FYI

--- On Tue, 6/2/09, sulistyowati <su...@...> wrote:



All, Aduh, saya masih ter-bengong2 mengingat betapa tadi siang kami
pergi ke daerah kumuh, perkampungan nelayan di Kali Adem, Muara Angke.
Hanya 20 menit dari Pluit Mega Mall, yang benar2 megah dan tak
terkatakan mewahnya, dan lokasi perkampungan elit yang benar2 super
megah !   Rumah mereka berada di bantaran kali, tidak ada RT dan RW
(karena illegal). Sudah 4 kali mengalami penggusuran. Keluarga yang
tinggal (kembali lagi) sekitar 149 keluarga, inilah yang menjadi fokus
penelitian saya. Para lelaki adalah nelayan, sehingga tempat ini disukai
untuk tinggal, dekat dengan laut, dan dekat dengan Tempat Pelelangan
Ikan.
Rumah mereka (lebih tepat bedeng, terbuat dari papan2 bekas), tidak
permanen, didirikan di atas tumpukan sampah, dan hampir setiap hari
banjir dari air laut (rob). Karena terdiri dari papan2 bekas, bisa2
tiba2 ada yang kejeblos, dan kalau kejeblos masuk ke air kotor, yang ada
di bawah rumah. Rumah mereka dikelilingi air kotor dari banjir rob (air
laut pasang). Warna air hitam dan kotor bercampur sampah. Daan..tentulah
termasuk sampah pembuangan kotoran manusia...

Dan di air yang tergenang  itulah kami berjalan menyusuri rumah demi
rumah, untuk sampai ke "balai pertemuan" lebih tepatnya, tempat
pertemuan publik,  tempat  mereka berkumpul, dan sering juga berfungsi
sebagai mushola. Terbuat dari papan2 bekas juga. Sangat sempit, (4 x 2,5
meter ?) utk disebut sebagai balai pertemuan.

(Catatan: Dan ketika jalan di air rob menyusuri rumah2 itu, isi perut
rasanya ingin keluar, karena kotor dan mencium bau tidak enak... Yang
aku lakukan bersama teman2 adalah jangan lihat airnya, jangan lihat
kakimu yang  terendam di air kotor...mendongak ke atas...jalan
terus...jalan terus..)

Saya dua kali pergi ke tempat ini. Sementnara teman2 saya sudah
melakukan penelitian tahun yang lalu. Dan ada teman2 saya yang
mendampingi mereka, yaitu LBH Masyarakat, terutama Sdr Dhoho Sastro.
Oleh karena ada Dhoho dkk, maka kami bisa masuk ke tempat ini dengan
mudah. Artinya, diterima. Dhoho lah yang mengajari mereka membuat
pemerintahan sendiri (karena tidak ada RT dan RW), memiliki koperasi
simpan pinjam di antara mereka, mengajari pembukuan sang bendahara,
mengajari punya tabungan kolektif untuk menghadapi penggusuran. Gila,
anak muda itu hebat sekali !
Tadi siang di "balai pertemuan" bekrumpul lebih dari 20 perempuan, di
antaranya ada yang bersma bayi dan anak2nya... Gambaran umum perempuan
di situ:

    * Perempuan pada umunya kawin muda, umur 13, 15 atau 17 tahun     *
Punya anak dua atau lebih     * Umur 40 an sudah punya cucu     *
Bekerja di sektor informal, jualan kecil atau menjadi PRT, menjadi
penopang besar bagi penghasilan suami yang tidak jelas hasilnya dari
laut
Teori2 Access to Justice  runtuh ! Mereka punya surat lahir anak2nya,
yang dikeluarkan oleh puskesma  (bukan Akte Lahir, karena mahal), KTP
(bahkan banyak yang punya dua, dari desa asal dan dari Jakarta..dengan
cara
"menembak", yang cukup mahal 200 ribu sampai 400 ribu). Mereka juga bisa
menyekolahkan anak dan kalau sakit ke puskesman (Sekoah dan Puskesman)
sangat dekat dari tempat tinggal mereka.
Di sinilah runtuhnya teori2 Acces to justice ! yang antara lain
dipromosikan oleh Hernando de Soto
Mereka punya hampir semua legal identity itu... tetapi mengapa mereka
miskin ?  Mencari ikan hari ini untuk makan hari ini
Tidak punya apa2, kecuali sedikit baju, perabotan alat masak
Perahu untuk mencari ikan, disewa dari taoke
Dan mereka hidup di tempat yang tidak bisa dibayangkan. ..mungkin itulah
neraka dunia ! Dan mereka tidak pernah didengar, tidak pernah
ditanggapi, tidak pernah
diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkat
kebijakan... .
(Ini juga meruntuhkan konsep2 ttg kemiskinan.. .yang terlalu berat ke
soal ekonomi, 2 dolar sehari, dll)
Penelitian (Post Doc) saya sebenarnya adalah ttg waris. Hancur lebur !
Tidak bisa bicara soal waris, karena mereka tidak punya apa2. Konsep
waris yagn digagas oleh para ahli hukum, dan hukum adat, juga hancur
lebur dalam konteks kemiskinan ! .Mereka tidak
punya apa2 untuk warisan... ! Mungkin waris dalam pengertian
non-material: daya tahan hidup, semangat2, harapan2 ! PAra perempuan itu
ingin punya anak2 yang tidak mengalami nasib seperti mereka.  Itukah
warisan nya ?   Wah, maaf, cerita ini cuma catatan2 yang tidak
karuan...nanti kalau sudah jadi dalam bentuk tulisan,  boleh baca.   
Salam, SI

Kirim email ke