FYI. Maaf jika terjadi penerimaa ganda.

 

Salam,

Ryz

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Idham Bachtiar Setiadi
Sent: 02 September 2009 7:51
To: [email protected]
Subject: RE: [IKA-UI] Fwd: [Ppia-canberra] Indonesia - Malaysia

 

  

Hi,
thanks Ded artikelnya. Semalem ketemu Gideon, Rudi Kipam, Yulizar di
acaranya A.B. Lapian. Ngobrol sedikit soal "inventarisasi" budaya. Tercetus
pemikiran, kalau kita pakai antropologi untuk ngeliatnya, urusan
klaim-mengklaim yang mau dibales inventarisasi dan pelestarian mestinya
persoalan cultural economics. Sesuatu menjadi berharga saat ditransaksikan
(dalam pengertian luas). Persoalannya, apa betul model transaksi yang pas
adalah pasar? Jangan juga cepat-cepat bilang: habis, di mana-mana juga sudah
begitu sih. Itu alasan pemerintah kolonial bikin katalog-katalog kebudayaan
untuk pameran-pameran World Expo akhir abad 19 hingga 1931 (yang memang
disebut Pameran Kolonial). Sudah jelas cultural economics-nya, kita juga
harus pikirkan moral economics. Apa tepat urusan tradisi (yang bisa
dibikin-bikin dan juga bisa berubah-ubah) dibakukan dengan inventarisasi.
Tarian baris Islam (begitu peneliti Belendrong menyebutnya tahun 30an) masih
ada di Borobudur, tapi timbul (30, 50, 70, 90an) dan tenggelam (40, 60, 80,
2000an) dengan nama Gatholoco (ingat suluk yang menghebohkan itu kan).
Rasanya bukan inventarisasi yang penting di sini, tapi upaya memahami. Lalu,
bagaimana mau memahami bila sulit melihat dan media (seperti kata Krisna)
bukan hanya tidak peduli, tapi cara membuat programnya bahkan bikin orang tv
sendiri sangat-sangat khawatir (koran dan majalah, ehem, juga sudah jauh
menurun dibandingkan waktu masih ada teror sensor Orde Baru. Nah lho!
Salam,
Idham Bachtiar Setiadi [email protected]




  _____  

To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Tue, 1 Sep 2009 10:53:39 +0800
Subject: [IKA-UI] Fwd: [Ppia-canberra] Indonesia - Malaysia




FYI with special attention to kerabat di BUD-PAR)
Dulu pak Budhi San bikin inventarisasi kebudayaan daerah (?) ke mana
gerangan nasibnya?

Salam,
Dedi

  
Artikel oleh Farid Gaban (dimuat di Koran Tempo Jumat 28 Agustus 2009)
 WARTAWAN, KINI SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN KELILING INDONESIA DALAM
EKSPEDISI ZAMRUD KHATULISTIWA (www.zamrud-khatulistiwa.or.id)

 Amarah kepada Malaysia berkaitan dengan "pencurian" khazanah seni dan
budaya Indonesia hanya mempertontonkan sikap kanak-kanak kita sebagai
bangsa. Emosi menggelegak atas kasus Manohara dan sengketa Ambalat,
misalnya, hanya menegaskan sikap rendah diri kita. Dan ini bukan sekali-dua
berlangsung. Narsisisme berlebihan dibarengi kecintaan semu belaka pada
hal-hal yang menyangkut identitas tradisional dan lokal negeri yang beragam
ini tidak akan menolong.

 Kita sendiri kurang peduli kepada khazanah kekayaan alam dan budaya.
Menjelajahi Sumatera selama dua bulan lebih, sebagai bagian dari Ekspedisi
Zamrud Khatulistiwa, saya menyaksikan banyak pulau tak terurus, khazanah
seni budaya tradisional punah perlahan-lahan dalam sunyi, serta sejarah yang
hilang jejak tanpa bekas ditelan ketidakpedulian.

 Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, hanya dijaga tiga serdadu
rendahan tanpa pekerjaan jelas. Jejak Portugis, yang pertama kali menemukan
pulau ini yang menyebutnya sebagai "pulau keliru" dalam bahasa mereka
(enggano), tak lagi bisa ditemukan. Budaya lokal hampir punah dihantui
kemiskinan kronis. Pertanian muram, nelayan tidak lagi menemukan ikan.

 Saya hampir tidak bisa lagi menemukan jejak sejarah Barus, Sumatera Utara,
kota pelabuhan tua yang namanya harum dalam catatan perjalanan pengelana
legendaris Marcopolo dan Ibnu Battuta. Terkenal dengan kapur barusnya, dia
juga merupakan salah satu pintu masuk agama Islam di Indonesia. Barus, atau
fanzur dalam bahasa Arab, terabadikan dalam nama pujangga sufi terkenal
Hamzah Fanzuri yang lahir di sini. Tapi, sekarang di dekat Lobo Tua (kota
tua), Makam Mahligai di perbukitan, makam para bangsawan, saudagar dan
ulama, hanya tersisa batu-batu berinskripsi Arab tak terurus. Hampir tidak
ada informasi bermakna di kota kecamatan ini. Kota yang hilang dan tersesat.

 Koto Tinggi, dekat Bukittinggi, seperti sebuah kota mati meski ini pernah
menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Hanya ada tugu
besar dan sebuah bangunan kecil tempat terpampang susunan kabinet Syafruddin
Prawiranegara. Bangunan kecil itu terlalu sederhana dan hanya bisa menjadi
tempat pemungutan suara dalam pemilu 2009 tempo hari.

 Rumah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, di Pandan Gadang, Kabupaten
Limapuluh Kota, lapuk dimakan rayap dan usia. Tidak ada biaya untuk
renovasi. Sebagian ruang menjadi sarang satu-dua burung walet. Cicit Tan
Malaka berharap penjualan sarang burung walet bisa membiayai salah satu
situs sejarah ini.

 Di Banda Aceh, saya bertemu dengan Tarmizi Ahmad, seorang pegawai negeri
yang punya hobi mengoleksi naskah kuno atas inisiatif dan biaya sendiri.
Sebagian koleksinya, yang berusia seabad-dua abad antara, lain buku karya
Nurruddin Ar-Raniry, hilang waktu tsunami. Dia tak bisa ikut Pameran
Kebudayaan Aceh yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agustus
lalu, karena tak bisa membayar stan, dan memutuskan memamerkan koleksinya di
rumah pribadi. Dia merasa lebih dihargai oleh pemerintah Malaysia,
Singapura, dan Brunei ketimbang pemerintah Indonesia maupun Aceh.

 Benteng Inong Balee, benteng laskar janda yang dipimpin Panglima Malahayati
pada abad ke-18, terbengkalai tak terurus meski menempati sebuah bukit
menghadap teluk yang indah tak jauh dari Kota Banda Aceh. Omo Hada, rumah
tradisional Nias di Hilinawalo Manzingo, kusam dan lusuh. Bangunan berusia
300 tahun ini merupakan adi-karya arsitektur tradisional dari kayu dan tahan
gempa. Penghuninya tak punya biaya untuk merawatnya. Bangunan ini masuk
daftar 100 situs kuno yang terancam punah versi World Museum Watch tahun
2000.

 Tengku Mohammad Fuad, salah satu ahli waris Kesultanan Riau di Pulau
Penyengat, mengeluhkan rendahnya kepedulian pemerintah kepada situs,
sejarah, dan khazanah sastra Melayu yang pernah berjaya di sini. Penyengat
merupakan mata air sastra dan bahasa Indonesia modern, salah satunya lewat
ketekunan Raja Ali Haji (1808-1873). Fuad masih menyimpan koleksi pribadi
surat-surat dagang kuno yang kini hanya dilapis plastik untuk mengurangi
laju kelapukan, antara lain kuitansi dan surat saham kepemilikan penambangan
timah di Johor, Malaysia, bertahun 1917. Meski makam, masjid, dan mushaf
Al-Quran abad ke-19 masih terawat bagus, Pulau Penyengat sudah kehilangan
sebagian besar jejak sebuah kesultanan Melayu terbesar. Ironi di tengah
ambisi Malaysia untuk menjadi pusat peradaban Melayu dunia di alam modern.

 Pengabaian terhadap khazanah budaya digenapi dengan ketidakpedulian kepada
khazanah alam yang potensial menjadi daya tarik wisata lingkungan
(ecotourism). Kepulauan Mentawai adalah salah satu paradoks. Kekayaan hayati
yang hebat, namun kemiskinan yang menyengat. Ini pulau yang dikenal dengan
banyak flora-fauna unik alias endemik, sering disebut sebagai Madagaskar-nya
Indonesia, mengilhami para ilmuwan dunia mencari konfirmasi teori evolusi
Charles Darwin. Taman nasional di Pulau Siberut, yang diproklamasikan oleh
UNESCO sebagai cagar biosfer warisan dunia, terbengkalai. Museum dan
kantornya rusak serta roboh tak diperbaiki setelah gempa besar 2007.

 Resor dan jasa wisata alam, seperti selancar dan trekking, di Mentawai
(Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), dan Simeulue (Aceh), lebih banyak
diminati oleh orang asing ketimbang investor lokal maupun pemerintah.
Belasan anggota kru sebuah televisi Prancis sedang membuat film tentang alam
dan budaya Siberut ketika saya sedang berkunjung ke sana, Juli lalu.

 Dan itu semua baru sebagian kecil saja kekayaan serta keragaman khazanah
alam, sejarah, seni dan budaya yang kita sia-siakan. Indonesia, negeri
kepulauan terbesar di dunia, tampak bodoh dan kerdil. Dilihat dari luar,
minimnya kepedulian, kurangnya informasi dan pengetahuan tentangnya,
menjadikan negeri ini sama muram dan kusamnya dengan Museum Bahari di
Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta.

 Rendahnya tingkat kepedulian dibarengi dengan miskinnya keterampilan
mengelola informasi dan dokumentasi. Informasi, dalam bentuk museum, buku,
dan produk multimedia, adalah tulang punggung bisnis wisata. Meski Internet
sudah demikian maju, demikian pula saluran komunikasi dan teknologi media,
kita masih keteteran mengurus hal ini. Dan Malaysia tahu benar kelemahan
Indonesia itu.

 Negeri-negeri kecil seperti Malaysia dan Singapura sadar persis tak
memiliki kekayaan alam dan budaya sekaya dan seberagam Indonesia. Mereka tak
perlu memiliki Indonesia, cukup menjadi beranda dan pintu gerbangnya. Mereka
menjadikan Indonesia sebagai "halaman belakang", atau dapur dari bisnis
wisata besar, sementara mereka menjadi koki dan pemilik restorannya.

 Emosi yang meledak-ledak, perang kata yang menggelora, caci-maki
kekanak-kanakan, tidak akan mengubah keadaan. Justru kita akan kelihatan
makin konyol. Lebih bagus jika energi sia-sia itu diubah menjadi gairah
untuk mengubah sikap kita dalam menghargai khazanah alam, budaya, dan
sejarah sendiri serta kemampuan untuk mengemasnya.
  

 

__._,_.

.

Image removed by sender.

 

____________________________________







 

  _____  

With Windows Live, you can organize, edit, and share your photos.
<http://www.microsoft.com/indonesia/windows/windowslive/products/photo-galle
ry-edit.aspx>  



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke