Pak Risfan, justru karena sulit dan abstrak maka kita sengker saja "sementara" 
untuk fokus ke hobby kita, ..... ke planning sajalah biar saya bisa belajar 
lebih banyak dari para begawan planning. Ya supaya fokus dan kita nggak masuk 
wilayah disiplin lain, meskipun saya kadang berpikir kapling ilmu dalam hal-hal 
tertentu justru perlu diterabasi agar ilmu-ilmu semakin berkembang (kreatif) 
dan semakin mengabdi kepada kehidupan. Apakah boleh begitu ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 8/28/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Indonesia : Negeri  Dgn Nasionalisme 
Compang-Camping
To: [email protected]
Date: Friday, August 28, 2009, 4:17 AM






 




    
                  Dear All,

Nasionalisme atau keIndonesiaan, sejauh menyangkut fisik geografis mungkin 
relatif nyta. Asal tidak jual pulau, masih menangani pengembangan wilayah, 
menjaga keutuhan wilayah NKRI.

Tapi, kalau menyangkut 'keuntungan' dari pengelolaan fisik, konsesi (tambang, 
migas, hutan, SDA) maka mulai sedikit abstrak. Fisiknya tetap disitu, tapi 
keuntungannya lebih banyak kemana? Ke luar negeri, ke Jakarta, ke daerah 
sendiri? 

Lalu, fisik tapi yang bergerak, yaitu arus barang. Apakah bias ke ekspor atau 
import? Dpl bagaimana nilai tambah terjadi? Kita semua tahu bahwa pertumbuhan 
ekonomi kita lebih banyak ditopang oleh konsumsi dalam negeri. Dan dari sajian 
Kompas minggu ini nampak bhw ketergantungan pangan dari import kian meningkat. 
Kita ingat debat soal terigu, yang konsumsinya tinggi padahal sulit menanam 
gandum disini. Lalu, banyak kritik kok ekspor bahan mentah lebih dipermudah 
daripada impor bahan baku?

Arus modal lebih abstrak. Sementara modal dari sini keluar, banyak perusahaan 
'nasional' modalnya dari luar. Sampai disini nampaknya konsep nasionalisme 
menjadi lebih abstrak. Antara rasionalisme dan fanatisme seperti bertabrakan. 
Yang rasional tentu berargumen, modal akan mencari lokasi yang paling 
menguntungkan.

Kalau aspek non-fisik, non-ekonomi, ya lebih abstrak lagi. Gaya hidup 
menentukan pola konsumsi dan apa, merek apa, dari mana produk itu? Disini lebih 
sulit. Karena satu produk, bisa saja pabriknya disini, tenaga kerjanya dari 
sini, tapi modalnya asing, atau modal dalam negri tapi lisensi harus dibayar 
keluar. Kasus makanan cepat saji, karena merknya disebut asing, tapi ayam dan 
kentangnya dari perdesaan kita.

Kalau soal kritik dan olok-olok. Biasanya yang dikritik kan pemerintah. Ini 
juga harus dibedakan antar pemerintah sebagai rezim penguasa dengan bangsa. 
Mengritik pemerintah yang korup dan abai, tak sama dengan mengolok-olok bangsa. 
Bangsa kita satu tak kan berubah, tapi rezim kan dipilih lima tahunan.

Kalau budaya dalam arti hiburan dan gaya, juga olah raga. Ya, siapa yang bisa 
melarang orang nonton Rihana, J Lo, dst., seperti juga masak nonton Liga 
Inggris dilarang. Ini lebih abstrak dan sulit. Apalagi bagi penghuni kota 
besar. Biar kita marah kalau 'tari pendet' dicuri, jujur saja lebih sering mana 
kita menontonnya dibanding tarian ala MTV. Kalau wayang, jujur saja apa 
ceritanya (Mahabarata, Ramayana) bukan dari India.

Kita yang disini bisa dengan gagah marah kepada negara seperti Malaysia, tapi 
nyatanya ada jutaan anak bangsa yang menggantungkan hidup dari sana.

