oleh Pemerintah Vietnam), ada engineer kelas bawah yang menanyakan kepada Gubernur Kepulauan Riau Bp. Ismeth Abdullah, 'pak kita sudah bisa membuat peralatan besar ini, kapan indonesia bisa memiliki dan membuat sendiri?' saya kira engineer kelas rendah ini, memiliki visi yang luar biasa, bahwa ketahanan dalam negeri dan ekspor ke luar negeri. ada kerinduan untuk memiliki kesetaraan dalam memiliki dan membuat peralatan jacket/rig lepas pantai dalam kancah international. IMT-GT memang diharapkan dapat memicu pertumbuhan bagi wilayah tersebut, tetapi dalam konteks pertumbuhan bagi indonesia, mungkin perlu direview kembali bahwa indonesia ingin menjadi apa dalam konteks IMT-GT. mungkin kita perlu buat BLUE PRINT IMT-GT dimana indonesia sebagai Pelaku Utama, jadi semacam Penggerak Ekonomi IMT-GT. jika Thailand dengan industri wisatanya yang sangat kuat, Malaysia dengan Industri Manufaktur, Makanan, dll. Indonesia dengan 10 Provinsi ingin membaginya seperti apa?. Terakhir saya melakukan kunjungan ke Siak-Pekanbaru, ada keinginan besar dari Pemerintah Riau untuk segera menggerakkan Pelabuhan Bebas Buton, tapi masih jalan ditempat. nah ini juga menjadi persoalan rumit ketika semua provinsi di kawasan IMT-GT tidak dapat menempatkan dirinya. kalo kata orang melayu 'Tepuk Dada Tanya Selira'. banyak persoalan yang harus dalam konteks IMT-GT (bisa terkait dengan RTRWN mungkin). yang pasti sebagai warga BBK, saya melihat bahwa pertumbuhan industri maritim di BBK signifikan, tetapi persoalan mendasar (infrastruktur) masih menjadi PR. salam, -- Tiar Pandapotan Purba, Ir Urban Regional Planner & GIS Kemang Barat 7G. Jakarta Selatan +6707519371 +6281310418551 --- On Mon, 8/24/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote: > From: Nuzul Achjar <[email protected]> > Subject: [referensi] Tulisan: Rantai Nilai Industri Maritim Kepulauan Riau > To: [email protected] > Date: Monday, August 24, 2009, 3:57 PM > Sahabat referensiers, > > Berikut saya sampaikan tulisan tentang Rantai Nilai (Value > Chain) > Industri Maritim Kepulauan Riau. Idenya muncul dari diskusi > sahabat > refensiers tentang banyaknya sarjana nganggur, ditambah > lagi berita > katanya IMT-GT akan digiatkan kembali. Siapa tau muncul > lagi ide lain. > Dedikasi untuk semua sahabat referensiers yang memberikan > inspirasi. > > Salam hormat, > Nuzul Achjar > > > RANTAI NILAI INDUSTRI MARITIM KEPULAUAN RIAU > Oleh: > Nuzul Achjar > > Pidato Presiden SBY di depan sidang pleno Dewan > Pertimbangan Daerah > (DPD-RI) pada 19 Agustus 2009 lalu memberikan sebuah sinyal > bahwa pada > kabinet baru 2009-2014, aspek pembangunan wilayah > akan mendapat > perhatian lebih besar dalam strategi pembangunan nasional. > Pembangunan > untuk semua (development for all) adalah tema pidato > presiden di depan > DPD yang sepertinya meletakkan arah yang lebih tegas bahwa > kesenjangan > antar wilayah harus segera diatasi. > > Beberapa bulan sebelumnya, pada 28 Februari 2009 > lalu, Presiden SBY > bersama Kepala Pemerintahan Malaysia dan Thailand, > mengadakan > Konperensi Tingkat Tinggi ke empat yang membahas > IMT-GT di Thailand. > Difasilitasi oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), KTT > bertujuan untuk > menegaskan dan menelaah kembali kerjasama di bidang > perdagangan dan > investasi, infrastruktur dan transportasi, pariwisata, > produk halal, > sektor jasa, sumber daya manusia, pertanian, agro industri > dan > lingkungan, serta prospek pembangunan di kawasan IMT-GT. > > Dalam perkembangannya, terdapat 14 provinsi di Thailand > (Selatan) yang > masuk dalam skema IMT-GT yaitu Krabi, Nakhon Si Thammarat, > Narathiwat, > Pattani, Phattalung, Satun, Songkhla, Trang, Yala, > Chumphon, Ranong, > Surat Thani, Phang Nga, Phuket. Malaysia memasukan 8 negara > bagian di > semenanjung Malaka yaitu Kedah, Kelantan, Melaka, Negeri > Sembilan, > Penang, Perak, Perlis and Selangor. Indonesia mencantumkan > seluruh 10 > provinsi yang ada di Sumatera, termasuk Kepulauan Riau. > > Dengan jumlah tenaga kerja yang cukup besar, dihuni oleh > sekitar 70 > juta penduduk, prospek pasar di kawasan IMT-GT cukup > menjanjikan. > Kawasan IMT-GT mempunyai kekayaan sumber daya alam melimpah > seperti > produk pertanian dan perkebunan. Kerjasama sub-regional > ini diyakini > sebagai tahap awal terbentuknya Pasar Tunggal Asean > pada 2020 > sebagaimana halnya dengan Masyarakat Eropa dewasa ini. > > Jika peluang sudah dibuka, langkah apa yang perlu dilakukan > oleh > Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau? Di luar kerjasama di > bidang > infrastruktur dan transportasi, dari berbagai kemungkinan > jawaban dari > pertanyaan tersebut, langkah awal yang mungkin perlu > dipertimbangkan > adalah identifikasi rantai nilai (value chain) > berbagai produk atau > kegiatan investasi di FTZ Batam-Bintan-Karimun yang akan > mempunyai > kaitan dengan skema IMT-GT. > > Sebagaimana dikatakan Michael Porter (1985), relevansi > nilai rantai > ini terletak pada upaya untuk menentukan “positioning” > produk, mulai > dari ide awal, disain, proses produksi, distribusi hingga > sampai ke > tangan konsumen. Kita ambil contoh nilai rantai > industri maritim oleh > usaha kecil dan menengah (UKM) seperti industri > pembuatan kapal > ukuran sedang dan kecil untuk kebutuhan nelayan, penumpang > antar pulau > ataupun untuk wisata bahari. Pemetaan rantai nilai industri > maritim > akan memberikan informasi berguna tentang siapa, daerah > atau negara > mana yang memperoleh manfaat lebih besar dari > penciptaan nilai > tambah, mulai dari disain, pemanfaatan bahan baku, mesin, > peralatan > navigasi dan alat elektronika lainnya, hingga distribusinya > ke tangan > konsumen. > > Rantai nilai mempunyai relevansi dengan daya saing produk > investasi > mengingat pada era globalisasi dan integrasi ekonomi yang > semakin > dalam, dan setiap unsur produksi akan selalu terkait dengan > unsur > produksi di daerah atau negara lain. Sebuah studi > menunjukkan bahwa > negara pengekspor kopi yang umumnya dari negara-negara > Afrika hanya > memperoleh nilai tambah antara 9-20% dari total nilai > tambah hingga ke > konsumen akhir, seperti kopi yang disajikan di kafe yang > memperoleh > nilai tambah tidak kurang dari 22%. Kunci penciptaan nilai > tambah > tersebut terletak pada differensiasi produk (Fitter dan > Kaplinsky, > 2001). > > Mengingat Kepulauan Riau tidak mempunyai basis pertanian > skala besar > dan kuat sebagaimana halnya dengan provinsi lain di daratan > Sumatera, > maka rantai nilai juga bermanfaat bagi sebuah > analisis apakah > Kepulauan Riau dapat berfungsi sebagai pelabuhan transit > produk > pertanian dan sumber daya alam lainnya sebelum diekspor ke > luar > negeri. > > Konsepsi kerjasama sub-regional IMT-GT pada dasarnya adalah > membuka > peluang investasi dari dan ke masing-masing provinsi di > negara mitra > kerjasama. Namun sulit untuk dibantah jika penetrasi > investasi dari > Indonesia ke negara mitra belum menjadi sebuah > “mindset”. Tidaklah > terlalu aneh jika harapan lebih banyak diletakkan > pada masuknya > investasi oleh negara mitra kepada Indonesia. Hal ini tidak > dapat > disalahkan karena pada kenyataannya kemampuan sumber daya > manusia > ataupun keberanian pelaku bisnis di berbagai daerah di > Indonesia dalam > mengambil resiko masih terbatas. Namun ke depan, pandangan > ini harus > dirubah secara bertahap sehingga ketika kita berbicara > tentang IMT-GT > kita tidak sekedar berbicara tentang prospek masuknya > investasi, > tetapi justu menembus investasi negara lain. > > Perubahan “mindset” perlu dilakukan mengingat situasi > perekonomian > global berubah dengan cepat. Di luar skema IMT-GT, masuknya > investasi > Singapura ke Batam yang mencapai puncaknya pada awal dekade > 1990an > didorong karena negara tetangga ini mengalami pertumbuhan > ekonomi “dua > digit” yang mencapai 12,3% dan 11,4% masing-masing pada > 1993 dan 1994. > Tingkat pengangguran cukup rendah, masing-masing 1,7% dan > 2,7% pada > periode yang sama. Dengan kekuatan modal, di tengah > keterbatasan > lahan, sumber air, serta mahalnya upah tenaga kerja, > Singapura > melebarkan sayap investasinya di Batam dan daerah lain di > Kepulauan > Riau (Spark et al., 2004). Dewasa ini, limpahan investasi > secara > besar-besaran dari Singapura tentu tidak bisa diharapkan > terlalu > banyak lagi sebagaimana pada dekade 1990an. > > Bersamaan dengan identifikasi rantai nilai berbagai > produksi dan > kegiatan investasi di Kepulauan Riau, kita harapkan pula > pihak > industri dan jasa khususnya yang ada di Kepulauan Riau > bersedia > membuka pintu kepada calon sarjana sebagai tempat magang. > Dengan cara > ini, diharapkan mereka memahami proses manajemen produksi, > auditing, > prosedur ekspor dan impor, proses bisnis dalam perdagangan > internasional, memahami pemanfaatan electronic data > interchange (EDI) > dalam manajemen pelabuhan, analisis resiko untuk asuransi > dan jasa > finansial maritim, dan hal-hal lainnya yang terkait > sehingga > memberikan motivasi dan percaya diri kepada calon sarjana > anak negeri > bahwa mereka dapat berbuat sesuatu bagi kemandirian pribadi > dan bagi > daerah mereka. > > Melalui proses magang yang efektif, setelah lulus > para sarjana > diharapkan tidak lagi gagap membuka dan menghadapi > pasar kerja yang > semakin sulit. Bukan tidak mungkin, dengan proses belajar > yang terus > menerus dan berkesinambungan, dalam jangka panjang, para > sarjana di > Kepulauan Riau berani menerobos pintu bisnis ataupun pasar > kerja > lintas negara yang sangat kompetitif. Paling tidak, hal ini > memberikan > sedikit solusi untuk mengatasi pengangguran lulusan > perguruan tinggi, > yang akhir akhir ini mendapat sorotan tajam oleh > media nasional dan > daerah. > > Di bidang pendidikan, peluang lain yang perlu segera > diambil dalam > skema IMT-GT adalah keikutsertaan pendidikan tinggi di > Kepulauan Riau > dalam jaringan universitas (UNINET) di kawasan IMT-GT > sebagai ajang > untuk tukar menukar informasi dan kerjasama di bidang > pendidikan dan > riset. > > > ------------------------------------ > > Komunitas Referensi > http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups > Links > > > mailto:[email protected] > > >

