Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)
di Belanda meluncurkan edisi perdana majalah online Jong Indonesia, Agustus
2009. Penerbitan Jong
|ndonesia ini diinspirasi oleh perjungan media yang dirintis oleh Indische
Vereeniging atau Perhimpunan Hindia. Organisasi yang
berdiri tahun 1908 ini mempunyai bulletin Hindia Poetera yang diubah menjadi
Indonesia
Merdeka tahun 1924, ketika Indische Vereeniging berubah menjadi
Perhimpunan Indonesia.
“Sebagai organisasi yang punya kaitan historis
dan semantis dengan Indische Vereeniging dan Perhimpunan Indonesia,
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda ingin menghidupkan kembali semangat
perjuangan lewat media,” ujar Yohanes Widodo, Sekjen PPI Belanda 2008-2009, yang
akrab disapa Masboi. Ia melihat ada sekitar 1500 pelajar Indonesia di Belanda.
“Mereka
adalah anak bangsa yang cerdas dan militan. Kalau transformasi wacana dan
pertukaran gagasan antarmereka terjadi, ini akan menjadi kekuatan yang sangat
luar
biasa,” tambahnya.
Jong Indonesia
diharapkan menjadi media pembelajaran, transfer informasi dan pengetahuan;
mem-pererat-memperluas persaudaran antarmahasiswa Indonesia di Belanda; dan
memberikan masukan terhadap perubahan menuju Indonesia
yang lebih baik.
Penerbitan versi online dipilih karena
pertimbangan: lebih murah dan hemat kertas. Sebagian besar pelajar Indonesia di
Belanda juga tidak ada kendala akses internet. Versi online bisa diakses lewat
http://majalah.ppibelanda.org.
Versi online juga memungkinkan untuk meng-update informasi-informasi penting
dan aktual dalam bentuk berita (straight
news). Versi PDF juga disediakan untuk diunduh dan dicetak (lewat
http://www.scribd.com/doc/19345860/Jong-Indonesia-Edisi-01-Agustus2009).
Kisah
Memberi Nama
Proses inisiasi majalah dimulai sejak Maret
2009. Namun, memilih dan menentukan nama media itu tidak selesai dalam semalam.
Sebelumnya ada beberapa nama yang muncul: Jembatan, Indonesia Muda, Agora,
van Indonesie, Tinta Ilmu, Penggiat Indonesia, dan Indonesia Maju. Dari
nama-nama itu akhirnya mengerucut menjadi dua: Indonesia Muda dan van
Indonesie. Perdebatan di redaksi cukup alot. Ketika di-voting, hasilnya
50:50. Akhirnya, kami meminta warga PPI Belanda untuk menentukan nama majalah
ini lewat poling online. Sebanyak 208 voters berpartisipasi. Ketika deadline
ternnyata hasilnya masih sama 50: 50. Lalu dalam rapat online redaksi, muncul
usulan nama Jong Indonesia. Nama itulah yang akhirnya
dipilih dan disepakati.
Kenapa Jong Indonesia? Seperti kita
tahu, menjelang Sumpah Pemuda 1928, banyak muncul perkumpulan seperti Jong
Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, dan lain-lain. Jong Indonesia atau
Jong Indonesie adalah nama organisasi yang didirikan di Bandung 1927.
Mereka menggunakan warna merah putih dan kepala banteng sebagai simbol. Nama
organisasi ini kemudian diubah menjadi Pemuda Indonesia
untuk yang berjenis kelamin laki-laki dan Putri Indonesia
bagi yang perempuan. Pemuda Indonesia
membuat kongres di mana pada kongres yang kedua menghasilkan Sumpah Pemuda, 28
Oktober 1928. Dengan semangat itu, Jong Indonesia ingin mengajak
para pemuda, khususnya pelajar Indonesia di Belanda, untuk menyumbangkan
pemikirannya untuk Indonesia
yang lebih baik.
Edisi
Perdana
Terbitan edisi perdana Jong Indonesia mengangkat
isu tentang suka duka kuliah di Belanda. Banyak hal yang menyenangkan maupun
tidak menyenangkan dialami oleh pelajar Indonesia
selama belajar dan hidup di Belanda. Semua itu memberi gambaran, bagaimana
kehidupan mahasiswa Indonesia di Belanda. “Kisah-kisah mereka bisa menjadi
referensi bagi pelajar Indonesia
yang baru datang di Belanda, maupun mereka yang ingin melanjutkan studi di
Belanda,” ujar Masboi. Selain itu, banyak artikel-artikel menarik yang ditulis
oleh redaksi maupun non-redaksi.
Kami mengajak kawan-kawan PPI Belanda dan siapa
saja untuk menulis di Jong Indonesia.
Kenapa kita harus menulis? Karena seperti Pramoedya Ananta Toer bilang, “Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah.”Silakan tulisan Anda ke email:
[email protected]
“Mohon maaf, kami belum bisa memberikan honor
untuk penulis, karena majalah ini merupakan proyek ‘idealis’ yang modalnya ‘nol
koma nol’ alias zero cost,” tambah
Masboi.
Yohanes
’Masboi’ Widodo
Pemimpin
Umum/Sekjen PPI Belanda