Kesimpulan: kecuali yang menjual pulau, sesungguhnya tak mudah menghakimi satu 
tindakan nasionalis atau sebaliknya. 
Tapi sebagai fasilitator pengembangan ekonomi lokal, saran saya ya sejauh 
mungkin pakailah produk dalam negeri. Walau inipun sulit, karena untuk makan 
sederhana 'tahu-tempe, kecap" saja, kedelainya harus impor.

Menurut saya cinta bangsa yang paling pokok adalah: berantas KORUPSI, dan 
pengentasan KEMISKINAN.

Salam,
Risfan Munir







From: efha_mardiansjah@ yahoo.com
Sent: Friday, August 28, 2009 2:38 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme Compang-Camping

  Kalau saya nggak salah memahaminya. .....: Romawi membangun nasionalismenya 
dengan pembangunan infrastruktur wilayah... Sedangkan Perancis memperbaikinya 
dengan membangun nasionalisme Negara Kesatuan Perancis (dlm semboyan liberté, 
égalité & fraternité), salah satunya, dengan pengembangan wilayah / perencanaan 
pembangunan wilayah (aménagement du territoire) Jadi, pengembangan wilayah 
punya kaitan yg cukup kuat dengan geopolitik internal suatu bangsa, dan kalau 
sepakat dengan hal itu maka perencanaan pengembangan wilaya bisa ikut 
berkontribusi kepada pembangunan nasionalisme bangsa.. Mungkin itu pendapat 
saya.. Terima kasih..Salam, Fadjar

--- On Fri, 8/28/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme Compang-Camping
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: pl...@yahoogroups. com
Date: Friday, August 28, 2009, 2:27 AM

  Eyang Aby, apakah ada dan bisa diwujudkan "nasionalisme dalam arsitektur dan 
planning" ? Hal ini penting sebab nasionalisme harus membumi, nyata dan 
dirasakan oleh warga negara kita yang awam sekalipun. Bung Karno pernah bilang: 
nasionalisme tumbuhlah di taman internasionalisme. Bagaimana Eyang, apakah bisa 
begitu ? Terus wujudnya bagaimana ?

Kata d'masiv: meskipun kita terlahir tidak sempurna.... .jangan menyerah.... 
jangan menyerah.... jangan menyerah.... .hidup adalah anugerah.... .

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Thu, 8/27/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme Compang-Camping
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: pl...@yahoogroups. com
Date: Thursday, August 27, 2009, 8:11 PM

  Milisters ysh, Indonesia sudah merdeka 64 tahun lamanya…. Namun rasa cinta 
bangsa dan rasa cinta tanah air dari warganya masih compang camping…….Ada yang 
sangat mencintai bangsa dan negeri ini… hingga bahkan telah menyerahkan jiwa 
dan raganya dan terbujur kaku tinggal tulang belulang….. ada yang masih hidup 
dan tetap sangat mencintai bangsa dan negeri ini seburuk apapun keadaannya hari 
ini…..sambil berharap bangsa dan negeri ini masih dapat diperbaiki….... ada 
yang tenang acuh-tak acuh tak peduli…..  ada yang justru sinis dan mengejek 
mereka yang mencintai bangsa dan negeri ini….. ada yang ingin menggadaikannya…. 
 ada pula yang ingin berpisah dan mendirikan negaranya sendiri…. ada yang 
mencuri harta negeri ini dan lari bersembunyi dinegeri tetangga.... .. ada pula 
yang karena keterbatasannya maka tak tahu menjaga nama baik negeri dan 
bangsanya diluar negeri......Tapi yang lebih gawat lagi malah ada pula yang 
berkata persetan
 dengan nasionalisme dan demokrasi yang buatan barat  itu dan ingin 
memperjuangkan dunia ini menjadi satu negeri dan memiliki hanya satu kepala 
negara saja yang disebutnya khalifah………Anda termasuk warganegara yang 
manakah?... ... dan sebaiknya membahas masalah nasionalisme ini dimulai dari 
manakah?... .... Salam,    


 start: 0000-00-00 end: 0000-00-00
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke