...sedih...

...sudah sekian puluh tahun kaki ini melangkah... masih banyak beredar
kacamata jadul...
...sehingga sehingga masih ada yang kejeblos...
...gimana ga sedih...hari gini....

salam,
ATA


2009/9/10 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Pak ATA, kok sedih ? Bagian mana yang disedihkan ? Apakah bukan sudah jamak
> lumrah jika suatu teori terus diperbaiki oleh para ilmuwannya ? Ilmuwan juga
> manusia. Tentu saya bukan terus "ikut senang" sebab ada orang lain yang
> kurang tepat menemukannya lho hehehe....kan itu peluang untuk memantapkan
> teori atau justru celah untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut ?...dengan
> sikap intelektual yang lebih tajam dan mapan ya. Mohon pencerahan Pak.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Thu, 9/10/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>*wrote:
>
>
> From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian saya
> hari ini
> To: [email protected]
> Date: Thursday, September 10, 2009, 9:30 AM
>
>
>
> Rekans juga,
>
> Kadang juga karena kacamatanya sebelumnya hanya memfokus ke obyek tertentu
> (sesuai contoh asalnya) hingga lupa ada obyek (atau subyek lain) maupun
> konsep lokal lain yang sudah lama mengarah ke obyek (subyek) yang baru
> disadarinya eksis selama ini. Ikut sedih.
>
> Salam,
> ATA
>
> 2009/9/6 Achmad Djunaedi <achmaddjunaedi@ 
> yahoo.com<http://mc/[email protected]>
> >
>
>>     Rekan-rekan,
>>
>> Salam kenal, saya rekan kerja Pak Djarot....pingin nimbrung menyumbang
>> komentar dari sisi yg berbeda.
>>
>> Salah satu, menurutku, yg bisa menjelaskan hal yg kita diskusikan ini
>> adalah "hubungan antara fokus dan konteks" (dengan kata lain "hubungan
>> antara sistem dengan supersistem"); artinya suatu teori/konsep (misal: teori
>> access to justice) dulunya dibangun dari suatu konteks (supersystem)
>> tertentu, maka bilamana konteksnya berubah (misal: dari negara maju ke
>> negara berkembang, apalagi ke permukiman informalnya) , maka teori/konsep
>> tersebut perlu diperbarui. Jadi menurutku bukan karena dulu pake pendekatan
>> rasional atau apapun.... Hanya karena konteksnya berubah, mk teori/konsepnya
>> perlu di-update utk konteks yg baru tsb...
>>
>> Beda dgn teori/konsep2 fisika, yg umumnya konteksnya jarang berubah
>> (karena lebih exact), kecuali bila teorinya dibawa ke permukaan bulan (yg
>> gravitasinya beda dg di bumi).
>>
>> Sekedar urun rembug saja....mungkin tdk tepat...
>> Salam,
>> Achmad Djunaedi
>>
>>
>> --- Pada *Ming, 6/9/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. 
>> com<http://mc/[email protected]>
>> >* menulis:
>>
>>
>> Dari: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. 
>> com<http://mc/[email protected]>
>> >
>> Judul: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian saya
>> hari ini
>> Kepada: refere...@yahoogrou 
>> ps.com<http://mc/[email protected]>
>>
>> Tanggal: Minggu, 6 September, 2009, 6:20 PM
>>
>>   Pak ATAm Ibu Sulis dan rekan2,
>>
>> Dongeng Ibu Sulis dan komentar Pak ATA menggugah saya untuk ikut
>> berkomentar, bahwa teori-teori yang berkembang selama ini kadang perlu dicek
>> lagi kebenarannya dengan fenomena empiris yang ada di lapangan. Jika teori
>> tersebut dibangun dengan cara pandang yang rasionalistik, misalnya, maka
>> menurut filsafat ilmu kan memiliki keterbatasan sebab hanya menggunakan
>> kacamata yang tertuju pada fenomena tangible. Jika kita coba verifikasi
>> dengan sedikit kreatif, dengan menggunakan paradigma lain pada tema kajian
>> yang sama, tentu akan menemukan teori yang berbeda....bisa saja akan
>> menggugurkan teori sebelumnya, seperti pengalaman Ibu Sulis. Apakah begitu
>> ya ?
>>
>> Salam,
>>
>> Djarot Purbadi
>>
>> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
>> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>>
>> --- On *Sun, 9/6/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>*wrote:
>>
>>
>> From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
>> Subject: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian saya
>> hari ini
>> To: refere...@yahoogrou ps.com
>>
>> Date: Sunday, September 6, 2009, 5:22 PM
>>
>>   Semoga planner kita yang lain tidak ada yang terkejut-kejut ...
>> ....karena sebelumnya belum pernah ketempat-tempat seperti yang
>> disampaikan Sulis.
>>
>> Mbak Sulis, itu hanya sebagian sangat kecil dari masyarakat kita yang
>> sebagian besar memang hidup dalam tantangan serupa itu, .....yang seringkali
>> di"lupa"kan sebagai dasar pertimbangan utama pembangunan (peningkatan
>> kualitas hidup) yang kita upayakan (termasuk melalui "penataan ruang"...?),
>> ....apalagi di daerah yang tidak termasuk ibukota negara ini...
>> Bahkan kalau anda ke pedalaman, anda akan terkejut lagi...antara lain
>> setelah sekian jam perjalanan, sekian kilometer jalan kaki mendaki
>> gunung...istirahat dan diharuskan makan atau hingga bermalam dahulu oleh
>> kepala dusun setempat...biar kuat ....naik lagi sekian jam...anda menemukan
>> komunitas lokal yang hidup bersama alam, sengaja tidak ingin aksesnya
>> diperbaiki agar dapat hidup lebih "sejahtera". ...dan... .
>> ternyata disana anda menemukan beberapa ahli dari berbagai negara
>> lain...baik Barat maupun Timur....yang sudah lama mengenal, atau "hidup"
>> bersama mereka ....untuk kepentingan penelitian atau dalam rangka
>> mengumpulkan bahan s3 nya........dan
>> ...pejabat kita di kota terdekat (apalagi terjauh seperti Jakarta)
>> ...tidak tahu tentang itu...
>> bahkan kadang kala info awalnya juga semula didapat dari peneliti asing...
>>
>> Semoga yang lebih muda mamu menghilangkan kesenjangan dan keterasingan
>> ini....
>>
>> Salam,
>> ATA
>>
>> 2009/9/4 ffekadj <4ek...@gmail. com>
>>
>>>    FYI
>>>
>>> --- On *Tue, 6/2/09, sulistyowati <su...@...>* wrote:
>>>
>>>   All,
>>> Aduh, saya masih ter-bengong2 mengingat betapa tadi siang kami pergi ke
>>> daerah kumuh, perkampungan nelayan di Kali Adem, Muara Angke. Hanya 20 menit
>>> dari Pluit Mega Mall, yang benar2 megah dan tak terkatakan mewahnya, dan
>>> lokasi perkampungan elit yang benar2 super megah !
>>>  Rumah mereka berada di bantaran kali, tidak ada RT dan RW (karena
>>> illegal). Sudah 4 kali mengalami penggusuran. Keluarga yang tinggal (kembali
>>> lagi) sekitar 149 keluarga, inilah yang menjadi fokus penelitian saya. Para
>>> lelaki adalah nelayan, sehingga tempat ini disukai untuk tinggal, dekat
>>> dengan laut, dan dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan.
>>>  Rumah mereka (lebih tepat bedeng, terbuat dari papan2 bekas), tidak
>>> permanen, didirikan *di atas tumpukan sampah*, dan hampir setiap hari
>>> banjir dari air laut (rob). Karena terdiri dari papan2 bekas, bisa2 tiba2
>>> ada yang kejeblos, dan kalau kejeblos masuk ke air kotor, yang ada di bawah
>>> rumah. Rumah mereka dikelilingi air kotor dari banjir rob (air laut pasang).
>>> Warna air hitam dan kotor bercampur sampah. Daan..tentulah termasuk sampah
>>> pembuangan kotoran manusia...
>>>
>>> Dan di air yang tergenang itulah kami berjalan menyusuri rumah demi
>>> rumah, untuk sampai ke "balai pertemuan" lebih tepatnya, tempat pertemuan
>>> publik, tempat mereka berkumpul, dan sering juga berfungsi sebagai mushola.
>>> Terbuat dari papan2 bekas juga. Sangat sempit, (4 x 2,5 meter ?) utk disebut
>>> sebagai balai pertemuan.
