Sahabat referensiers, Berikut saya sampaikan tulisan tentang Rantai Nilai (Value Chain) Industri Maritim Kepulauan Riau. Idenya muncul dari diskusi sahabat refensiers tentang banyaknya sarjana nganggur, ditambah lagi berita katanya IMT-GT akan digiatkan kembali. Siapa tau muncul lagi ide lain. Dedikasi untuk semua sahabat referensiers yang memberikan inspirasi.
Salam hormat, Nuzul Achjar RANTAI NILAI INDUSTRI MARITIM KEPULAUAN RIAU Oleh: Nuzul Achjar Pidato Presiden SBY di depan sidang pleno Dewan Pertimbangan Daerah (DPD-RI) pada 19 Agustus 2009 lalu memberikan sebuah sinyal bahwa pada kabinet baru 2009-2014, aspek pembangunan wilayah akan mendapat perhatian lebih besar dalam strategi pembangunan nasional. Pembangunan untuk semua (development for all) adalah tema pidato presiden di depan DPD yang sepertinya meletakkan arah yang lebih tegas bahwa kesenjangan antar wilayah harus segera diatasi. Beberapa bulan sebelumnya, pada 28 Februari 2009 lalu, Presiden SBY bersama Kepala Pemerintahan Malaysia dan Thailand, mengadakan Konperensi Tingkat Tinggi ke empat yang membahas IMT-GT di Thailand. Difasilitasi oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), KTT bertujuan untuk menegaskan dan menelaah kembali kerjasama di bidang perdagangan dan investasi, infrastruktur dan transportasi, pariwisata, produk halal, sektor jasa, sumber daya manusia, pertanian, agro industri dan lingkungan, serta prospek pembangunan di kawasan IMT-GT. Dalam perkembangannya, terdapat 14 provinsi di Thailand (Selatan) yang masuk dalam skema IMT-GT yaitu Krabi, Nakhon Si Thammarat, Narathiwat, Pattani, Phattalung, Satun, Songkhla, Trang, Yala, Chumphon, Ranong, Surat Thani, Phang Nga, Phuket. Malaysia memasukan 8 negara bagian di semenanjung Malaka yaitu Kedah, Kelantan, Melaka, Negeri Sembilan, Penang, Perak, Perlis and Selangor. Indonesia mencantumkan seluruh 10 provinsi yang ada di Sumatera, termasuk Kepulauan Riau. Dengan jumlah tenaga kerja yang cukup besar, dihuni oleh sekitar 70 juta penduduk, prospek pasar di kawasan IMT-GT cukup menjanjikan. Kawasan IMT-GT mempunyai kekayaan sumber daya alam melimpah seperti produk pertanian dan perkebunan. Kerjasama sub-regional ini diyakini sebagai tahap awal terbentuknya Pasar Tunggal Asean pada 2020 sebagaimana halnya dengan Masyarakat Eropa dewasa ini. Jika peluang sudah dibuka, langkah apa yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau? Di luar kerjasama di bidang infrastruktur dan transportasi, dari berbagai kemungkinan jawaban dari pertanyaan tersebut, langkah awal yang mungkin perlu dipertimbangkan adalah identifikasi rantai nilai (value chain) berbagai produk atau kegiatan investasi di FTZ Batam-Bintan-Karimun yang akan mempunyai kaitan dengan skema IMT-GT. Sebagaimana dikatakan Michael Porter (1985), relevansi nilai rantai ini terletak pada upaya untuk menentukan “positioning” produk, mulai dari ide awal, disain, proses produksi, distribusi hingga sampai ke tangan konsumen. Kita ambil contoh nilai rantai industri maritim oleh usaha kecil dan menengah (UKM) seperti industri pembuatan kapal ukuran sedang dan kecil untuk kebutuhan nelayan, penumpang antar pulau ataupun untuk wisata bahari. Pemetaan rantai nilai industri maritim akan memberikan informasi berguna tentang siapa, daerah atau negara mana yang memperoleh manfaat lebih besar dari penciptaan nilai tambah, mulai dari disain, pemanfaatan bahan baku, mesin, peralatan navigasi dan alat elektronika lainnya, hingga distribusinya ke tangan konsumen. Rantai nilai mempunyai relevansi dengan daya saing produk investasi mengingat pada era globalisasi dan integrasi ekonomi yang semakin dalam, dan setiap unsur produksi akan selalu terkait dengan unsur produksi di daerah atau negara lain. Sebuah studi menunjukkan bahwa negara pengekspor kopi yang umumnya dari negara-negara Afrika hanya memperoleh nilai tambah antara 9-20% dari total nilai tambah hingga ke konsumen akhir, seperti kopi yang disajikan di kafe yang memperoleh nilai tambah tidak kurang dari 22%. Kunci penciptaan nilai tambah tersebut terletak pada differensiasi produk (Fitter dan Kaplinsky, 2001). Mengingat Kepulauan Riau tidak mempunyai basis pertanian skala besar dan kuat sebagaimana halnya dengan provinsi lain di daratan Sumatera, maka rantai nilai juga bermanfaat bagi sebuah analisis apakah Kepulauan Riau dapat berfungsi sebagai pelabuhan transit produk pertanian dan sumber daya alam lainnya sebelum diekspor ke luar negeri. Konsepsi kerjasama sub-regional IMT-GT pada dasarnya adalah membuka peluang investasi dari dan ke masing-masing provinsi di negara mitra kerjasama. Namun sulit untuk dibantah jika penetrasi investasi dari Indonesia ke negara mitra belum menjadi sebuah “mindset”. Tidaklah terlalu aneh jika harapan lebih banyak diletakkan pada masuknya investasi oleh negara mitra kepada Indonesia. Hal ini tidak dapat disalahkan karena pada kenyataannya kemampuan sumber daya manusia ataupun keberanian pelaku bisnis di berbagai daerah di Indonesia dalam mengambil resiko masih terbatas. Namun ke depan, pandangan ini harus dirubah secara bertahap sehingga ketika kita berbicara tentang IMT-GT kita tidak sekedar berbicara tentang prospek masuknya investasi, tetapi justu menembus investasi negara lain. Perubahan “mindset” perlu dilakukan mengingat situasi perekonomian global berubah dengan cepat. Di luar skema IMT-GT, masuknya investasi Singapura ke Batam yang mencapai puncaknya pada awal dekade 1990an didorong karena negara tetangga ini mengalami pertumbuhan ekonomi “dua digit” yang mencapai 12,3% dan 11,4% masing-masing pada 1993 dan 1994. Tingkat pengangguran cukup rendah, masing-masing 1,7% dan 2,7% pada periode yang sama. Dengan kekuatan modal, di tengah keterbatasan lahan, sumber air, serta mahalnya upah tenaga kerja, Singapura melebarkan sayap investasinya di Batam dan daerah lain di Kepulauan Riau (Spark et al., 2004). Dewasa ini, limpahan investasi secara besar-besaran dari Singapura tentu tidak bisa diharapkan terlalu banyak lagi sebagaimana pada dekade 1990an. Bersamaan dengan identifikasi rantai nilai berbagai produksi dan kegiatan investasi di Kepulauan Riau, kita harapkan pula pihak industri dan jasa khususnya yang ada di Kepulauan Riau bersedia membuka pintu kepada calon sarjana sebagai tempat magang. Dengan cara ini, diharapkan mereka memahami proses manajemen produksi, auditing, prosedur ekspor dan impor, proses bisnis dalam perdagangan internasional, memahami pemanfaatan electronic data interchange (EDI) dalam manajemen pelabuhan, analisis resiko untuk asuransi dan jasa finansial maritim, dan hal-hal lainnya yang terkait sehingga memberikan motivasi dan percaya diri kepada calon sarjana anak negeri bahwa mereka dapat berbuat sesuatu bagi kemandirian pribadi dan bagi daerah mereka. Melalui proses magang yang efektif, setelah lulus para sarjana diharapkan tidak lagi gagap membuka dan menghadapi pasar kerja yang semakin sulit. Bukan tidak mungkin, dengan proses belajar yang terus menerus dan berkesinambungan, dalam jangka panjang, para sarjana di Kepulauan Riau berani menerobos pintu bisnis ataupun pasar kerja lintas negara yang sangat kompetitif. Paling tidak, hal ini memberikan sedikit solusi untuk mengatasi pengangguran lulusan perguruan tinggi, yang akhir akhir ini mendapat sorotan tajam oleh media nasional dan daerah. Di bidang pendidikan, peluang lain yang perlu segera diambil dalam skema IMT-GT adalah keikutsertaan pendidikan tinggi di Kepulauan Riau dalam jaringan universitas (UNINET) di kawasan IMT-GT sebagai ajang untuk tukar menukar informasi dan kerjasama di bidang pendidikan dan riset. ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