>>>
>>> (Catatan: Dan ketika jalan di air rob menyusuri rumah2 itu, isi perut
>>> rasanya ingin keluar, karena kotor dan mencium bau tidak enak... Yang aku
>>> lakukan bersama teman2 adalah jangan lihat airnya, jangan lihat kakimu yang
>>> terendam di air kotor...mendongak ke atas...jalan terus...jalan terus..)
>>>
>>> Saya dua kali pergi ke tempat ini. Sementnara teman2 saya sudah melakukan
>>> penelitian tahun yang lalu. Dan ada teman2 saya yang mendampingi mereka,
>>> yaitu LBH Masyarakat, terutama Sdr Dhoho Sastro. Oleh karena ada Dhoho dkk,
>>> maka kami bisa masuk ke tempat ini dengan mudah. Artinya, diterima. Dhoho
>>> lah yang mengajari mereka membuat pemerintahan sendiri (karena tidak ada RT
>>> dan RW), memiliki koperasi simpan pinjam di antara mereka, mengajari
>>> pembukuan sang bendahara, mengajari punya tabungan kolektif untuk menghadapi
>>> penggusuran. Gila, anak muda itu hebat sekali !
>>>
>>> Tadi siang di "balai pertemuan" bekrumpul lebih dari 20 perempuan, di
>>> antaranya ada yang bersma bayi dan anak2nya...
>>> Gambaran umum perempuan di situ:
>>>
>>>     - Perempuan pada umunya kawin muda, umur 13, 15 atau 17 tahun
>>>       - Punya anak dua atau lebih
>>>       - Umur 40 an sudah punya cucu
>>>       - Bekerja di sektor informal, jualan kecil atau menjadi PRT,
>>>       menjadi penopang besar bagi penghasilan suami yang tidak jelas 
>>> hasilnya dari
>>>       laut
>>>
>>> Teori2 Access to Justice runtuh ! Mereka punya surat lahir anak2nya, yang
>>> dikeluarkan oleh puskesma (bukan Akte Lahir, karena mahal), KTP (bahkan
>>> banyak yang punya dua, dari desa asal dan dari Jakarta..dengan cara
>>> "menembak", yang cukup mahal 200 ribu sampai 400 ribu). Mereka juga bisa
>>> menyekolahkan anak dan kalau sakit ke puskesman (Sekoah dan Puskesman)
>>> sangat dekat dari tempat tinggal mereka.
>>> Di sinilah runtuhnya teori2 Acces to justice ! yang antara lain
>>> dipromosikan oleh Hernando de Soto
>>> Mereka punya hampir semua legal identity itu... tetapi mengapa mereka
>>> miskin ?
>>> Mencari ikan hari ini untuk makan hari ini
>>> Tidak punya apa2, kecuali sedikit baju, perabotan alat masak
>>> Perahu untuk mencari ikan, disewa dari taoke
>>> Dan mereka hidup di tempat yang tidak bisa dibayangkan. ..mungkin itulah
>>> neraka dunia !
>>> Dan mereka tidak pernah didengar, tidak pernah ditanggapi, tidak pernah
>>> diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkat
>>> kebijakan... .
>>> (Ini juga meruntuhkan konsep2 ttg kemiskinan.. .yang terlalu berat ke
>>> soal ekonomi, 2 dolar sehari, dll)
>>>
>>> Penelitian (Post Doc) saya sebenarnya adalah ttg waris. Hancur lebur !
>>> Tidak bisa bicara soal waris, karena mereka tidak punya apa2. Konsep waris
>>> yagn digagas oleh para ahli hukum, dan hukum adat, juga hancur lebur dalam
>>> konteks kemiskinan ! .Mereka tidak
>>> punya apa2 untuk warisan... ! Mungkin waris dalam pengertian
>>> non-material: daya tahan hidup, semangat2, harapan2 ! PAra perempuan itu
>>> ingin punya anak2 yang tidak mengalami nasib seperti mereka. Itukah warisan
>>> nya ?
>>>  Wah, maaf, cerita ini cuma catatan2 yang tidak karuan...nanti kalau
>>> sudah jadi dalam bentuk tulisan, boleh baca.
>>>  Salam,
>>> SI
>>>
>>>
>>
>>
>> ------------------------------
>> Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang
>> Lebih Cepat hari ini! <http://id.mail.yahoo.com>
>>
>
>
>  
>

Kirim email ke